Want My Wife

Want My Wife
Bab. 20



Jarum jam berputar dengan cepat. Tidak terasa hari sudah pagi lagi. Stella tidak bisa tidur sejak kejadian semalam. Begitu juga dengan Alby. Mereka sama-sama terjaga sepanjang malam walau di tempat yang berbeda. Alby di atas tempat tidur sedangkan Stella di sofa.


Jam sarapan dan minum obat telah tiba. Stella yang terlihat malas bangkit dari sofa masih berbaring sambil melamun. Bahkan karena terlalu serius memikirkan masalah tadi malam, sampai-sampai wanita itu tidak tahu kalau Alby sudah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekatinya.


"Stella, apa kau masih tidur?"


Stella mengeryitkan dahi sebelum duduk. Wanita itu melihat ke arah jendela sejenak sebelum menjawab pertanyaan Alby. "Kau sudah bangun? Apa kau mau ke kamar mandi?"


Alby menggeleng. "Aku bisa melakukannya sendiri. Aku mengkhawatirkanmu."


"Aku baik-baik saja. Jika kau tidak ingin ke kamar mandi, aku akan ke kamar mandi untuk cuci muka." Stella beranjak dari sofa. Dari mata wanita itu Alby bisa tahu kalau Stella tidak tidur semalaman. Ketika Stella lewat di hadapannya, Alby segera menarik tangan Stella dan memangku wanita itu.


"Apa yang kau lakukan?" protes Stella.


"Apa kau sakit? Bibirmu sangat pucat."


"Tidak!" sangkal Stella.


"Apa kau memikirkan Gavin? Kau menyesal karena tidak ikut dia tadi malam?" Nada bicara Alby meninggi menandakan kalau pria cemburu.


"Tidak!" ketus Stella.


Alby yang geram tiba-tiba saja mendaratkan bibirnya di bibir Stella. Stella marah dan menolak keras ciuman suaminya. Namun, tenaganya sangat tidak sebanding. Stella kalah ketika Alby menidurkannya di atas sofa dan menindinya. Stella bisa saja menendang suaminya. Namun dia tahu Alby sedang sakit.


PLAAKKKK


Sebuah tamparan mendarat di pipi Alby ketika wanita itu mendapat celah untuk melayangkan tangannya. Alby yang masih cemburu justru lanjut mengunci bibir istrinya. Dia memiliki istrinya dengan sangat kasar. Alby selalu saja cemburu walau istrinya hanya memikirkan Gavin.


"Gavin, hmmm... lepas."Stella menyingkirkan kepalanya tetapi gagal. Gavin justru mencium bibir itu semakin dalam dan intens. Stella terdiam dan pasrah. Kedua matanya terpejam. Lama kelamaan justru Stella mulau merasakan perasaan Gavin. Bukan marah justru Stella kasihan. Alby yang merasa ada yang aneh dengan Stella segera melepas cumbuannya. Pria itu menatap wajah Stella dari dekat dengan napas yang memburu cepat.


"Apa kau sudah puas? Jika sudah menyingkirlah!" ketus Stella.


Alby menggeratkkan giginya. "Belum!" sahutnya. Pria itu ingin mencium Stella lagi. Tetapi Stella segera memiringkan wajahnya ke samping.


"Alby, apa yang kau inginkan? Kenapa kau jadi seperti ini?"


"Aku cemburu Stella. Aku cemburu jika di dalam pikiranmu ini ada nama dia!" sahut Alby.


"Aku tidak memikirkan dia!" sangkal Stella.


"Bohong! Kau memikirkannya semalaman sampai kau tidak tidur bukan?"


"Aku memikirkanmu!" Stella memandang wajah Alby. "Memikirkan perasaanmu. Apa jadinya pria baik sepertimu jika terus di sakiti? Apa kau juga akan berubah menjadi pria jahat seperti Gavin?"


Alby terdiam mendengar jawaban Stella. Pria itu membenarkan posisi duduknya. Dia memandang ke jendela. "Kau benar-benar ingin meninggalkanku? Apa tidak ada sedikit saja rasa untukku? Walau untuk dia 90 %. Sisakan untukku 10 % saja. Beri aku kesempatan maka aku akan menjadikan 10 % itu menjadi 100%."


Stella juga duduk. Wanita itu memegang kepalanya yang terasa pusing. "Kau sudah tahu konsekuensinya menikah denganku sejak awal. Kenapa kau masih mau melajutkan semuanya?"


"Stella. Sekali saja. Beri aku kesempatan satu kali saja. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku yakin aku akanm berhasil."


"Sekali saja. Aku mohon." Alby memegang tangan Stella. "Kau harus menjalani peranmu menjadi seorang istri. Aku yakin kau pasti bisa menerimaku sebagai suamimu," ucap Alby dengan wajah memohon. Sebenarnya setelah melihat sifat Gavin tadi malam, Stella mulai ragu dengan cintanya. Dia takut berpacaran dengan seorang pembunuh seperti Gavin. Memiliki musuh dimana-mana. Kapan saja nyawanya bisa melayang karena ada banyak orang yang ingin balas dendam. Tetapi, membuka hatinya untuk Alby rasanya tidak mungkin. Apa lagi selama ini Stella justru berniat ingin menjahui Alby dan berpisah dari pria itu.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Layani aku sebagai suamimu," jawab Alby mantap.


Stella terpelongo mendengarnya. "Apa?" tanyanya tidak percaya.


"Apa yang kau pikirkan? Layani aku sebagai suamimu. Dalam waktu 100 hari Stella. Aku akan membawamu pindah dari rumah. Kita akan menginap di sebuah apartemen dekat perusahaanku. Aku akan membayar penjaga agar Gavin tidak bisa sembarangan menemuimu. Kau hanya perlu mendalami peranmu sebagai seorang istri selama 100 hari. Jika di hari ke 100 hubungan kita masih sama seperti sekarang ini. Masih belum ada rasa cinta sedikitpun di dalam hatimu, maka aku akan mengurus surat cerainya."


Stella seperti sedang mempertimbangkan permintaan Alby. Namun, dia juga lelah hidup tanpa cinta seperti ini. "Baiklah. Tapi, ada satu syarat yang harus kau penuhi."


"Apa? Aku tidak akan setuju jika kau menolak untuk di sentuh."


"Aku minta kau bisa bahagia melepasku nanti. Aku tidak mau membuat seorang pria menjadi jahat karena sakit hati."


Alby mengusap lembut pipi Stella. "Baiklah Tuan Putri."


Stella dan Alby sama-sama memandang ke arah pintu ketika seseorang masuk ke dalam. Stella menghela napas panjang ketika melihat pria yang masih adalah dokter yang tadi malam memeriksa Alby.


"Aku mau ke kamar mandi," pamit Stella.


Alby mengangguk. Dia memandang bawahannya itu sejenak sebelum duduk bersandar. "Kerja bawahanmu memang tidak pernah diragukan. Aku kagum dengannya. Lain kali, pertemukan aku dengan sniper yang selalu melindungiku secara diam-diam itu. Aku akan memberinya sebuah hadiah yang sangat menarik."


"Sniper?" Pria itu segera duduk di hadapan Alby. "Apa maksud anda, Tuan?"


Alby juga terlihat bingung mendengarnya. "Tadi malam. Bukankah orang yang menembak kaca dan melindungiku dari serangan Gavin adalah sniper bayaranmu?"


"Tuan, justru saya tidak tahu kalau tadi malam anda di serang. Saya juga tidak tahu kalau ada sniper yang melindungi anda tadi malam. Pagi ini saya ingin memberi tahu kalau sniper yang biasa melindungi anda tewas kecelakaan. Sekarang saya ingin meminta pendapat anda untuk memilih sniper yang baru."


"Apa? Lalu siapa yang sudah melindungiku tadi malam?"


Pria itu hanya menggeleng tidak tahu. "Anda yakin dia melindungi anda? Atau jangan-jangan dia hanya salah sasaran saja?"


"Aku yakin dia melindungiku. Apa mungkin orang itu adalah musuh Gavin?"


"Sejauh ini saya tidak bisa menebak-nebak, Tuan.Saya akan melakukan penyelidikan." Pria itu memandang tangan Alby yang sudah tidak memakai jarum infus lagi. "Apa anda sudah benar-benar sembuh, Tuan?"


"Ya. Aku ingin pulang hari ini. Aku ingin membawa Stella ke apartemen. Kami akan tinggal di sana selama 100 hari."


"Hanya 100 hari?"


"Ya. Persiapkan penjagaan di sana. Aku tidak mau sampai Gavin berhasil membawa Stella pergi dariku."


Pria itu mengangguk. "Baiklah Tuan. Saya akan segera laksakan."