
"Istirahatlah. Dokter bilang kau harus di rawat selama beberapa hari," perintah Stella kepada Alby. Stella memeriksa ponselnya berharap Gavin tidak muncul lagi secara mendadak.
"Baiklah." Alby lebih banyak diam. Dia segera memejamkan mata dan istirahat. Tidak banyak gerak agar cairan infus yang tertancap di punggung tangannya tetap lancar.
"Seharusnya aku tidak ikut tadi. Tapi, apa jadinya kalau aku tidak ikut? Bisa-bisa anak buah Gavin tidak hanya sekedar menghajarnya. Tetapi juga membunuhnya," gumam Stella di dalam hati. Stella melangkah ke arah sofa untuk mengambil tasnya yang tergeletak di sana. Suara pintu terbuka membuatnya berhenti.
"Siapa yang datang?" gumamnya di dalam hati Kedua matanya melebar ketika memandang ke arah pintu dan menemukan Gavin berdiri di sana. Pria itu berjalan mendekatinya tanpa peduli ada Alby yang sedang di rawat di dalam ruangan tersebut.
"Gavin, apa yang kau lakukan?" Stella memandang ke arah Alby yang masih memejamkan mata. Dia cepat-cepat berlari menghampiri Gavin dan menyeret pria itu untuk keluar. "Ikut aku!" Stella tidak mau sampai Alby melihat kemunculan Gavin di rumah sakit tersebut. Setelah tiba di depan ruangan, Stella menutup kembali pintu ruangan itu. Dia membawa Gavin menjauh dari ruangan tempat Alby dirawat agar pria itu tidak bisa mendengar obrolan mereka.
"Gavin, kenapa kau bisa ada di sini?" Stella memandang ke pintu sekali lagi sebelum memandang Gavin. "Apa kau gila? Apa yang sudah kau pikirkan!"
"Kau selalu bertanya kenapa kenapa kenapa dan kenapa. Apa tidak bisa kau langsung memelukku ketika bertemu denganku seperti yang biasa kau lakukan?" protes Gavin kesal. "Atau menciumku seperti dulu?"
"Gavin, apa kau-"
"Apa Stella?" potong Gavin cepat. "Apa kau mau bertanya kenapa aku mengirim orang untuk menghajar pria brengsek itu? Jika memang kau ingin bertanya apa alasanku, dengan mudah aku akan menjawab kalau aku sangat membencinya. Aku tidak suka melihat dia bahagia. Apa lagi bersamamu. Apa itu salah?"
"Ya. Kenapa juga kau harus mengirim orang untuk memukulnya? Kau sudah tahu kalau dia bukan lawan yang seimbang untukmu. Kenapa kau harus melakukan ini kepadanya?" Nada bicara Stella tetap di jaga agar tidak ada yang dengar.
"Kau membelanya honey?" Wajah Gavin terlihat sedih. "Apa kau sudah mulai tertarik padanya? Hemm?"
"Aku tidak sedang membelanya tetapi aku sedang memperingatimu. Aku tidak mau kau menjadi seorang pecundang, Gavin. Menyerang pria lemah tidak membuatmu terlihat hebat." Stella memegang pipi Gavin agar pria itu tidak salah paham. "Biarkan semua mengalir apa adanya. Aku juga sedang memikirkan cara untuk berpisah darinya. Jika kau seperti ini, itu hanya akan membuat Alby semakin posesif denganku. Jika dia posesif, aku bahkan tidak bisa bertemu denganmu lagi."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa mendapatkanmu kembali? Aku sudah cukup muak melihat kebersamaan kalian." Gavin memegang tangan Stella dan mengecupnya. "Kembalilah padaku Honey. Kita akan bersama lagi seperti dulu."
Stella hanya bisa diam. Dia sendiri juga tidak tahu sampai kapan dia dan Gavin seperti ini. Sampai kapan juga Alby mempertahankan pernikahan mereka.
"Honey ... I love you." Suara Gavin serak. Pria itu terlihat sangat sedih. Dia sangat merindukan kekasihnya. Perpisahan ini sungguh menyesakkan dada.
Gavin tidak sempat lagi melihat ke belakang. Pria itu percaya dengan apa yang diucapkan oleh kekasihnya. "Aku akan kembaki." Stelah mendaratkan kecupan di pucuk kepala Stella, Dia segera berlari untuk kabur. Tidak lupa Gavin melayangkan satu tembakan untuk membuat suasana menjadi kacau agar semua pasien di rumah sakit keluar. Dengan penuhnya koridor, Maja Gavin memiliki banyak kesempatan untuk kabur.
DUARRR
"Berhenti!" teriak polisi yang mengejar.
"No!" Stella menunduk ketakutan. Dia berjongkok dan menutup kedua telinganya. "Kenapa sampai seperti ini? Bagaimana kalau dia tertembak?" gumam Stella masih dengan kepala menunduk.
"Nona, anda baik-baik saja?" Seorang polisi wanita menghampiri Stella. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya Stella adalah kekasih buronan mereka. Mereka berpikir, target mereka sedang berbicara sesuatu dengan Stella.
"Aku baik-baik saja," jawab Stella ketakutan. "Apa yang terjadi pada pria tadi? Apa dia seorang penjahat? Aku baru saja bicara dengannya." Rasanya napasnya hilang setelah mendengar tembakan dan dikerumuni polisi seperti ini.
"Ya, dia buronan. Apa dia ada melukai anda Nona? Apa dia ada mengancam anda? Anda baik-baik saja kan?" Polisi itu terlihat khawatir.
"Ya, Aku baik-baik saja."
"Apa yang anda lakukan di sini Nona?" tanya polisi itu lagi. Dia juga ingin tahu, sebenarnya Stella ini beneran kenal dengan Gavin atau tidak.
"Suami saya ada di dalam." Stella menunjuk ruangan tempat Alby di rawat. "Apa bisa saya pergi untuk menemui suami saya? Saya ketakutan. Ini pertama kalinya saya mendengar suara tembakan."
"Tentu saja Nona. Silahkan." Polisi itu memberi jalan tanpa mau mempersulit Stella lagi. lalu setelahnya polisi itu mengikuti rekan mereka yang kini masih mengejar Gavin.
Stella memandang polisi-polisi itu lagi sebelum masuk ke dalam ruangan. "Gavin, Aku harap kau berhasil lolos dari kejaran polisi itu. Aku tidak mau kau tertangkap dan membusuk di dalam penjara," gumamnya di dalam hati.
Polisi wanita itu mengejar rombongannya untuk menangkap Gavin.