
Alby berdiri di depan jendela kamar sambil memandang pemandangan kota di malam hari. Kopi yang tadi dibuat oleh Stella menjadi temannya saat itu. Sedikit demi sedikit dia menyeruput kopi buatan istri tercintanya. Entah rencana apa yang sudah ia siapkan malam ini. Yang pasti dia akan membuat Gavin menyesal karena sudah berani menantangnya.
"Kenapa dia lama sekali? Apa dia tidak mau memakai gaunnya?" ucap Alby dengan penuh kecemasan. Dia menyeruput lagi kopi panas tersebut sebelum mengukir senyuman indah. "Tetapi, walaupun dia tidak mau mengenakan gaun itu malam ini. Setidaknya dia sudah mau bersikap manis padaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan 100 hari yang aku miliki."
"Alby...."
Alby menghentikan aktivitasnya. Dia memutar tubuhnya untuk memandang wanita yang ia cintai.
"Stella?" Kedua matanya masih memandang dengan tatapan tidak percaya. Ulang tahun yang tadinya ia pikir akan berjalan biasa-biasa saja, kini akan terasa luar biasa. Stella berdiri di sana dengan mengenakan gaun tidur yang sudah ia pesan. Wanita itu terlihat sangat cantik. Yang pasti dia juga seksi dan menggoda.
Stella melangkah perlahan mendekati Alby. Wanita itu terlihat malu-malu memperlihatkan tubuh mulusnya. Namun, dia berusaha tetap berani. "Apa yang kau lihat?" Walau masih ada nada galak yang terdengar, tetapi justru itu membuat Stella terlihat menggemaskan.
"Kau sangat cantik Stella."
Alby meletakkan kopi itu di meja. Dia mengulurkan tangannya. Musik yang sejak tadi ia putar kini ia tambah volumenya. Alby juga mengganti lampu kamar mereka dengan lampu yang sedikit temaram. Pria itu telah berhasil menciptakan suasana romantis di kamar tidurnya. Lampu-lampu dan bintang-bintang yang terlihat di luar jendela menyempurnakan segalanya.
"Selamat ulang tahun," ucap Stella.
"Tidak sekarang. Tapi nanti malam," jawab Alby. Dia menarik pinggang Stella dan memeluknya dengan erat. Menatap wanita itu dalam-dalam. Sesekali dia melirik camera cctv yang sudah dalam posisi menghadap ke mereka berdua.
"Kalau begitu, aku tidak perlu mengenakan gaun ini sekarang."
"Sttt. Berhentilah bicara. Aku ingin menikmati wajah cantik istriku tanpa di protes oleh siapapun. Apa boleh?" bisik Alby dengan mesra.
Alby tertawa geli. "Aku mencintaimu Stella."
Stella masih belum bisa menjawab pertanyaan Alby. Wanita itu justru memalingkan wajahnya. "Aku hanya tidak mau kau kecewa Alby."
"Tidak Stella. Aku tidak kecewa walaupun di hari ke 100 nanti kau belum bisa mencintaiku. Walau hanya 100 hari, tetapi aku sudah cukup bahagia karena sudah mendapatkan perhatian dan kasih sayang darimu." Alby mengusap pipi Stella dengan lembut dan penuh perasaan. "Kita dansa ya?"
Stella mengukir senyum dan mengangguk. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Alby. "Tapi aku tidak pandai berdansa."
"Kita tidak sedang berlomba. Lakukan gerakan senyamanmu saja. Aku tidak akan marah atau menilai jelek."
Stella mengangguk pelan. "Baiklah," jawabnya pelan. "Mari kita berdansa Tuan."
"Baik, Nona." Alby mengecup punggung tangan Stella yang ada di genggamannya. "Selain berdansa, ada hal lain yang akan kita lakukan setelah ini. Apa kau sudah siap sebelum memutuskan mengenakan gaun ini?"
Ini pertanyaan yang berat untuk di jawab. Dia tidak sanggup berkata setuju namun menolak juga tidak mungkin.
"Masih ada waktu untuk berubah pikiran," ucap Alby. Dia tidak mau sampai bercinta dengan wanita yang merasa keberatan.
Stella menghela napas agar kembali tenang. "Aku sudah siap," jawabnya mantap.
Alby tersenyum bahagia. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."