Want My Wife

Want My Wife
Bab. 8



Alby kesulitan untuk konsentrasi melajukan mobilnya. Pria itu terus saja memikirkan video yang tadi ada di ponselnya. Hatinya terluka. Dia cemburu. Dia tidak rela sampai istrinya di cumbu dengan mesra oleh pria lain. Walaupun pria itu adalah orang yang mungkin sangat dicintai istrinya. Alby berusaha untuk melupakan semuanya. Dia menyadarkan dirinya sendiri kalau dialah yang sudah menjadi orang ketiga di antara Stella dan Gavin. Tetapi, Alby sangat mencintai Stella. Dia tidak mau sampai ada nama pria lain di hati Stella. Apapun caranya, Alby akan membuat nama Gavin hilang dari hati dan pikiran Stella.


Suara rem mobil berdecit membuat Stella dan juga Alby sama-sama kaget. Tanpa disadari, sebuah mobil sudah berhenti di depan mobil mereka. Sedikit lagi mobil mereka bersentuhan.


"Apa yang kau lakukan? Kau mau mencelakaiku?" protes Stella. Ternyata wanita itu memperhatikan Alby sejak keluar mall. Dia tahu kalau Alby tidak konsentrasi melajukan mobilnya. "Jika kau tidak bisa melajukan mobil dengan baik. Aku saja yang menyetir."


Alby memandang Stella dengan tatapan tidak terbaca. Tatapan pria itu berhenti pada bibir Stella yang tadi sempat ia lihat di sentuh oleh Gavin. Darahnya lagi-lagi mendidih.


"Maafkan aku."


Semarah-marahnya Alby, dia masih bisa mengendalikan diri. Pria itu memandang ke depan dan lagi-lagi berusaha melupakan semuanya walau terasa sangat sulit. Stella sendiri hanya mendengus kesal sebelum membuang tatapannya keluar jendela.


"Bagaimana kehidupanmu sebelum menikah denganku, Stella?"


Stella mengeryitkan dahi mendengar pertanyaan Alby. Memang sejak menikah mereka itu saling cuek. Sama sekali tidak tahu kehidupan masing-masing sebelum menikah. Bagi Stella, itu semua tidak penting. Dia sendiri tidak mau tahu dengan kehidupan Alby sebelum mereka menikah.


"Hidupku sangat bahagia." Stella memandang Alby. "Sayangnya kebahagiaan itu kandas sudah setelah aku menikah!"


Alby mengepal tangannya yang memegang stir. Dia masih berusaha tenang dan mengendalikan emosinya. "Kau akan merasakan kebahagiaan yang tidak pernah kau rasakan, Stella." Alby tersenyum memandang Stella. "Aku janji. Kau akan mendapatkan kebahagiaan itu."


Stella mendengus pelan. "Buktikan! Sayangnya aku tidak percaya."


"Kau tidak perlu mempercayainya sayang. Kau hanya perlu merasakannya dan membandingkannya dengan kehidupan yang dulu."


Stella yang memang lagi malas berdebat memilih untuk diam. Wanita itu mengambil ponselnya dan memainkannya. Alby kembali fokus dengan laju mobilnya. Pria itu tidak mau celaka di tengah jalan.


"Ayo," ajak Alby.


"Kita pulang saja. Aku tidak mau belanja." Stella memandang Alby dengan tatapan tidak suka. "Apa lagi makan malam bersamamu. Ingat Alby! Rumah tangga kita hanya di atas kertas. Jadi, jangan bertingkah seolah kita sepasang suami istri yang sama seperti orang di luar sana." Nada bicara Stella meninggi hingga membuat Alby terpancing emosi. Pria itu tidak merespon ucapan Stella. Dia hanya menghidupkan kembali mobilnya dan melajukannya dengan kencang meninggalkan butik tersebut. Stella kembali diam ketika mobil melaju cepat. Wanita itu semakin senang melihat suaminya marah seperti itu. Memang ini yang selalu ia harapkan.


Satu hal tidak terduga harus terjadi. Alby ternyata membawa Stella ke sebuah hotel yang tidak jauh dari butik. Stella terlihat marah besar. Baru saja Alby memberhentikan mobil mereka diparkiran, wanita itu sudah membuka sabuk pengamannya dan ingin turun untuk kabur.


"Mau ke mana?" Alby cepat-cepat memegang tangan Stella.


"Lepaskan!" protes Stella. Dia tidak mau sampai hal tidak terduga terjadi. Dia tidak mau sampai berhubungan dengan Alby.


"Kau istriku! Ikuti kemanapun aku pergi!" ujar Alby. Kali ini pria itu juga meninggikan nada bicaranya.


"Kenapa harus ke hotel?"


"Kita makan malam di sini. Kau pasti lapar!" sahut Alby.


Stella mulai tenang. Dia tidak lagi berpikiran yang aneh-aneh. wanita itu melepaskan tangannya dari cengkraman Alby sebelum menggenggam tasnya. Alby segera turun dari mobil. Pria itu memandang keadaan sekitar. Dia tidak mau sampai Gavin juga ada di sana. Dia hanya ingin berduaan dengan istrinya.


Stella turun dari mobil ketika Alby membukakan pintu. Wanita itu merasa kedinginan karena baju yang ia kenakan memang sangat terbuka. Alby segera melepas jasnya dan memakaikannya di tubuh Stella.


Stella memandang Alby ketika pria itu memasangkan jaket. Tiba-tiba semua berubah gelap. Stella tidak ingat apapun. Wanita itu tidak sadarkan diri ketika Alby memukul salah satu saraf dipunggungnya.


"Maafkan aku. Hanya ingin cara yang bisa aku lakukan Stella." Alby menggendong Stella dan membawanya masuk ke dalam. Pria itu ingin mengajak Stella untuk menginap di salah satu kamar yang ada di hotel bintang lima tersebut.