
Satu bulan kemudian.
30 hari dilalui dengan penuh cinta. Alby sangat senang bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang Stella selama 30 hari ini. Masih ada waktu 70 hari lagi. Walau sampai detik ini belum ada tanda-tanda kalau Stella mau membalas cintanya. Tetapi setidaknya Alby tidak pernah berhenti untuk berusaha.
Siang itu Alby sedang memeriksa laporan perusahaannya. Sebentar lagi para karyawan akan gajian. Alby tidak mau sampai pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang. Saat itu Alby terlihat sangat serius. Sampai-sampai dia tidak terlalu peduli dengan wanita yang masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan."
"Lea, aku sibuk. Nanti saja," tolak Alby. "Kau jangan lama-lama di sini. Nanti jika Stella ingin ke salon bagaimana?"
"Tuan, tapi info yang ingin saya sampaikan jauh lebih penting. Saya hanya butuh waktu lima menit saja," ucap Lea dengan nada memohon. Walau sebenarnya informasi ini sangat penting bagi Alby, tetapi wanita itu jadi sedih kalau Alby mengabaikannya.
"Oke, katakan sekarang." Alby memandang Lea dengan tatapan yang sangat serius.
Lea menyerahkan botol kecil di atas meja. Wanita itu mundur lagi setelah meletakkan obat tersebut.
"Apa ini?" tanya Alby dengan Alis saling bertaut. "Kau sakit?"
"Tidak, Tuan. Saya menemukan pil itu di kamar anda. Ketika saya membantu Nona Stella merawat rambutnya di kamar tadi siang."
Alby segera mengambil obat itu dan memeriksanya dengan saksama. "Obat apa ini? Apa obat ini Milik Stella?"
"Apa?" Alby syok berat mendengarnya. Padahal hanya kejam itu yang dia harapkan selama 30 hari terakhir ini. Alby sendiri sempat cemas ketika Stella tidak menunjukkan tanda-tanda hamil. "Jadi benda ini yang sudah membuat Stella tidak hamil sampai sekarang?"
"Benar, Tuan." Lea mengangguk setuju. "Sepertinya Nona Stella tidak mau hamil."
"Ternyata dia lebih pintar dari yang aku pikirkan. Apa kau sudah memikirkan solusi yang tepat untuk masalah ini, Lea?"
"Belum, Tuan. Apa anda memiliki ide?" tanya Lea balik.
Alby memperhatikan pil itu lagi. "Ganti pil di dalam botol ini dengan obat penyubur kandungan. Pastikan warna dan bentuknya sama agar dia tidak curiga. Apa kau bisa melakukannya? Satu lagi. Jangan sampai Stella tahu."
"Ide yang cemerlang, Tuan. Saya akan mengusahakannya. Anda tenang saja." Lea terlihat sangat percaya diri. "Saya permisi dulu. Bukankah anda harus kembali bekerja?"
"Lea, terima kasih karena selama ini kau sudah membantuku. Tanpamu aku tidak akan bisa seperti sekarang. Kirim salam sama suamimu. Aku harap dia tidak salah paham lagi denganku."
Lea menggeleng pelan. "Dia tidak pernah cemburu lagi. Sejak anda menikah, dia mulai bisa menyesuaikan diri. Dia tahu kalau saya bekerja secara profesional. Di kantor polisi dia juga sangat sibuk dan memiliki banyak teman dekat. Rata-rata wanita. Sekarang kami saling percaya. Hanya itu cara yang bisa kami lakukan agar pernikahan kami baik-baik saja."
Alby tersenyum. Dia memang sangat percaya sama Lea. Entah kenapa dia lebih memilih mata-mata seorang wanita daripada pria. Kerja Lea memang sangat memuaskan. Membayar Lea dengan jumlah yang fantastis rasanya Alby juga tidak rugi. Sampai detik ini, Lea yang membuat status Gavin masih buronan. Tentu saja dibantu suaminya yang juga bekerja di kepolisian.
"