
Alby mengangguk. "Ya. Apa kau menyesal?"
Stella terlihat kaget namun ekspresi wanita itu berbeda jauh dengan apa yang dibayangkan Alby. Wanita itu terlihat biasa saja setelah mendengarnya.
"Stella, maafkan aku karena sudah merahasiakan semua ini darimu. Aku tidak mau kau-"
"Ssstttt." Stella meletakkan jarinya di depan bibir Alby. "Aku tidak marah. Aku justru bahagia. Alby, kau harus tahu kalau aku menyukai pria jagoan. Seperti ketua geng misalnya. Itu yang membuatku jatuh cinta kepada Gavin waktu itu. Ini sungguh menyenangkan. Kau bisa memegang senjata dan bertarung bukan?" tanya Stella untuk kembali memastikan kalau Alby tidak selemah yang dia pikirkan.
"Tentu saja aku bisa," jawab Alby. Sekarang justru ekspresi Alby yang terlihat seperti orang bego. Pria itu masih memastikan, Stella benar-benar senang atau hanya sedang menjebaknya saja.
"Sejak kapan?" tanya Stella ingin tahu.
"Sejak malam pertama kita di hotel, aku sudah menjadi pemimpin sebuah geng mafia. Tapi saat itu aku masih sangat brutal. Tidak peduli mana yang benar dan mana yang salah. Jika aku merasa tidak cocok aku akan membantai semuanya."
"Sepertinya kau lebih kejam daripada dia. Tapi itu tidak jadi masalah bagiku. Aku akan menerima semua masa lalumu seperti kau menerima semua masa Laluku. Pikiranku saat ini. Aku tidak mau kau terlibat dalam dunia gelap itu lagi. Kita akan memiliki anak. Pikirkan keselamatan anak kita."
"Anak kita akan baik-baik saja karena di manapun dia berada, Tiger White akan menjaganya," jawab Alby dengan penuh keyakinan.
"Apa keluargamu mengetahuinya?"
"Terima kasih Alby. Aku sangat menghargai kejujuranmu." Stella tiba-tiba saja memeluk Alby dan memejamkan kedua matanya. "Aku masih tidak menyangka kalau kau adalah pria yang jagoan. Jika saja saat ini aku tidak sedang mengandung, Ingin sekali aku melihatmu bertarung dan menembak. Aku ingin lihat betapa gagahnya dirimu ketika memegang senjata. Seperti yang ada di film-film mafia pada umumnya."
Alby tertawa kecil mendengarnya. "Tapi aku tidak seperti mafia yang di film-film itu. Aku Berbeda."
"Yang penting kau bisa bertarung dan menembak itu sudah cukup. Sisanya biarkan saja," jawab Stella dengan santai.
"Stella, menurutmu apa yang harus aku lakukan terhadap Gavin? Apa aku biarkan saja dia hidup atau Aku bunuh saja dia agar tidak mengganggu rumah tangga kita lagi."
Stella mendongakkan kepalanya memandang wajah Alby. "Kenapa kita harus memikirkan dia lagi? Biarkan saja dia berkeliaran di luar sana. Bukankah suamiku ini pria yang tangguh? Jika dia berani mengganggu istrimu, lawan saja dia dengan kemampuan yang kau miliki. Aku ingin tahu seperti apa ekspresinya ketika dia tahu kalau kau adalah seorang ketua mafia. Bukankah selama ini dia berpikir kalau kau hanya pria lemah yang tak bisa apa-apa. Aku sangat-sangat tidak sabar melihat ekspresi wajahnya."
"Yakin hanya ingin melihat ekspresi wajahnya saja?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu. Kau masih tidak percaya padaku kalau aku benar-benar sudah memilihmu sebagai suamiku? atau jangan-jangan sekarang kau masih menyimpan rasa curiga di dalam hatimu ini. Kau takut kalau aku adalah mata-mata yang digunakan Gavin untuk menyelidiki kehidupanmu?"
Alby diam sejenak sebelum menarik tubuh Stella dengan erat. "Tidak sayang. Aku percaya dengan semua yang kau katakan."