
Stella mengambil sayur dan ikan yang ada di dalam kulkas. Alby sudah berdiri di depan meja untuk membantu istrinya. Setelah meletakkan ikan dan juga sayur pilihannya, Stella ke kulkas lagi untuk mengambil bahan yang kurang. Tidak lupa wanita itu mengambil paprika dan juga bawang Bombay.
"Hanya memasak saja sebanyak ini?" tanya Alby dengan alis saling bertaut. Sebenarnya Alby juga bisa memasak. Tetapi pria itu biasanya hanya memasak satu jenis makanan. Itu juga dibantu oleh pelayan atau koki. Berbeda dengan Stella yang ingin memasak beberapa lauk untuk melengkapi makan siang mereka.
"Ya, aku ingin memasak ayam bakar, ikan asam manis dan juga capcay," jawab Stella dengan penuh kebanggaan.
"Kau tahu apa makanan kesukaanku?" tanya Alby dengan wajah kurang yakin.
"Tidak, itu semua makanan kesukaanku."
"Tapi makanan yang baru saja kau sebutkan tadi adalah makanan kesukaanku. Sepertinya kita memang berjodoh. Dari segi makanan saja kita sudah memiliki selera yang sama."
Stella menyipitkan kedua matanya sebelum lanjut memotong-motong bahan makanan yang ada di hadapannya. "Lama-lama kau jadi raja gombal," ledek Stella. Alby hanya tertawa saja. Dia mengambil bawang putih yang juga tergeletak di sana.
"Apa benda ini harus dikuliti?" tanya Alby sambil memegang bawang putih di tangannya.
"Ya. Terdengar menyeramkan! Kenapa kau harus bilang mengkulitinya?"
Alby tertawa kecil. "Asal saja." Alby segera fokus ke bawang yang ada di tangannya dan membuang kulit bawang tersebut. Begitu juga dengan Stella yang sudah dalam tahap mengiris bawang. Karena terlalu perih, akhirnya Stella meneteskan air mata. Hal itu membuat Alby mengeryitkan dahinya.
"Apa yang sudah membuatmu menangis? Apa perkataanku ada yang melukai hatimu?" Alby terlihat sangat khawatir.
"Tidak!" jawab Stella jutek.
Alby meletakkan bawang yang sempat ada di genggaman tangannya. Pria itu menarik tangan Stella dan menatapnya dengan wajah yang serius. "Katakan yang sejujurnya. Apa yang sudah menyebabkan kau menangis?" Dengan lembutnya Alby menghapus air mata yang ada di pipi istrinya.
"Ini. Dia yang sudah membuatku menangis. Apa kau mau membalasnya?" jawab Stella sambil memamerkan bawang merah yang ada di tangannya. Alby menaikan satu alisnya sebelum tertawa geli. Tanpa sadar pria itu memeluk Stella dengan hati yang bahagia. "Aku akan menghukumnya nanti. Apapun itu. Entah manusia atau benda mati sekalipun. Jika dia berani membuatmu menangis, maka aku akan menghukumnya!" ucap Alby dengan penuh keyakinan.
Stella mengeryitkan dahinya. Ini sungguh nyaman. Ya, Setelah Stella memutuskan untuk menjalani perannya sebagai istri Alby, mulai saat itu juga dia mulai mengenal sifat suaminya. Rasa membanding-bandingin antara Alby dan Gavin selalu saja muncul di dalam benaknya. Dan sejauh ini Abylah yang paling unggul jika dibandingkan dengan Gavin. Bahkan dari segi apapun itu. Dimulai dari ketampanan, kekayaan hingga sifat yang lembut. Entah kenapa tiba-tiba hati Stella tergelitik untuk belajar mencintai suaminya dan melupakan semua kenangan manis yang pernah ia jalani bersama dengan Gavin.
"Oke, Sekarang kita masak lagi jika terus berpelukan seperti ini ketika perut kita lapar kita hanya bisa memakan wortel mentah."
Stella tertawa mendengar perkataan Alby. Wanita itu mengangguk dan lanjut untuk memasak. Sesekali ia memandang wajah tampan suaminya dan tersenyum manis.
"Jangan memandangku seperti itu atau aku akan melahapmu sebelum masakan ini selesai," bisik Alby dengan suara yang begitu serak. Sepertinya pria itu mulai kesulitan untuk mengatur gairahnya sendiri.
Mendengar godaan yang terucap, membuat Stella kembali fokus dengan bawang merah yang ada di hadapannya. Walau sudah belajar menjadi istri yang baik tetapi wanita itu belum siap berakhir di ranjang bersama dengan suaminya.
"Aku tidak rela bercinta denganmu bukan karena aku tidak rela tubuhku disentuh oleh suamiku. Tetapi aku tidak ingin memberikan tubuhku yang kotor ini kepada pria baik seperti dirimu."
"Kotor?" Alby menautkan alisnya. Dia lagi-lagi menarik tubuh Stella dan menatap wajah wanita itu dalam-dalam. "Apanya yang kotor. Kau mengatakan dirimu ini kotor? Tubuhmu ini kotor? Kotor seperti apa yang kau maksud, Stella? Kau mengatai tubuhmu sendiri kotor karena kau pernah tidur dengan pria lain?"
"Ya. Bahkan sudah dua pria sebelum kau yang telah menikmati tubuhku. Bukankah itu pantas dikatakan dengan kotor?" jawab Stella dengan mata berkaca-kaca.
Alby mengusap pipi Stella. "Mulai sekarang jangan pernah katakan kalau dirimu kotor. Tubuhmu ini sangat berharga di mata suamimu. Selama kau masih menyandang status sebagai istriku, jaga tubuh ini. Pastikan kalau hanya aku yang boleh menyentuhnya. Masa lalu, biarkan berlalu begitu saja. Apa kau bisa?"
Stella mengangguk. "Baiklah. Tapi, apakah semua ini hanya 100 hari saja?"
"Ya, 100 hari masa latihan. Aku yakin setelah 100 hari kau akan melakukan semuanya karena cinta. Sekarang ayo kita masak lagi," ajak Alby.
"Anda begitu percaya diri, Tuan."
"Saya yakin kalau nona manis di samping saya pasti akan luluh," sahut Alby. Stella tertawa kecil sebelum memasukkan bahan masakannya ke wajan. Entah kenapa dia merasa jauh lebih lega setelah mendengar perkataan Alby.
...***...
Gavin mengepal kuat tangannya ketika mendengar kabar kalau Alby telah membawa Stella ke sebuah apartemen yang di jaga dengan begitu ketat. Bukan hanya di jaga oleh pengawal bayaran saja. Bahkan beberapa polisi juga turun tangan. Gavin tidak bisa bertindak ceroboh. Jika dia memaksakan diri untuk menemui Stella di apartemen tersebut, dia harus siap tertangkap oleh polisi yang memburonnya selama ini.
"Dia membuatku semakin muak!" umpat Gavin. Pria itu melihat seorang pria berseragam office boy yang sedang membuang sampah. Tiba-tiba saja pikiran jahat memenuhi benaknya. Gavin turun dengan membawa sebuah belatih berukuran kecil di tangannya. Pria itu memeriksa keadaan sekitar. Setelah di jamin sunyi, dia segera menarik office boy itu dan membawanya ke tempat yang lebih sunyi.
Hanya butuh waktu lima menit saja, Gavin sudah berhasil mengganti pakaiannya dengan pakaian office boy yang tadi ia incar. Sedangkan jenazah office boy itu tergeletak begitu saja di pinggir pagar tertutup sampah. Gavin membawa alat bersih-bersih dan menundukkan kepalanya. Dia harus melewati dua polisi yang berjaga di pintu masuk. Ini merupakan perbuatan yang sangat beresiko. Jika ketahuan, dia akan gagal menemui Stella.
"Berhenti!" Polisi itu mencegah Gavin masuk. Gavin memeriksa lagi belatih di sakunya. Dia akan segera menusuk polisi itu dan menerobos masuk jika memang hal tidak terduga harus terjadi.
"Apa kau bisa membuatkan kami kopi?"
Gavin mengukir senyuman di bibirnya. "Baik, Pak."
"Cepat. Kami ingin meminumnya sekarang!" perintah polisi itu lagi sebelum lanjut mengobrol. Dengan lancarnya dia melangkah masuk ke dalam gedung apartemen mewah tersebut.
Gavin berhenti di tengah-tengah dan mendongak ke atas. Gedung itu sangat mewah dan luas. Sekarang tugas Gavin adalah mencari informasi dimana kamar Stella dan Alby berada. Anak buahnya sendiri belum berhasil mengetahui di lantai mana Stella dan Alby tinggal.
Seorang pria berjalan mendekati Gavin. Dengan cepat Gavin menunduk. Walau sudah ada tato dan kumis sebagai bentuk penyamarannya, tetapi Gavin tetap harus waspada dalam kondisi apapun.
"Hei, kau. Cepat bersihkan ruangan yang ada di lantai 29. Sekarang juga!" perintah pria itu.
"Baik, Tuan. Tetapi dia polisi di sana memintaku untuk membuatkan kopi," jawab Gavin tanpa memandang.
"Serahkan saja pada yang lain. Sekarang cepat kerjakan perintahku. Tuan Alby Zakari ada di sini. Tidak boleh sampai ada yang komplain atau kita semua akan di pecat oleh tuan Alby."
Mendengar nama Alby membuat Gavin tertarik. "Di lantai mana mereka tinggal? Siapa yang membersihkan kamar mereka?"
"Mereka tinggal di lantai-"
"Hei kau! Cepat bereskan halaman di sana." Pria yang berbicara dengan Gavin tidak jadi melanjutkan kalimatnya. "Aku juga harus bekerja!" ujarnya sebelum lari menuju ke taman. Gavin memandangnya dengan tatapan penuh arti. "Aku hanya perlu mendekati pria itu untuk mendapatkan informasi tentang Stella dan Alby," gumamnya di dalam hati.