
"Nona, ada beberapa berkas yang harus anda tandatangani. Apa anda bisa ikut dengan saya sebentar?" ajak suster yang datang bersama dokter. Stella memandang Alby sejenak sebelum mengangguk. Tanpa pamit, wanita itu pergi mengikuti suster yang mengajaknya keluar.
"Apa suster itu bawahanmu?" tanya Alby penasaran. Dia tidak mau sampai Stella di jebak.
"Ya, Tuan." Dokter itu membuka maskernya. Dia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. "Keadaan sangat kacau. Mereka ingin menyerang perusahaan. Entah itu membakar perusahaan atau menghancurkan barang-barang yang ada di dalamnya," jelas pria itu dengan wajah lelah. Ternyata dia bukan seorang dokter. Tapi dia orang kepercayaan Alby yang sedang menyamar sebagai dokter. Suster wanita yang satunya lagi juga salah satu orang kepercayaan Alby. Mereka bertiga ingin memang harus melakukan pertemuan untuk menghadapi penyerangan yang dilakukan Gavin.
"Stella jangan sampai tahu soal ini. Aku tidak mau dia berpikir yang aneh-aneh. Tetapi, aku ingin dia tahu kalau kekasihnya ingin menghancurkan perusahaanku. Apa kalian bisa melakukannya?"
Pria dan wanita itu saling memandang. Mereka merasa ragu. Namun, Alby akan marah jika mereka sampai menolak.
"Baiklah, Tuan. Akan kami usahakan. Tetapi, bagaimana keadaan anda? Apa mereka melukai anda dengan parah sampai anda di rawat di rumah sakit?" tanya pria itu lagi. Dia tidak mau sampai Alby celaka.
Alby tertawa mendengarnya. "Sebenarnya aku diperbolehkan pulang. Aku sendiri yang meminta untuk di rawat agar aku bisa memiliki waktu berduaan dengan Stella. Tetapi, mama dan Cesy datang dan merusak semuanya."
"Itu juga ulah Gavin, Tuan. Dia yang sudah menghubungi ibu kandung anda. Dia tidak akan rela kekasihnya bersama dengan anda seperti ini," sahut di wanita.
Alby tertawa lagi. "Ya, memang itu yang aku inginkan. Aku ingin dia cemburu. Dia akan tersiksa jika cemburu. Kalian juga jangan lupa bekerja sama dengan tim kepolisian. Selama dia masih berstatus buronan, dia tidak akan berani muncul di depan umum secara terang-terangan. Itu akan menjadi kelemahannya!" Tatapan Alby terlihat sangat mengerikan. Membayangkan Gavin memang selalu saja memancing emosi. Pria itu sangat cemburu jika sampai Stella dan Gavin bersatu kembalilah. Stella hanya boleh menjadi miliknya seorang.
Pintu terbuka dan Stella kembali masuk. Pria itu pura-pura memeriksa Alby. Begitu juga dengan suster wanita tersebut. Mereka terlihat sangat sibuk.
Stella membawa sebuah berkas dan meletakkannya di atas meja. Wanita itu merasa penasaran karena sejak tadi dokter itu sibuk sekali memeriksa keadaan suaminya.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Stella.
"Luka yang di alami Tuan Alby cukup serius, Nona. Ini bisa infeksi bahkan beresiko kematian," jelas pria itu asal saja. Alby menaikan satu alisnya dengan tatapan kurang setuju.
"Apa separah itu?" tanya Stella tidak percaya. Padahal dari apa yang dia lihat, luka itu seperti luka biasa. Tidak ada yang serius bahkan sudah mau kering.
Stella memalingkan wajahnya. Dia mulai merasa bersalah karena tadi membiarkan Alby sendirian ke dalam kamar mandi. "Ya, Dok. Nanti akan saya temani."
Pria itu mengukir senyuman ke arah Alby. Alby sendiri terlihat puas dengan kerja bawahannya. Walau awalnya dia sempat kesal.
"Baiklah Nona. Setelah minum obat Tuan Alby bisa istirahat. Saya permisi dulu." Pria itu segera pergi bersama suster yang ikut bersamanya.
Stella memandang Alby yang kini juga memandang wajahnya. "Jika masih sakit, kenapa kau bilang baik-baik saja?" protes Stella.
Alby tersenyum. "Aku tidak mau merepotkanmu."
Stella memang merasa direpotkan. Tetapi ini semua ulah kekasihnya. Jika Gavin tidak bisa bertanggung jawab, setidaknya dia yang turun tangan. "Aku tidak merasa di repotkan."
Ponsel Alby yang tergeletak berdering. Stella membantu Alby mengambil ponselnya. Wanita itu sempat membawa nama yang tertulis di sana.
"Sekretaris Ken."
Alby menerima panggilan masuk yang tidak lain dari pria yang baru saja menyamar jadi dokter tersebut.
"Halo, ada apa?"
Alby diam sejenak. Wajahnya berubah serius setelahnya. "Apa? segerombolan preman menyerang perusahaan dan merusak elektronik yang kita miliki?" Alby menahan kalimatnya lagi agar suasana semakin tegang. "Perusahaan rugi besar?" teriaknya lagi.
Stella yang hanya bisa mendengar suara Alby memilih diam sambil mencerna apa yang sedang di bahas oleh Alby. "Preman? Apa ini ulah Gavin lagi? Kenapa dia tidak ada habisnya menyusahkan hidup Alby?" gumam Stella di dalam hati.