
"Arrgghhh! Kau benar-benar breng*sek, Alby! Ternyata kau tidak sepolos yang aku pikirkan. Kau jahat!" umpat Stella dengan penuh emosi. Dia merendam tubuhnya di dalam bak mandi sambil menangis. Sabun yang ada di kamar mandi ia tuangkan semuanya ke dalam bak mandi. Sekarang dia merasa jijik kepada tubuhnya sendiri. Membayangkan percintaannya dengan Alby membuatnya tidak terima.
"Bodoh! Kenapa aku seceroboh ini!" umpatnya lagi.
Stella kembali mengingat alasan Alby melakukan semua ini. Emosinya sedikit reda. Alby suaminya. Apa yang harus dilakukan seorang pria beristri jika dia menginginkan ****?
Stella memejamkan mata hingga buliran bening itu menentes. Suaminya tidak salah. Terkadang hati kecilnya mulai berbicara dan membela Alby. Namun, ketika egonya kembali muncul. Stella tidak akan mampu menerima semua ini. Hanya Gavin yang boleh sesuka hati terhadap dirinya. Hanya pria itu!
Stella tidak mau menjadi wanita murah yang tubuhnya bisa dicicipi siapapun. Kalau dia pikir-pikir, sudah tiga pria yang menikmati tubuhnya. Stella tidak semurah itu. Dia hanya ingin menyerahkan tubuhnya kepada pria yang ia cintai. Yaitu Gavin.
Setelah selesai meluapkan emosinya, Stella mulai membersihkan diri. Memandang tubuhnya yang polos di depan cermin. Tidak ada jejak kepemilikan Alby di tubuhnya. Pria itu sengaja tidak meninggalkan jejak ditubuh Stella karena masih menghargai Stella sebagai wanita yang ia cintai. berbeda dengan Gavin yang sangat suka meninggalkan jejak kepemilikan yang akan hilang dalam waktu beberapa hari.
“Alby tidak salah. Ini semua karena kecerobohanku sendiri.” Stella menghapus sisa air matanya. Ia tidak ingin terus-terusan larut dalam kesedihannya. Ia juga tidak mau terus-menerus membahas masalah ini. Sebisa mungkin dia lupakan semuanya.
Alby mengambil handuk dan melilitkannya di pinggang. Sekilas ia melirik ke kamar mandi sebelum mengambil ponselnya di atas meja. Pria itu menghubungi bawahannya, memberi perintah untuk mengantar pakaian ganti untuk dirinya dan juga Stella. Tidak butuh waktu lama, pakaian ganti itu sudah datang. Tidak lupa Alby meminta pihak hotel untuk mengantar sarapan ke kamar.
Stella keluar dengan handuk kimono di tubuhnya. Mata wanita itu merah yang menandakan kalau dia menangis di kamar mandi. Stella duduk di sofa dan memalingkan wajahnya. Dia juga tidak tahu harus pakai baju apa sekarang. Bajunya yang tadi malam sudah kotak dan tergeletak di lantai.
Alby berjalan mendekati Stella. Dia meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri sofa sambil memandang wajah Stella. “Apa kau menyesal karena sudah melakukan hal itu dengan suamimu sendiri. Apa kau berharap pria lain yang ada di sampingmu tadi? He?” Alby menatap wajah Stella dengan seksama.
Stella tidak lagi memiliki tenaga untuk berdebat.
"Apa itu penting untuk di jawab? Apa pedulimu aku sedih atau bahagia?"
"Jelas saja penting. Kau istriku. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kau bersedih."
"Kau tahu apa yang membuatku bahagia, Alby." Stella membalas tatapan Alby. "Biarkan aku pergi. Ceraikan aku."
"Maafkan aku Stella. Tanpa aku jawab, kau pasti tahu apa jawabannya." Alby mengambil paper bag berisi baju ganti Stella. "Di dalamnya ada baju. Aku mau mandi. Kita akan pulang setelah sarapan. Jika kau pergi saat aku mandi, aku akan memberimu hukuman yang jauh lebih parah dari tadi malam," ancam Alby dengan senyuman. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Stella memeriksa baju yang ada di dalam paper bag sebelum meletakkannya di atas pangkuan.
***
Beberapa saat kemudian Stella dan Alby sudah tiba di rumah. Pada akhirnya Stella memilih untuk menuruti permintaan Alby. Setelah memakai baju yang di beli Alby, Stella duduk manis menunggu Alby mandi. Setelah itu mereka sarapan bersama sebelum berangkat pulang.
Tanpa kata, Stella membuka pintu mobil dan keluar dengan cepat. Alby juga keluar dan mengikuti langkah Stella dari belakang.
Di dalam rumah, kedatangan Stella sudah di sambut oleh Ny. Zakary. Kali ini ada wanita cantik dan seksi yang berdiri di samping mertuanya. Wanita itu mengukir senyuman manis melihat Alby muncul.
"Alby, kemana saja kau? Sehak sore Cesy menunggumu," ujar Ny. Zakary.
Stella memandang wanita bernama Cesy yang baru saja di ucapkan oleh mertuanya. Mereka saling memandang satu sama lain. Jika Cesy sangat mengenal Stella, berbeda dengan Stella yang sama sekali tidak mengenal Cesy. Bahkan wanita itu tidak tahu kalau Cesy adalah adik kandung Gavin.
"Ma, kami tidur di hotel tadi malam," jawab Alby apa adanya.
Ny. Zakary memandang Stella. “Apa yang Kau lakukan terhadap Putraku? Apa kau menggodanya malam ini agar Cesy tidak bisa bersama dengannya.”
"Maaf, saya mau masuk," ujar Stella tanpa peduli apa yang diucapkan mertuanya. Ny. Zakary menahan langkah Stella dengan mencengkram kuat pergelangan tangan Stella. Stella menatap wajah Ny. Abraham dan Cesy secara bergantian. Pagi itu ia tidak memiliki tenaga untuk membantah. Dengan wajah pasrah ia membiarkan semua perbuatan Ny. Abraham.
"Ma, apa yang mama lakukan?" Alby melepas tangan ibunya dan menarik tubuh Stella. Bahkan pria itu memeluk tubuh Stella untuk melindungi wanita itu dari siksaan ibu kandungnya.
"Alby, di sini ada Cesy! Kenapa kau memeluk wanita ini?"
"Ma, Stella istriku! Cesy hanya sahabatku," sahut Alby. Dia memandang Cesy dengan tatapan tidak terbaca. "Aku yakin, Cesy juga tidak akan marah jika aku memperlakukan istriku seperti ini."
Tanpa mau memperpanjang masalah, Alby membawa Stella masuk ke kamar. Cesy memandang Alby dan Stella dengan tatapan tidak terbaca.
"Sepertinya dia sangat mencintai Stella. Apa mungkin aku berhasil memisahkan mereka agar Stella bisa kembali kepada Kak Gavin?" gumam Cesy di dalam hati.