Want My Wife

Want My Wife
Bab. 49



"Lihatlah, Tuan. Anak Anda tumbuh dengan sehat. Mungkin bentuknya memang belum terlihat jelas karena dia masih sangat kecil. Tapi dari ukurannya bisa diketahui kalau dia janin yang sehat. Nyonya Stella harus meminum obat tambah darah dan vitamin lainnya selama masa kehamilan. Saya juga sudah meresepkan obat agar Nyonya Yolanda tidak mual muntah lagi. Jika tidak ada masalah anda bisa memeriksa kesehatan Nyonya Stella satu bulan lagi. Tetapi jika ada masalah anda harus segera membawanya ke rumah sakit. Sejauh ini saya lihat kondisi Nyonya Stella setelah sudah stabil. Ia akan segera sadar."


"Terima kasih, Dok. Tadi saya sudah sangat panik melihat darah yang begitu banyak. Saya Sempat berpikir kalau saya akan kehilangan anak pertama saya," jawab Alby.


"Nyonya Stella stress berat dan ini yang membuatnya pendarahan. Wanita hamil sebaiknya selalu dibuat bahagia. Tidak boleh sampai banyak pikiran. Suami merupakan orang terdekatnya. Anda harus lebih perhatian kepada istri anda. Perhatikan apa saja yang dia makan agar anak Anda selalu sehat di dalam kandungan."


"Baiklah, Dok. Untuk saat ini apakah ada makanan yang harus dihindari oleh wanita hamil." Alby ingin menjaga istrinya dengan sebaik mungkin. Dia tidak mau sampai kehilangan anak pertamanya.


"Tidak ada. Karena semua makanan sehat. Tetapi alangkah baiknya untuk menghindari minuman beralkohol dan makanan mentah. Jangankan wanita yang hamil. Kita saja akan jauh lebih baik jika selalu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi."


"Terima kasih. Saya ingin menemui istri saya."


"Silakan, Tuan. Jika Nyonya Stella sudah sadar, tolong segera kabari saya agar saya periksa kembali."


Alby menggangguk. Pria itu segera meninggalkan ruangan dokter. Sambil berjalan menuju ke ruang tempat Stella dirawat, dia mengambil ponselnya dari dalam saku. Alby ingin tahu apa yang sudah terjadi setelah dia pergi. Apa benar Lea selamat dalam pertarungan itu.


"Halo Bos. Ada yang bisa saya bantu?"


"Di mana Lea? Kenapa kau yang mengangkat teleponnya?" protes Alby. Dia tahu suara itu adalah suara pasukan Tiger White yang tidak lain adalah anak buahnya sendiri.


"Bagaimana dengan Cesy?"


"Cesy adalah adik kandung Gavin, Bos. Kami terpaksa membawanya ke ruang penyiksaan bersama dengan Gavin. Setelah anda pergi, Cesy justru berniat untuk membunuh Nona Lea. Kami datang di waktu yang tepat."


"Cesy adik kandung Gavin? Bagaimana mungkin?" tanya Alby tidak percaya.


"Maafkan kami Bos. Karena kami tidak mengetahui informasi penting ini sejak kemarin. Tapi setidaknya sekarang kita sudah tahu bahwa begitu banyak orang yang ada di dekat Anda namun dia hanya seorang mata-mata."


"Setelah membawa Stella pulang ke apartemen aku akan pergi menemui mereka. Aku ingin dengar langsung dari mulut mereka sebenarnya apa tujuan Cesy selama ini berpura-pura menjadi teman baikku."


"Baik bos. Untuk saat ini kami masih menyiksa Gavin. Kami bahkan membiarkan luka di tubuhnya terbuka. Apa kita biarkan saja dia mati kehabisan darah Bos."


Sejenak Alby berpikir kalau ini adalah balasan yang cocok untuk Gavin. Tetapi dia tidak sejahat itu sebagai seorang pemimpin. Dia masih memiliki hati dan mau memaafkan kesalahan orang lain meskipun orang lain itu sudah sangat parah menyakitinya.


"Panggilkan dokter. Jangan biarkan dia mati sebelum aku menemuinya dan menyiksanya dengan tanganku sendiri."


Alby segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengusap wajahnya dengan tangan. "Sampai kapan aku harus seperti ini? Aku sudah berubah setelah mengenal Stella. Tapi sekarang aku di paksa untuk kembali menjadi pria yang kejam demi mendapatkan cinta Stella."