
Gavin benar-benar panik sekarang. Dia sudah keceplosan. Sekarang pria itu kebingungan mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Stella.
"Gavin, katakan padaku yang sebenarnya terjadi. Kenapa tadi kau bilang kalau aku ada anak di dalam kandunganku?"
"Kau salah dengar Stella. Maksudku jika nanti kita memiliki anak, rahimmu sudah siap untuk menerimanya," dusta Gavin. Berharap Stella percaya.
"Aku tahu bukan seperti itu yang tadi aku dengar," sangkal Stella. Stella memegang lengan Gavin dan mengguncangnya. "Katakan padaku. Apa benar aku hamil?"
"Tidak! Kau hanya salah dengar saja tadi. Percaya padaku."
"Aku tidak pernah mau percaya sama pendusta sepertimu." Stella melepaskan cengkramannya dan memalingkan wajahnya.
"Stella, dengarkan aku dulu."
"Jika aku hamil, anak ini adalah anak-"
"Anakku. Dia anakku," jawab Gavin cepat.
"Bagaimana mungkin?" Stella menggelengkan kepalanya.
"Itu karena memang kita tidak boleh dipisahkan. Anak ini hadir karena ingin menyatukan kita."
"Kita sudah lama tidak berhubungan," sangkal Stella masih tidak percaya.
"Tapi anak ini usianya sudah hampir 3 bulan. Itu berarti anak ini ada bahkan ketika kau belum menikah dengan pria brengsek itu."
Stella syok bukan main awalnya. Namun kedua mata wanita itu menyipit. "Kau lupa kalau anak ini ada di dalam rahimku. Aku yang tahu sejak kapan dia hadir."
Gavin mengusap wajahnya sendiri dengan frustasi. "Itu anakku, Stella. Anak kita. Percaya padaku. Bagaimana lagi aku menjelaskannya?"
"Anak ini anak Alby. Karena baru beberapa minggu ini aku terlambat datang bulan."
"Tidak seperti itu yang sebenarnya terjadi. Dokter sudah menjelaskan kalau anak ini usianya sudah 3 bulan. Percayalah padaku, anak ini adalah anak kita."
"Dia anak Alby! Bukan anakmu!"
Baik Gavin maupun Stella sama-sama mempertahankan pendapat mereka masingmasing. Gavin yang sudah frustasi mencengkram kedua tangan Stella hingga wanita itu meringis kesakitan. Lagi-lagi pria itu disulut api emosi. Dia tidak suka Stella terus-terusan menyebut nama Alby di hadapannya. Pria itu cemburu. Sangat-sangat cemburu.
"Dia anakku. Sampai kapanpun dia akan tetap menjadi anakku," teriak Gavin hingga suaranya memenuhi ruangan tersebut.
"Sekarang kau menghinaku. Dulu kau menikmati sentuhanku." Gavin menatap wajah Stella dengan tatapan penuh arti.
"Aku tidak pernah menikmati sentuhanmu. Kau yang memaksaku untuk seperti itu. Waktu itu aku memang bodoh karena sudah percaya dengan kata-katamu. Sekarang aku tidak mau terjebak di lubang yang sama. Lepaskan aku! Biarkan Aku Pergi. Aku ingin kembali pada suamiku. Aku harus memberitahunya tentang kehamilan ini."
"Tidak bisa Stella. Kau tidak akan pernah bisa pergi dariku." Gavin memegang tangan Stella. Dia memohon dengan amata sangat. Apapun akan dia lakukan asalkan Stella mau bersama dengannya.
"Lepaskan!" berontak Stella. Dia bahkan sudah tidak mau di peluk Gavin lagi.
"Tidak!"
Mereka berdua memang sama-sama keras kepala. Saling adu tenaga meskipun sudah jelas kalau yang menang pasti Gavin. Stella saat itu sudah kehabisan tenaga terlihat semakin pucat.
"Stella, jangan seperti ini. Kau bisa sakit!" bujuk Gavin lagi.
Stella tidak mau mendengarkan perkataan Gavin lagi. Ia terus-terusan memukul pria itu untuk melampiaskan amarahnya. Hingga akhirnya perutnya terasa sakit.
"Perutku," lirih Stella sambil mencengkram perutnya dengan begitu kuat. Kedua matanya sampai terpejam dan meneteskan air mata. Sakitnya begitu luar biasa hingga tidak tertahankan lagi.
Gavin yang panik segera menolong Stella. "Stella sayang tenang ya ... jangan marah lagi. Jika kau marah-marah seperti tadi kau akan sakit. Dengarkan perkataanku. Aku akan membawamu ke dokter. Tapi aku mohon jangan pergi dariku. Aku akan menerima anak ini sebagai anakku. Kita bertiga akan hidup bahagia." Nada Gavin melembut.
"Gak! Anak ini bukan anakmu!" tolak Stella. "Menjauh dariku. Jangan dekat-dekat denganku lagi."
Gavin masih tidak menyerah. "Stella sayang ...."
"Angkat tangan!"
Belum siap Gavin merayu Stella. Mereka sudah dikejutkan dengan hadirnya gerombolan polisi dengan senjata di tangan. Gavin dan Stella sama-sama memandang ke arah polisi itu. Gavin terlihat panik karena pada akhirnya ia bisa ditemukan oleh para polisi. Sedangkan Stella tidak terlalu peduli dengan keadaan yang ada. Wanita itu terlalu sibuk memikirkan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Tolong ...." lirih Stella.
Gavin yang kebingungan tidak tega meninggalkan Stella dalam keadaan seperti itu. Ditambah lagi kini gaun wanita itu telah dipenuhi dengan darah. Gavin dan polisi yang ada di sana sama-sama khawatir.
"Stella ...."
Alby muncul dari depan. Pria itu bersama dengan Lea. Gavin yang geram tidak mau membiarkan Stella di bawa pergi. Pria itu mengeluarkan senjata apinya dan mengarahkannya ke arah Stella. Jelas saja hal itu membuat panik semua orang. Termasuk Stella sendiri.
"Jika aku tidak bisa memilikinya maka dia tidak boleh menjadi milik siapapun!"