
Alby berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong. Beban yang ia derita saat ini benar-benar berat. Alby tidak tahu harus bagaimana lagi. Sejak pulang ke apartemen dia tidak banyak bicara. Biasanya dia selalu merayu Stella setiap kali bertemu.
Stella menyadari kalau ada yang aneh dari suaminya. Namun sampai detik ini dia juga tidak tahu sebenarnya apa masalah yang terjadi di rumah sana. Mau bertanya dia merasa segan. Bukankah selama ini dia tidak peduli dengan masalah keluarga Alby.
Sambil membawakan segelas air putih Stella berjalan mendekati Alby. Entah kenapa wanita itu tidak mau sampai suaminya jatuh sakit. Ia ingin Alby tetap ceria walau masalah yang dihadapi suaminya belum juga menemukan solusi yang tepat.
"Alby. Apa kau haus? Ini aku bawakan minum," tawar Stella dengan bibir tersenyum manis.
Alby memandang Stella sebelum menerima gelas tersebut. Dia meneguknya secara perlahan. Beberapa tegukan saja. Setelah itu dia meletakkan gelas berisi air minum tersebut di atas meja dekat jendela. Alby kembali memandang keluar. Meletakkan satu tangannya hingga melekat di jendela.
"Marta hamil. Mama tidak siap mendengar kabar ini dan jatuh sakit. Marta sendiri juga sangat frustasi. Dia mencoba untuk bunuh diri tadi. Saat ini aku meminta penjaga untuk mengawasi Marta di manapun dia berada. Aku tidak mau sampai dia bunuh diri."
Stella merasa kalau ini waktu yang tepat untuk mengatakan bagaimana kelakuan Marta selama ini. Dia berharap setelah memberikan laporan ini Alby bisa jauh lebih sedikit tenang dan paham bagaimana kelakuan adik kandungnya. Walau memang kenyataannya terasa pahit.
"Aku pernah bertemu Marta beberapa kali di sebuah hotel. Saat itu aku undangan di pesta pernikahan temanku. Tanpa sengaja aku melihat Marta bersama seorang pria masuk ke salah satu kamar hotel. Bukankah dari situ seharusnya kita sudah tahu bagaimana kelakuan Marta selama ini. Sebagai wanita dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Pria yang bersamanya selalu bergonta-ganti."
Alby tersenyum tipis. Memiringkan tubuhnya lalu memandang wajah Stella. "Marta tidak seperti itu. Pria yang selalu bersamanya adalah pengawal yang aku kirimkan untuk menjaganya. Di dalam kamar hotel itu sudah ada aku yang menunggu. Biasanya dia akan datang mengunjungi ku untuk meminta uang. Aku sering tidur di hotel karena pekerjaan. Memang pakaiannya selalu pendek dan terbuka selama ini. Itu yang membuatku memberikan penjagaan kata terhadapnya. Aku berani jamin, sebelum dia bertemu dengan pria yang sekarang menghamilinya keadaannya masih perawan. Aku berani jamin kalau pria itu adalah pria pertama Marta."
"Di mana pria yang sudah melakukan semua ini. Apa dia tidak mau bertanggung jawab. Nikahkan saja mereka agar anak yang ada di dalam kandungan Marta memiliki ayah. Jika memang Marta sudah memutuskan untuk berhubungan dengan pria itu berarti dia sudah jatuh cinta pada pria itu. Bukankah seharusnya mereka bersatu?" Hanya itu solusi yang bisa diberikan oleh Stella. Dia berharap suaminya tidak menghalangi cinta Marta dan kekasihnya. Walau mereka semua tahu, bagaimana sifat pria itu.
Alby menggeleng pelan. "Pria itu tidak mau bertanggung jawab. Dia meninggalkan Marta begitu saja."
"Kau memiliki banyak pengawal. Kenapa tidak minta salah satu pengawalmu untuk menangkap pria itu. Jika dia tidak mau untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, laporkan saja dia ke polisi. Pria itu harus menderita bahkan lebih jauh menderita dari apa yang dirasakan Marta sekarang.
"Aku akan berusaha untuk menangkap pria itu."
"Kalau boleh aku tahu, siapa nama pria itu? Seperti apa wajahnya. Mungkin saja aku pernah bertemu dengannya dan aku bisa membantumu kali ini."
Alby membisu. Dia tidak bisa memberitahu nama pria yang sudah menghamili Marta. Apalagi sampai menunjukkan fotonya. "Masalah ini biar menjadi urusanku. Kau tetap jaga kesehatan. Maafkan aku karena akhir-akhir ini aku akan sibuk dan tidak memiliki waktu untukmu. Aku harap kau mengerti. Tidak menjadikan masalah ini sebagai alasan untuk menjauhiku." Alby menarik pinggang Stella dan mengecup pucuk kepala wanita itu. Setelahnya dia pergi meninggalkan Stella sendirian di sana. Stella memandang ke luar jendela dengan wajah sedih.
"Aku akan cari tahu sendiri sebenarnya siapa pria sudah berani menodai seorang Marta Zachary," gumam Stella di dalam hati.