Want My Wife

Want My Wife
Bab. 33



Alby mengambil ponselnya dari saku. Pria itu memandang ke arah kamar mandi sebelum mengangkat panggilan masuk tersebut. Telepon itu dari ibu kandungnya.


"Halo, Ma."


"Alby, pulang sekarang." Suara tangisan Ny. Zachary membuat Alby khawatir. Kali ini dia tahu kalau ibu kandungnya sedang tidak berakting.


"Ada apa ma? Kenapa Mama menangis?"


"Pulang Alby. Mama tidak tahu harus bagaimana lagi. Tolong mama. Mama bisa mati jika seperti ini." Bagaimanapun juga wanita yang sedang menghubunginya adalah wanita yang sudah melahirkannya. Alby juga tidak tega mendengar suara tangisan ibunya.


"Baiklah, Ma. Selesai makan siang Alby akan ke sana."


"Jangan bawa wanita itu!" sahut Ny. Zachary lagi.


"Ma, soal itu Alby tidak janji."


"Terserah kau saja!"


Panggilan telepon itu langsung terputus. Alby memandang ponselnya sambil menghela napas panjang. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mama menangis sampai seperti itu. Jika dilihat dari keuangan seharusnya tidak ada masalah," gumam Alby di dalam hati.


Stella keluar dari kamar mandi. Wanita itu memandang Alby sekilas sebelum berjalan menuju ke meja rias. Dia baru saja selesai mandi. Cuaca yang panas membuat tubuhnya terasa gerah.


"Setelah ini apa yang ingin kau lakukan?" tanya Alby.


Stella yang sedang menyisir rambutnya segera berputar memandang Alby. "Tidak ada. Aku lelah. Setelah makan siang aku mau tidur."


Alby mengangguk. Dia turun dari tempat tidur dan mendekati Stella. "Aku mau pulang. Aku harus menemui mama. Mama baru saja telepon. Dia menangis. Aku tidak tahu ini rencana dia untuk membuatku pulang atau dia memang benar-benar berada dalam masalah."


"Pergilah. Dia ibu kandungmu. Tidak sepantasnya hubungan kalian seperti ini," jawab Stella. Wanita itu kembali memandang cermin dan menyisir rambutnya.


Stella menggeleng cepat. "Tidak. Aku tidak mau ribut dengan ibumu. Apa lagi dengan Marta."


Alby mengeryitkan dahinya. "Marta sudah pulang?"


"Kau tidak tahu?" Stella memandang Alby dari pantulan cermin.


"Tidak. Kau tahu darimana?"


"Dia ke sini kemarin. Memarahiku. Dia iri karena aku tinggal di apartemen mewah. Dia bilang, ini apartemen impiannya," jawab Stella apa adanya.


"Dia seorang wanita. Aku tidak mau dia sampai salah dalam pergaulan. Sudah lama dia memintaku untuk membelikannya apartemen. Tetapi sampai detik ini aku tidak juga membelikannya. Bukan karena aku tidak memiliki uang. Tetapi aku takut pergaulannya semakin bebas. Zaman sekarang wanita harus benar-benar jaga diri agar kehormatannya tetap terjaga."


Tanpa disadari perkataan Alby telah menyinggung perasaan Stella. Wanita itu tersenyum kecil sebelum pergi meninggalkan kamar. Alby memejamkan matanya dengan penuh penyesalan. Dia memukul mulutnya sendiri karena tidak bisa menjaga perasaan Stella.


"Apa yang baru saja kukatakan. Stella pasti marah padaku. Padahal sudah sebulan terakhir ini kami baik-baik saja. Bagaimana kalau setelah ini sikapnya berubah lagi?"


Stella duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Ia kembali mengingat perkataan Alby di kamar tadi. Tidak ada yang salah dari perkataan Alby. Pria itu hanya berusaha menjaga adiknya agar menjadi jauh lebih baik. Tetapi Stella sendiri tahu bagaimana Marta. Sebelum menikah dengan Alby, dia sempat beberapa kali bertemu dengan Marta. Waktu itu mereka memang tidak saling kenal. Tapi Stella tahu kalau Marta sering bergonta-ganti pasangan dan masuk ke dalam hotel. Stella sangat ingin memberitahu semua yang terjadi. Tetapi dia tidak memiliki bukti apapun.


"Maafkan Aku," bisik Alby yang tiba-tiba saja muncul di belakang Stella. "Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu."


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Sekarang Ayo kita makan. Bukankah kau harus segera pergi menemui ibumu."


Alby duduk di salah satu kursi. Pria itu memandang Stella sebelum mengisi piring kosongnya dengan makanan. "Aku mencintaimu Stella."


Seperti biasa. Stella hanya diam saja tanpa mau menjawab pernyataan cinta Alby. Wanita itu menaruh lauk pauk di atas piring Alby sebelum mulai makan.


"Maafkan aku Alby. Sampai sekarang aku belum mengerti dengan perasaanku sendiri," gumam Stella di dalam hati.