Want My Wife

Want My Wife
Bab. 39



"Selamat, Tuan. Istri anda hamil. Mulai sekarang, perhatian kesehatan istri anda. Karena dia tidak sendirian lagi. Ada janin yang harus di jaga dan harus diperhatikan perkembangannya. Saya akan memberikan vitamin. Nona Stella hanya kelelahan saja. Usia trimester pertama memang fase yang berat bagi ibu hamil."


Gavin tidak bisa menghilangkan perkataan dokter di rumah sakit tadi dari pikirannya. Meskipun kini Stella sudah bersama dengannya, tetapi dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Telah ada seorang bayi di dalam rahim kekasihnya yang akan menjadi penghalang bersatunya. Sejenak, Gavin ingin menjadi pria tega saja. Memberi obat penggugur kandungan agar anak itu mati. Tetapi, seorang bayi tidak berdosa. Bagaimana mungkin dia tega melakukan semua itu?


Gavin mematikan putung rokok untuk yang kesekian kalinya. Stella masih belum sadarkan diri. Kini wanita itu berbaring di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman milik Gavin. Kepulan asap rokok memenuhi kamar itu. Gavin sengaja tidak menghidupkan pendingin ruangan agar Stella segera sadar. Mereka harus bicara. Ya, mereka harus bicara.


Hubungan ini harus jelas. Gavin tidak mau kehilangan Stella. Jika memang Stella bersih keras mempertahankan anak yang ada di dalam kandungannya, Gavin juga rela menerim anak itu menjadi anaknya.


"Alby," lirih Stella masih dengan mata terpejam.


Gavin menyunggingkan senyuman tipis. Bahkan di saat tidak sadar saja wanita itu masih ingat dengan Alby. Gavin merasa posisinya benar-benar tersingkir. Walau begitu, dia tetap tidak akan menyerah.


"Ini aku. Gavin!" tegas Gavin. Berharap Stella segera membuka matanya dan memandang wajahnya.


Stella mengeryitkan dahinya. Dia membuka kedua matanya secara perlahan sebelum memandang Gavin. Pertama kali melihat wajah Gavin membuat Stella terperanjat kaget. Wanita itu berangsur mundur hingga bersandar di depan dipan tempat tidur.


"Gavin, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Stella. Dia sampai lupa dengan apa yang terjadi sebelum tidak sadarkan diri.


Gavin mematikan rokoknya yang terakhir. Pria itu beranjak dan naik ke atas tempat tidur. "Aku merindukanmu. Aku membawamu ke tempat ini karena aku sangat merindukan. Kau pasti tahu apa yang aku inginkan jika aku sedang merindukan."


"Tidak, Gavin. Kita tidak bisa seperti itu lagi." Stella memeluk kakinya dan memeluk tubuhnya sendiri. "Jangan lakukan itu lagi. Aku tidak mau."


"Kenapa? Apa di matamu aku ini sudah terlihat menjijikkan? Sampai-sampai kau tidak mau aku sentuh lagi."


"Aku sudah menikah. Aku sudah memiliki suami. Tubuhku tidak bisa disentuh oleh sembarang pria lagi. Hanya suamiku yang boleh menyentuhnya," jawab Stella dengan penuh keyakinan.


"Mungkin aku akan bunuh diri setelahnya agar Namaku tidak ada di dunia ini lagi. Sekarang keputusan ada di tanganmu. Jika kau ingin melakukannya, lakukan saja. Tapi bersiap-siaplah kehilangan untuk selamanya."


Gavin tertawa dengan keras ketika mendengar ancaman Stella seolah-olah perkataan wanita itu adalah sebuah lelucon. "Kau semakin pintar sekarang. Apa memang sudah sebersih itu namaku di hatimu sampai-sampai kau sebegitu menjijikannya memandangku. Kau harus ingat Stella, kalau kita pernah menjalin sebuah hubungan. Saling mencintai dan janji untuk hidup semati. Aku pikir kau ini wanita yang cerdas. Tidak pernah ingkar janji. Ternyata kau sama saja dengan wanita di luar sana. Habis manis sepah dibuang."


"Anggap saja aku sekejam itu agar kau mudah untuk melupakanku," gumam Stella di dalam hati.


"Oke, baiklah. Jika kau tidak mau ku sentuh lagi, gak masalah." Gavin menjauh dari tempat tidur. "Yang penting kau bersamaku. Habiskan sarapanmu. Setengah jam lagi aku jemput. Ganti pakaianmu dengan pakaian yang sudah aku sediakan. Jika kau masih membantah, kau tahu sendiri akibatnya!" Setelah mengancam Stella, Gavin segera meninggalkan kamar itu. Pria itu mengunci pintu dari luar. Dia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu kehamilan Stella. Dia sengaja merahasiakan hal itu agar Stella tidak terus menerus ingat dengan Alby.


Di dalam kamar, Stella segera berlari ke arah telepon yang ada di atas meja dekat jendela. Wanita itu duduk di sofa dan segera menekan nomor telepon Alby. Sambil memandang ke arah pintu, wanita itu berharap panggilan teleponnya segera di angkat di seberang sana.


"Alby, cepat angkat," gumam Stella dengan penuh kekhawatiran.


"Halo."


"Alby, ini aku!"


Gavin membuka pintu dan berlari. Stella melebarkan kedua matanya sebelum berteriak. "Pantai!"


Brukkk. Telepon itu hancur ketika Gavin merebutnya dan melemparkannya ke lantai. Dengan wajah memerah karena emosi, pria itu menatap Stella dengan geram.


"Sepertinya kau harus di hukum, Honey."