Want My Wife

Want My Wife
Bab. 57



Setelah kejadian itu Gavin pun menghilang tanpa kabar. keadaan Stella menjadi jauh lebih baik. Begitu juga dengan Marta. Dokter bilang kalau kemungkinan besar HPL mereka berdua sama. Meskipun meleset tidak akan jauh.


Hari ini tiba-tiba saja Stella dikagetkan dengan kemunculan ibu mertuanya dan juga Marta. Wanita itu sempat kaget awalnya karena memang saat itu setelah yang membuka pintu sedangkan Alby masih ada di dalam kamar.


"Tante, silakan masuk." Stella memberikan jalan kepada ibu mertua dan adik iparnya untuk masuk ke dalam. Wanita itu kembali menutup pintu setelahnya. "Alby ada di kamar. Biar saya panggilkan. Anda bisa duduk di sana."


Meskipun hubungan Stella dan Alby sudah semakin membaik. Tapi sikap Stella memperlakukan mertua dan adik iparnya tetap sama. Wanita itu tidak mau sampai berlebihan memperlakukan mertuanya. Memang bisa dibilang sampai detik ini belum ada kata maaf di antara mereka.


Stella melangkah menuju ke kamar. Sambil melangkah wanita itu menebak-nebak sebenarnya apa yang ingin dilakukan mertua dan adik iparnya datang ke apartemen ini.


Setibanya di dalam kamar, Alby masih baru bangun tidur. Pria itu duduk di atas tempat tidur dan separuh tubuhnya masih tertutup selimut.


"Sayang, kenapa kau meninggalkanku ketika tidur?"


"Mama dan Marta ada di depan," jawab Stella tanpa basa-basi. "Aku mau mandi," ujar wanita itu setelahnya.


"Mama dan Marta?" Alby segera beranjak dari tempat tidur. Pria itu mengejar Stella dan menahan wanita itu sebelum masuk ke dalam kamar mandi. "Kau mau kemana? Bukankah tadi kau sudah mandi?"


Stella membisu karena ketahuan berbohong. "Aku ...."


"Ayo ikut denganku menemui mama dan Marta." Tanpa menunggu persetujuan Stella, Alby menarik wanita itu dan mengajaknya untuk menemui Marta dan juga mertuanya.


Melihat kemunculan Alby dan Stella membuat Ny. Zachary beranjak dari sofa. Wanita paruh baya itu menghampiri Alby dan memeluk pria itu sambil menangis.


"Pulang Alby. Mama sangat merindukanmu," lirih wanita itu.


Stella hanya diam saja. Dia melirik Marta sekilas sebelum memalingkan wajahnya.


"Ma, duduklah." Alby mengajak ibu kandungnya untuk kembali duduk. Namun pria itu tetap tidak melupakan istrinya. Dia menggenggam tangan Stella dan membawa wanita itu untuk duduk di sofa yang sama dengannya.


"Ma, Alby belum bisa pulang." Alby memandang Stella lagi. "Stella lagi hamil. Dia butuh ketenangan. Bukan Alby tidak percaya dengan apa yang mama katakan. Tetapi Alby tidak mau ada masalah baru lagi. Untuk saat ini kamu ingin tetap tinggal di apartemen ini. Alby ingin menjaga istri Alby sendiri."


"Tapi mama dan Marta juga bisa menjaga Stella. Setidaknya Stella memiliki teman ketika kau berangkat ke kantor Alby," bujuk Ny. Zachary. Wanita itu tidak mau sampai gagal mengajak putra dan menantunya kembali ke rumah.


"Maafkan Alby, Ma. Tapi keputusan Alby sudah bulat. Alby akan tetap di sini bersama Stella." Sebenarnya Alby sedih berpisah dari ibu kandungnya. Tetapi mau bagaimana lagi. Hanya ini yang bisa dia lakukan demi menjaga keutuhan rumah tangganya bersama Stella.


Ny. Zachary memandang Stella. Wanita itu beranjak dan berlutut di depan Stella. "Maafkan mama nak."


"Tante, apa yang Tante lakukan?" Stella terlihat kebingungan.


"Ma, jangan seperti ini." Alby juga meminta ibunya kembali berdiri.


"Mama tidak mau di panggil Tante. Aku ini ibu mertuamu, Stella. Tolong panggil aku mama."


Stella terlihat tidak tega. Memang jika di lihat dari ekspresi wajah wanita itu dia sepertinya bersungguh-sungguh dan memang sudah mengakui kesalahannya.


"Mama?" celetuk Stella.


"Stella, kita pulang ya. Ajak Alby pulang ke rumah."


Stella menghela napas. "Ma, sebagai seorang istri. Stella ikut kemana Alby berada. Keputusan ada di tangan Alby." Stella memandang Alby sejenak sebelum memandang ibu mertuanya lagi.


"Tapi mama ingin kita satu rumah lagi." Ny. Zachary menangis. Wanita itu merasa kecewa karena putranya tidak mau ikut pulang.


"Maafkan Alby, Ma. Tetapi hanya ini yang bisa Alby lakukan agar hubungan mama dan Stella bisa membaik. Tidak seperti dulu lagi," gumam Alby di dalam hati.