
Malam sudah semakin larut. Alby merasa kepanasan malam itu. Dia juga terlihat gelisah. Tenggorokannya yang kering memaksa kedua matanya untuk segera terbuka. Berapa kagetnya Alby ketika melihat Gavin berdiri di dekatnya dengan senjata api mengarah ke arahnya. Sejenak Alby berpikir semua ini hanya mimpi. Dia mencari Stella yang tidak ada di dekatnya.
"Kenapa? Kau mencari kekasihku?" tanya Gavin. Senyum pria itu seperti sedang meledek Alby. Tetapi Alby tidak berhenti mencari Stella, hingga akhirnya pria itu menemukan Stella yang sedang tertidur di sofa. Wanita itu tidak sadar kalau Gavin telah ada di ruangan itu dan berniat membunuh suaminya.
"Tidak semudah itu membunuhku!" ujar Alby mantap.
Sebuah gelas yang berdiri di atas meja dekat Stella tidur tiba-tiba terpental karena seseorang menembaknya. hal itu bukan hanya membuat kaget Gavin saja. Tetapi juga Stella. Stella segera beranjak dan membuka matanya. Berapa kagetnya wanita itu melihat kekasihnya berdiri di sana hendak membunuh suaminya.
"Gavin, apa yang ingin kau lakukan?" Stella segera berlari mendekati Gavin dan Alby. Dia tidak mau sampai ada pembunuhan malam ini.
Alby merasa puas dengan kerja bawahannya. Sniper itu telah berhasil melindunginya. "Stella, sepertinya mantan kekasihmu ini menginginkan nyawaku. Dia ingin merebutmu dariku," ucap Alby.
"Aku akan benar-benar menembakmu jika kau tidak berhenti bicara!" ancam Gavin.
"Gavin, stop! Turunkan senjatamu sekarang juga!" Stella yang sudah sangat dekat dengan Gavin berharap bisa menenangkan pria itu agar tidak sampai mencelakai Alby.
"Tidak, Stella. Pria ini sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Aku harus menghabisinya!" jawab Gavin.
"Jika kau sampai membunuh Alby, aku tidak akan pernah mau bersama denganmu lagi Gavin!"
Ancaman Stella berhasil membuat Gavin menurunkan senjata apinya. Walau pada akhirnya wajah pria sangat kecewa.
"Kau membelanya?" Ini bukan pertama kalinya Stella membela Alby. Hal itu membuat Gavin marah dan geram.
"Aku tidak membelanya. Aku hanya tidak ingin hukumanmu semakin berat," jawab Stella.
Walau jawaban Stella sangat mengecewakan bagi Alby, tetapi pria itu justru ingin memanfaatkan kondisi itu untuk memiliki Stella seutuhnya.
"Kau bisa membunuhku sekarang juga. Aku sama sekali tidak takut mati. Karena hidupku akan sia-sia jika Stella tidak ada di sisiku."
Stella mengeryitkan dahinya. "Alby, diamlah! Sebaiknya kau tidak bicara apapun daripada harus memperkeruh keadaan!"
"Kenapa Stella? Kau menyalahkanku? Apa kau lupa dengan rencana kita? Kita akan memiliki baby."
Deg.
Gavin lagi-lagi disulut api emosi. Dia menatap wajah Stella yang kini terlihat panik. "Apa yang sudah kau lakukan bersamanya? Kau sudah tidur dengannya?"
"Ya. Kami bahkan melakukannya berulang kali. Apa itu salah? Kami sudah menikah!"
Gavin seperti tidak sabar menarik pelatuk senjata apinya. Di saat yang bersamaan, Stella merebut paksa senjata berbahaya tersebut.
"Semua tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Stella. Dia berusaha membela dirinya.
"Kau sudah membiarkan pria ini menyentuhmu, Stella. Kau sudah berjanji untuk tidak membiarkan pria manapun menyentuh tubuhmu. Hanya aku yang boleh melakukannya!"
"Gavin, tapi aku juga tidak ingat apa yang terjadi!" Stella mulai menangis. Wanita itu juga tidak sanggup menyakiti Gavin hingga seperti ini.
"Kau pembohong Stella." Gavin memegang tangan Stella. "Tidak ada penawaran lagi. Sekarang juga kau harus ikut denganku. Kita tinggalkan kota ini."
Ketika Stella ingin di bawa kabur, tiba-tiba tangan Stella yang satu lagi sudah di genggam oleh Alby. Pria itu tidak akan membiarkan istrinya pergi bersama dengan pria lain. "Langkahi dulu mayatku jika kau ingin membawa Stella pergi dari sini!"