
Cesy melepaskan jaket berbulu yang ia kenakan. Meletakkannya di sandara sofa yang ada di kamar. Tas jinjing yang berisi barang-barang pribadinya, ia letakkan di atas meja. Ketika ingin melangkah ke kamar mandi, Cesy dikagetkan dengan kemunculan Gavin di kamar itu. Pria itu berdiri dan memandangnya dengan tatapan penuh arti.
"Kakak?"
"Darimana saja kau?" tanya Gavin. Dia ingin tahu kemana adiknya pergi hingga semalaman tidak pulang.
"Aku ... Aku menemui Alby," jawabnya. Berharap kakaknya tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau tidak ada di rumah sakit tadi malam." Gavin mendekati Cesy. "Katakan sejujurnya. Kau ke mana tadi malam?"
"Aku aku ..." Cesy seperti sedang memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab kakaknya. "Aku tidur di hotel. Aku ada janji dengan teman."
"Sejak kapan kau memilki teman?Siapa namanya? Dimana dia tinggal?"
Cesy mendorong Gavin karena pria itu semakin menghimpit tubuhnya. "Kakak, jangan curigai aku seperti seorang pencuri. Yang penting sekarang aku pulang dalam keadaan baik-baik saja." Cesy melangkah menuju ke meja yang berisi air minum di sana.
"Kau yang sudah membuatku gagal membawa Stella tadi malam!"
Cesy yang ingin meneguk air putih terpaksa menundanya. Wanita itu memutar tubuhnya dengan alis saling bertaut. "Apa maksud kakak? Memangnya apa yang sudah kakak lakukan tadi malam?"
"Jangan bersikap bodoh, Cesy. Aku tahu segalanya." Gavin memamerkan sebuah peluru di tangannya. "Ini milikmu bukan?"
Cesy mengeryitkan dahinya. "Ya, itu milikku. Dari mana kakak mendapatkannya?" Cesy berjalan mendekati Gavin untuk memastikan apakah benar peluru yang di pegang Gavin itu benar miliknya.
"Kenapa kau melindungi pria itu Cesy?" Tiba-tiba saja Gavin menggenggam tangan Cesy dengan begitu erat sampai Cesy meringis kesakitan.
"Kau sniper itu? Kau yang sudah menghalangiku membawa Stella pergi kan? Untuk apa kau melindungi Alby? Apa kau cinta padanya?"
Cesy menghempaskan tangan Gavin. "Apa maksud kakak? Tadi malam setelah pulang dari rumah sakit, aku langsung pergi ke hotel dan istirahat. Aku bahkan tidak tahu kalau kakak datang ke rumah sakit tadi malam. Sebenarnya apa yang sudah terjadi kak? Tenanglah. Jangan langsung emosi."
Gavin menghela napasnya untuk kembali tenang. Dia juga tidak mau sampai menyakiti adiknya walau sebenarnya saat ini dia merasa sangat kecewa. "Sampai kapan? Sampai kapan kau seperti ini? Jika kau memang benar-benar mencintai pria brengsek itu, aku tidak akan melarangmu. Aku justru akan mengajakmu untuk bekerja sama untuk memisahkan mereka. Alby denganmu dan Stella denganku. Bagaimana? Kau tidak perlu bertingkah seolah kau ada di pihakku. Aku tahu selama ini kau melindungi pria itu. Hanya kau satu-satunya yang tahu semua rencanaku Cesy."
"Kak, sejak awal sudah aku bilang kalau aku tidak pernah menyukai Alby. Kami memang berteman. Tapi kemunculanku di kota ini, murni karena aku ingin membantu kakak. Bukan karena ingin melindungi Alby. Kakak harus percaya padaku." Cesy memegang tangan Gavin berharap hati kakak kandungnya itu luluh dan tidak menuduhnya yang aneh-aneh lagi.
"Awalnya aku percaya padamu. Setelah kejadian tadi malam, aku sudah tidak percaya padamu lagi Cesy. Mulai sekarang, aku akan melakukan semuanya sendiri. Jika kau masih menghargaiku sebagai kakakmu, malam ini kembalilah ke Belanda. Aku tidak mau melihat kau lagi besok pagi!" Gavin memutar tubuhnya. Hanya ini keputusan yang ia ambil demi kebaikan bersama. Jika memang semua hal buruk yang ia pikirkan itu benar, setidaknya dia tidak harus menyakiti adiknya.
Cesy mengepal kuat kedua tangannya. Rasanya dia sendiri belum rela untuk meninggalkan kota itu. Apa lagi saat kakaknya berstatus sebagai buronan seperti sekarang. Walau tidak bisa membantu banyak, setidaknya selama ini Cesy banyak menolong Gavin hingga lolos dari kejaran para polisi.
"Akui harus membujuk kak Gavin. Aku tidak mau kembali ke Belanda," gumamnya di dalam hati. Cesy melihat peluru yang ada di tangannya. "Dari mana Kak Gavin mendapatkan benda mungil ini? Jika dia tidak menemukan benda ini, pasti dia tidak akan pernah tahu kalau tadi malam akulah sniper yang sudah melindungi Alby," gumam Cesy di dalam hati. "Aku sudah sangat yakin kalau tadi malam tidak ada satu pelurupun yang tersisa."
Di sisi lain, Gavin membanting pintu kamarnya dengan wajah dipenuhi emosi. Masalah tadi malam saja sudah membuatnya ingin marah. Sekarang di tambah lagi dengan masalahnya dengan Cesy. Memang sejak awal Gavin sudah curiga kalau adiknya itu memiliki rasa terhadap Gavin. Beberapa kali rencana mereka harus gagal padahal tidak ada yang tahu dengan rencana mereka selain mereka sendiri. Namun, tidak pernah terbesit di ingatannya kalau adik kandungnya itu ada di pihak Alby.
"Cesy, kau sungguh mengecewakan. Kenapa dua wanita yang aku banggakan tidak pernah bisa memikirkan perasaanku? Kenapa mereka dia menjadi egois. Aku selalu memperlakukan mereka seperti ratu selama ini. Tapi, kenapa mereka tidak pernah mengerti dengan apa yang aku inginkan?"
Gavin mengusap wajahnya dengan tangan. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memandang langit-langit kamar dengan napas memburu cepat. "Sekarang apa lagi yang harus aku lakukan? Aku harus menyiapkan rencana baru yang benar-benar belum pernah didengar oleh Cesy. Tapi, apa? Sekarang di tambah lagi Stella juga sudah lebih banyak memihak ke pria brengsek itu. Dia bahkan seperti sudah tidak mencintaiku lagi."
Gavin meraba ponselnya di dalam saku. Dia mengeryitkan dahi sebelum duduk. Pria itu memperhatikan foto yang dikirim seseorang ke dalam ponselnya.
"Apa yang mereka lakukan? Mereka mau kemana?"