
Stella kesulitan bernafas. Dipandangnya wajah Gavin yang dipenuhi dengan emosi. Dia tahu bagaimana watak mantan kekasihnya itu. Apapun akan pria itu lakukan jika dia dalam keadaan emosi. Stella tidak mau sampai terjebak lagi. Dia tidak mau Gavin menyentuh tubuhnya. Dalam waktu yang singkat wanita itu mulai mencari cara agar Gavin mengurungkan niatnya untuk menodainya.
"Maafkan aku."
Stella Beranjak dari sofa dan segera memeluk Gavin. Dia terpaksa meneteskan air mata dan kesedihan palsu di depan Gavin. Hanya ini yang bisa ia lakukan agar emosi Gavin meredam. "Jangan memandangku seperti itu. Aku sangat takut," lirih Stella. Tidak lupa dia menyelingi ucapannya dengan isak tangis agar terlihat nyata kalau memang dia sangat ketakutan.
Seperti apa yang telah dipikirkan oleh Stella. Gavin mengangkat tangannya dan mengusap rambut wanita itu. Dilihat dari perlakuannya emosi pria itu telah reda. Dia mulai bisa berpikir jernih lagi.
"Aku tidak bisa menyentuhnya dalam keadaan hamil seperti ini. Tadi dokter sempat melarangku karena kandungan Stella sangat lemah. Aku tidak peduli jika anak itu sampai keguguran. Aku hanya tidak mau nyawa Stella terancam," gumam Gavin di dalam hati. Dia menarik rambut Stella hingga wanita itu bisa memandang wajahnya dengan jelas. "Apa kau sudah menyadari kesalahanmu?"
Stella menggangguk. "Jangan marah lagi."
"Tidak akan." Tanpa permisi Gavin mencium bibir Stella. Pria itu sangat merindukan kekasihnya. Ia mencium bibir Stella dengan penuh kelembutan. Sebenarnya dia sangat ingin lebih dari itu. Tapi lagi-lagi dia memikirkan nyawa Stella.
Stella meremas gaun yang ia kenakan sambil memejamkan mata. Ingin menolak tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Stella Tidak mau Gavin mengetahui apa yang sudah ia rencanakan.
"Kau harus sarapan," pinta Gavin Sambil memberikan segelas air minum yang dia ambil dari atas meja.
Stella menggeleng. "Aku tidak lapar."
"Tapi kau harus makan. Kau bisa sakit jika tidak makan." Gavin memaksa Stella. Dia menarik Stella ke dekat meja yang sudah tersedia sarapan dan mendudukkan wanita itu di sana. "Biar aku suapi."
"Aku bisa makan sendiri." Stella merebut piring yang sempat digenggam oleh Gavin. Wanita itu meletakkannya di meja lagi dan mengambil roti yang juga ada di sana. Belum juga memasukkan roti ke dalam mulut, Wanita itu sudah merasa mual. Telur mata sapi yang ada di hadapannya membuatnya ingin muntah. Dengan cepat Stella menjauhkan makanan yang ada di dekatnya dan berlari ke arah kamar mandi. Wanita itu ingin mengeluarkan semua isi di dalam perutnya meskipun dia belum memakan apapun.
Gavin memijat kepalanya yang terasa pusing. Jika tidak tahu kalau Stella hamil, mungkin kini pria itu juga khawatir melihat kondisi Stella. Tetapi dia paham ini adalah reaksi yang sering ditimbulkan oleh wanita hamil. Hari ini Gavin benar-benar dibuat bingung menghadapi keadaan Stella.
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin membiarkannya mual-mual seperti itu. Aku juga tidak bisa membawanya ke dokter kandungan. Dia bisa tahu kalau sekarang dia sedang hamil. Itu hanya akan membuatnya semakin membangkang dan memaksaku untuk memulangkannya kepada Alby. Aku tidak mau mereka bersatu lagi."
Gavin menopang kepalanya dengan tangan. Pria itu melamun sambil memikirkan solusi yang tepat. "Cesy, sepertinya sekarang aku butuh bantuannya."