
Stella kaget bukan main ketika mendengar suara tembakan di sampingnya. Padahal jelas-jelas dia belum menembak. Wanita itu memandang ke arah Gavin dan Alby yang sama-sama berhenti bergerak. Entah siapa yang terkena tembakan. Kini dua pria itu terlihat seperti patung.
Stella memandang ke samping dan melihat Marta yang kini memegang senjata api di tangannya. Wanita itu juga meneteskan air mata karena ini adalah tembakan pertama yang pernah ia lakukan. Ada senyum di bibir Marta ketika dia melihat Alby menghempaskan tubuh Gavin yang sudah tidak bernyawa.
Senjata api yang sempat digenggam oleh Stella terlepas begitu saja dari tangannya ketika ia melihat Alby baik-baik saja. Wanita itu terduduk lalu menangis tersedu-sedu. Satu hal yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari jarak yang begitu dekat.
Lea tertembak di bagian dada hingga wanita itu berdiri sambil meringis dan menahan rasa sakit yang begitu luar biasa. Dengan kemampuan sekedarnya, Marta menembak pria yang sudah menembak Lea. Tembakan wanita itu memang tidak tentu arah namun berhasil menusuk di organ vital hingga membuat pria itu tergeletak di lantai. Alby berlari untuk menangkap tubuh Lea yang hampir terjatuh. Stella hanya bisa menonton dari tempatnya duduk. Wanita itu benar-benar syok melihat semua yang terjadi hari ini. Darah di mana-mana dan manusia tewas dengan keadaan yang begitu mengerikan. Termasuk pria yang dulu sangat dia cintai.
"Kak, tenanglah," bujuk Marta. Wanita itu mendekati Stella lalu memeluk Stella. Stella hanya bisa menangis sejadi-jadinya ketika sudah ada di dalam pelukan Marta. "Semua sudah berakhir. Pria jahat seperti Gavin pantas mendapatkan hukuman seperti ini. Penjara bukan tempat yang pantas untuknya," ucap Marta lagi.
Alby tidak lagi mempedulikan Stella yang menangis tersedu-sedu. Kini ada Lea di pangkuannya yang sedang dalam keadaan kritis.
"Lea kenapa kau ke sini? Kondisimu belum benar-benar pulih," protes Alby. Meskipun dia tidak tega melihat kondisi Lea yang sekarang namun rasanya ingin sekali pria itu memarahi Lea.
"Saya tidak mau anda celaka, Tuan," jawab Lea dengan suara yang sudah lemah.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri. Sekarang lihatlah yang terjadi. Kau celaka karena terlalu egois."
"Tuan, sebelum saya pergi untuk selama-lamanya. Ada yang ingin saya ucapkan kepada anda. Saya harap anda tidak membenci saya setelah mendengar semuanya."
"Kita harus segera ke rumah sakit bukan bercerita. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Jangan, Tuan. Jangan lakukan itu karena aku tahu kalau kesempatanku untuk hidup sudah tidak ada lagi. Tolong dengarkan apa yang ingin aku katakan."
Alby tidak memiliki pilihan lain selain tetap diam di sana. Pria itu memandang Lea dengan rasa yang begitu kasihan. Dia tidak sabar untuk melarikan Lea ke rumah sakit agar nyawanya segera tertolong.
Alby hanya diam saja. Sebenarnya pria itu juga tidak suka jika Lea mencintainya seperti ini. Tapi kini wanita itu dalam keadaan sekarat. Alby tidak bisa memarahinya seperti biasa. "Katakan apa permintaan terakhirmu," ucap Alby dengan wajah yang serius.
"Saya ingin Anda mencium saya. Biarkan saya pergi dalam keadaan bahagia."
Alby mematung mendengarkan mintaan Lea. Dia tidak mungkin bisa mencium wanita itu. Kini ada wanita yang ia cintai berdiri di sana. Stella dan Marta berdiri memandang Alby dan Lea. Sebenarnya Stella sendiri juga tidak tega melihat keadaan Lea yang seperti itu. Bahkan dia rela jika Alby mencium Lea demi permintaan terakhir wanita itu.Dia tidak akan marah.
Berbeda dengan Alby yang hanya diam saja sambil memandang ke arah Lea. "Saya tidak pernah menyesal sudah mencintai anda, Tuan." Lea tersenyum dan memejamkan mata meskipun Alby belum menciumnya. Tidak lama setelah itu, Lea pergi untuk selama-lamanya di atas pangkuan Alby.
"Kenapa kau tidak menciumnya? Kenapa kau tidak mengabulkan permintaan terakhirnya, Alby," tanya Stella sambil menghapus air matanya.
Alby memandang Stella. Dia meletakkan Lea dengan hati-hati di lantai. "Aku tidak pernah mau mencium wanita yang tidak aku cintai. Hanya Kau satu-satunya wanita yang aku cintai, Stella."
Stella tidak tahu harus senang atau sedih sekarang. Tetapi wanita itu merasa bangga karena sudah mencintai Alby.
"Kemarilah." Alby membuka kedua tangannya. Stella segera berlari untuk memeluk Alby. Wanita itu memejamkan matanya dan memeluk Alby dengan sangat erat. "Aku mencintaimu Alby. Sangat-sangat mencintaimu," ucap Stella hingga membuat Alby dan Marta sama-sama tersenyum.
"Aku juga mencintaimu sayang. Sangat-sangat mencintaimu." Alby mencium pucuk kepala Stella.
Kepergian Gavin mengakhiri masalah yang terjadi selama ini. Alby telah berhasil mendapatkan balasan cinta dari Stella. Meskipun harus banyak yang dikorbankan dan menguras banyak emosi tetapi akhirnya Alby berhasil memenangkan hati Stella.
"Tidak selamanya yang kita perjuangkan bisa berhasil kita dapatkan. Tetapi tidak berjuang juga tidak menentukan sebuah kemenangan." Alby Zachary.