Want My Wife

Want My Wife
Bab. 25



Stella memandang pantulan dirinya melalui cermin yang ada di kamar. Bibirnya tersenyum indah melihat rambut barunya. Wajahnya juga terlihat jauh lebih segar jika dibandingkan sebelum masuk ke salon. Stella benar-benar puas walau ini perawatan perdananya dengan wanita tadi. Secepatnya dia akan melakukan perawatan lain untuk mempercantik dirinya sendiri.


Deringan ponsel membuat Stella melangkah ke meja. Wanita itu mengeryitkan dahi melihat nomor Gavin muncul di layar ponselnya. Ada perasaan ragu untuk mengangkat panggilan telepon pacarnya tersebut. Namun, Gavin akan membuat masalah jika Stella sampai mengabaikannya.


"Halo, Gavin."


"Sepertinya kau sangat bahagia bisa pindah rumah Stella. Apa kau menikmati kebersamaanmu dengannya? Kau bahkan tidak memberi tahuku soal masalah ini. Apa kau sengaja menghindar dariku?"


"Gavin, aku hanya tidak mau kau dan Alby bertengkar."


"Omong kosong apa lagi sekarang Stella? Bertengkar?" Gavin tertawa meledek. "Pertengkaran seperti apa yang kau maksud? Kami tidak pernah bertengkar. Aku hanya memberinya pelajaran kecil saja. Bertengkar itu pertarungan antara dua jagoan. Bukan satu jagoan yang melawan seorang pecundang!"


Entah kenapa ada perasaan marah di dalam hatinya ketika Gavin menghina Alby sebagai pecundang. "Gavin, kita putus!"


"Apa?"


"Ya. Kita putus. Antara kita tidak ada hubungan apapun lagi. Jangan ganggu aku!" Stella segera memutuskan panggilan telepon tersebut. Dia tahu akan banyak kalimat umpatan yang akan dia dengar jika tidak panggilan telepon itu tetap tersambung. Stella bahkan mematikan ponselnya dan menyimpan ponselnya di dalam laci. Wanita itu mengatur napasnya yang tidak karuan. Dia tidak menyangka bisa seberani ini. Padahal sebelumnya, Stella berpikir kalau dia akan mati jika hidup tanpa Gavin. Ternyata dia salah. Perasaan bisa kapan saja berubah. Sekarang perasaan Stella untuk suaminya. Alby.


"Apa yang baru saja aku lakukan? Aku tahu Gavin juga tidak mungkin membiarkan kami bahagia," gumam Stella di dalam hati. "Dia pasti marah. Dia pasti akan membunuhku."


Sekarang bukan rasa bersalah lagi yang memenuhi pikiran Stella. Justru wanita itu merasa ketakutan. Dia tahu kalau Alby tidak akan mampu mengalahkan Gavin. Walau uang yang dimiliki Alby banyak, tetapi pengalaman dalam dunia gelap yang dimiliki Gavin tidak bisa diragukan. Jika berkelahi, Gavin sudah pasti akan menjadi pemenangnya.


"Stella."


"Ada apa? Kenapa kau ketakutan seperti ini?"


"Alby, aku...." Stella tidak tahu harus bicara jujur atau tidak. Tetapi, dia juga belum memiliki rasa kepada Alby. Stella tidak mau Alby berharap semakin besar setelah tahu kalau dia dan Gavin sudah tidak memiliki hubungan lagi.


"Stella, kau baik-baik saja?"


"Aku takut sendirian di tempat ini. Aku merasa agak aneh," dusta Stella. Dia sudah memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang terjadi.


"Aneh?" Alby menarik tangan Stella dan membawanya ke sofa. "Aneh kenapa? Ceritakan padaku."


Alby meletakkan Stella di atas pangkuannya. Bahkan pria itu mengusap pipi Stella dengan lembut. "Stella sayang. Kenapa kau diam saja?"


"Alby, aku."


Cup. Alby mendaratkan kecupan di bibir Stella. Memang saat itu jarak wajah mereka sangat dekat. Alby sendiri merasa sangat merindukan istrinya setelah beberapa jam berpisah.


Stella memegang pipinya dengan wajah merona. "Apa yang kau lakukan?"


"Apa sekarang masih merasa aneh?"


Stella menggeleng pelan. Alby memegang dagu Stella dan mendaratkan bibirnya di sana. Mereka bercumbu dengan panas di sofa. Lama kelamaan Stella juga tidak bisa mempertahankan egonya. Rayuan dan sikap lembut Alby telah berhasil membuatnya menjadi wanita penurut.