Want My Wife

Want My Wife
Bab. 30



Stella membuka matanya ketika merasakan kecupan seorang pria di dahinya. Alisnya saling mengernyit melihat Alby tersenyum di depan wajahnya. Sekali lagi, pria itu mengecup kening Stella dengan penuh cinta.


"Terima kasih," ucap Alby dengan suara serak.


Entah kenapa Stella ingin tersenyum mendengar perkataan Alby. Wanita itu memandang ke jendela.


"Sudah siang?" tanyanya dengan wajah kaget.


"Ya. Sepertinya kau kelelahan." Alby menjauh. Pria itu memakai sepatu yang sudah ia letakkan di lantai. "Aku sudah pesankan sarapan pagi. Setelah mandi kau harus segera sarapan."


Stella beranjak dari tempat tidur. Dia duduk sambil memandang Alby yang sibuk pakai sepatu. Pria itu sudah tapi dan wangi. Stella memperhatikan penampilannya sendiri. Wajahnya memerah ketika dia menunduk dan menemukan jejak kepemilikan di dekat dadanya. Cepat-cepat Stella menarik selimut dan menutup tubuhnya.


Alby memandang ke samping dan tersenyum. "Ada apa? Kau malu?"


Stella berusaha kembali tenang. "Ini sudah siang. Kenapa kau tidak pergi?"


Alby tertawa geli karena di usir Stella. "Cium aku."


Kedua mata Stella melebar. Tetapi karena posisi mereka memang sangat dekat, Alby bisa dengan mudah mengunci tubuh Stella. Memeluknya erat dan mencium bibir wanita itu dengan penuh kerinduan. Ya, kerinduan. Alby mencium Stella seperti sudah lama tidak bertemu. Padahal baru saja tadi malam mereka bercinta hingga semalaman.


Stella membalas kecupan Alby. Kedua matanya terpejam. Sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan sentuhan suaminya. Bahkan dia sudah bisa mengimbanginya.


Stella segera turun dari tempat tidur. Wanita itu melangkah ke kamar mandi. Alby melirik tubuh Stella sejenak sebelum tersenyum.


"Ini masih permulaan. Aku akan membuatmu tergila-gila padaku. Aku akan membuatmu tidak bisa hidup tanpamu Stella!"


Di dalam kamar mandi, Stella memandang wajah di depan cermin. Wanita itu tersenyum manis sambil membayangkan apa yang terjadi tadi malam. Sungguh manis. Stella melakukannya tanpa rasa berdosa. Biasanya setiap kali selesai bercinta dengan Gavin, wanita itu selalu merasa menyesal. Bahkan tidak jarang dia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu murahan. Tapi sekarang, dengan Alby dia benar-benar menikmatinya. Arti sebuah pernikahan mulai ia rasakan sekarang. Stella bahagia. Walau dia belum bisa membalas cinta Alby, tapi setidaknya dia bisa menikmati hidupnya lagi.


"Stella sayang ... aku pergi ya," pamit Alby.


"Ya," jawab Stella cepat. "Hati-hati," sambung Stella lagi. Wanita itu menunduk malu. Debaran jantungnya menjadi tidak karuan. Bahkan ketika dia membayangkan wajah Alby saja, dia sudah merasa sangat bahagia.


Stella memutuskan untuk segera berendam di dalam bak mandi. Ia belum lapar. Stella akan sarapan ketika perutnya telah lapar. Untuk saat ini, dia ingin berendam di dalam air hangat sambil memandang keindahan kota dari ketinggian.


Alby menekan angka yang ada di lift. Pria itu mengambil ponselnya yang sudah tersimpan di dalam saku. Pria itu tersenyum bahagia membaca laporan dari bawahannya.


"Tuan, Gavin tidak keluar rumah sampai detik ini. Sepertinya dia benar-benar sakit hati. Selamat Tuan. Tidak lama lagi anda pasti bisa memiliki Nona Stella. Dalam waktu dekat saya akan segera menemui anda."


Alby memasukkan ponselnya ke dalam saku lagi. "Lea. Kau memang selalu bisa diandalkan!" gumam Alby di dalam hati.