Want My Wife

Want My Wife
Bab. 29



Dansa yang indah. Namun tujuan Alby bukan sekedar dansa. Sebelum musik dansa habis, pria itu telah berhasil mendaratkan bibirnya di bibir Stella. Menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Memperlakukan Stella layaknya berlian yang berharga. Untuk detik ini dia sempat melupakan camera cctv yang tergeletak di atas meja. Alby sendiri sudah dipenuhi nafsu. Dia sudah tidak sabar untuk bersatu dengan istrinya.


"Alby." Stella menatap wajah Alby dan melepas cumbuan pria itu. Napas wanita itu terengah-engah hingga membuatnya semakin menggoda. "Aku takut mengecewakanmu."


"Stttt." Alby mendorong tubuh Stella hingga bersandar di dinding. Kedua tangan wanita itu di letak di atas dan menguncinya. Dengan penuh cinta, Alby mencium bibir dan leher Stella. Dia sengaja melakukan pemanasan di sana. Itu posisi yang pas jika di lihat dari sudut pandang cctv. Alby yakin saat ini Gavin emosi melihat apa yang mereka lakukan. Di tambah lagi, Stella seperti pasrah dan sama sekali tidak menolak.


"No! Jangan di situ!" tolak Stella ketika suaminya menggoda di bagian dada. Wanita itu melenguh sambil memejamkan mata. Dia yang awalnya ragu dan ingin menolak, kini justru telah terhanyut di dalam permainan suaminya. Hasratnya juga memuncak hingga akhirnya dia juga melakukan perlawanan.


Stella melepas satu persatu kancing kemeja suaminya. Setelah lepas, Alby mengambil kemeja itu dan melemparkannya ke camera cctv. Jelas saja dia tidak mau percintaannya dengan Stella di tonton oleh Gavin. Cukup mendengar suaranya saja, Alby yakin kalau Gavin sudah stress.


Alby mengangkat tubuh Stella ke ranjang sambil menggendongnya. Kecupan di bibir itu belum dia lepas. Godaannya begitu memabukkan hingga membuat Stella benar-benar melayang. Dia sudah tidak sadarkan. Keinginan Stella saat ini hanya satu. Dia ingin diberi kepuasan!


...***...


"Arrgghhh!"


Gavin melempar layar monitor yang ada di hadapannya dengan kursi. Suara ******* Stella membuatnya frustasi. Ingin sekali sekarang juga dia berangkat ke sana untuk membunuh Alby. Tapi, semua tidak semudah itu. Apartemen itu benar-benar di jaga ketat. Untuk kali ini, Gavin mengakui kalau dia tidak bisa menyentuh Alby.


"Stella! Kenapa kau mengkhianatiku? Hanya aku yang boleh menyentuhmu Stella. Hanya aku." Gavin lagi-lagi melempar semua benda yang ada di hadapannya.


Amukannya di dalam kamar membuat seorang pria berpakaian serba hitam menerobos masuk ke dalam. Pria itu khawatir akan keadaan Gavin.


"Bos, anda baik-baik saja?" Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah monitor yang sudah tergeletak di lantai. Layarnya telah pecah. Rekamannya sudah tidak terlihat lagi. "Apa yang terjadi? Kenapa Bos Gavin marah hingga seperti ini?" gumamnya di dalam hati.


"Apapun caranya! Aku ingin menemui pria itu. Aku akan membunuhnya! Dia harus mati di tanganku. Kali ini aku tidak akan memberinya kesempatan untuk hidup!" umpat Gavin penuh emosi.


"Baik, Tuan. Tapi saya minta anda untuk tenang."


Cesy juga masuk ke dalam kamar itu ketika mendengar teriakkan Gavin. Wanita itu mengeryitkan dahinya melihat ruangan kakaknya yang berantakan.


"Kenapa kau masih di sini? Aku memintamu untuk segera pergi meninggalkan kota ini Cesy!" Gavin semakin emosi melihat adiknya yang sudah tidak patuh lagi.


"Aku ingin menjaga kakak!" teriak Cesy tidak mau kalah. "Aku mau membantu kakak!"


"Membantuku?" Gavin melangkah mendekati Cesy. "Membantu seperti apa yang kau maksud? Kau juga ingin menertawaiku? Kau juga mau mengejekku karena telah gagal merebut Stella?"


"Kak, kakak harus sadar. Stella sudah tidak mencintai kakak lagi. Masih banyak di luar sana wanita yang mau mencintai kakak melebihi cinta Stella!"


"Aku maunya Stella. Harus dia. Hanya dia!" teriak Gavin semakin emosi. "Aku lebih baik mati daripada harus kehilangan Stella!"


"Kak-"


"Diam! Aku tidak mau mendengar nasihatmu saat ini. Pergi sekarang juga."


"Tidak!" sahut Cesy.


Gavin memandang pria yang tadi masuk ke ruangannya. "Bawa wanita ini pergi. Jika dia membantah, lakukan segala cara agar dia pergi. Aku tidak mau melihat wajahnya di kota ini lagi."


"Kak, jangan seperti ini," rengek Cesy.


"Jika kau tidak mau dengan cara lembut, maka aku terpaksa menggunakan kekerasan," ucap Gavin dengan emosi tertahan. Cesy yang merasa kalah memutuskan untuk menurut saja. Wanita itu memutar tubuhnya untuk membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan kota ini.


Gavin memandang ke jendela. Tiba-tiba saja sebuah rencana licik tersusun rapi di dalam ingatannya. "Aku ingin informasi lengkap mengenai Alby Zachary. Sekarang juga!"