
Alby masih berusaha untuk sabar walau sebenarnya emosinya ingin meledak. "Siapa pria yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Panggil dia untuk datang kemari. Aku ingin bertemu dengannya."
"Aku tidak tahu di mana dia tinggal," jawab Marta masih dengan wajah yang menjengkelkan. Masih belum terlihat kalau wanita itu merasa bersalah.
"Kau rela menyerahkan tubuhmu kepada pria yang sama sekali tidak kau ketahui di mana tinggalnya selama ini?" Nada bicara Alby mulai meninggi.
"Maafkan aku kak. Tapi aku sangat mencintainya. Dari sekian pria yang aku temui hanya dia yang terlihat benar-benar tulus kepadaku. Aku baru tahu kalau seperti ini rasanya jatuh cinta. Aku jadi mengerti kenapa Kakak memperjuangkan Kak Stella mati-matian. Kakak pasti tidak bisa melepaskan Kak Stella bukan?"
Untuk alasan Marta yang satu ini Alby bisa meredakan emosinya. Dia berusaha memahami adiknya dengan hati yang tenang. Cinta Memang Buta. Cinta memang bisa membuat siapa saja menjadi hilang akal. Alby tidak akan membesarkan masalah ini lagi jika memang Marta melakukannya dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya.
"Oke. Sekarang katakan padaku nama pria itu. Aku akan membantumu untuk mencari alamat dia tinggal. Setelah itu aku serahkan padamu."
"Terima kasih, Kak." Ada senyum bahagia di bibir adiknya. Hal itu membuat Alby sedikit tenang.
"Namanya Gavin."
"Apa kau bilang! Gavin?" Belum selesai Marta menjelaskan, Alby sudah memotong perkataannya. Pria itu segera mengambil ponselnya di dalam saku. Dia manekan nekan layar ponselnya sebelum menunjukkan foto seseorang. "Dia?" tanya Alby dengan nada yang mulai tidak bersahabat.
"Ya. Kenapa foto Gavin bisa ada di ponsel kakak?" tanya Marta bingung.
Emosi yang sejak tadi ditahan-tahan oleh Alby kini sudah tidak terbendung lagi. Pria itu meremas ponselnya dengan begitu kuat hingga rahangnya mengeras.
"Kau mau tahu kenapa fotonya bisa ada di ponselku. Dia musuhku Marta! Pria yang sampai detik ini ingin aku habisi! Ingin aku musnahkan dari muka bumi ini! Apa kau tahu kenapa? Karena dia pria yang sangat dicintai oleh Stella. Pria yang membuatku tidak berhasil mendapatkan hati Stella sampai sekarang. Lalu sekarang dengan mudahnya kau bilang dialah ayah dari anak yang kau kandung. Jika kau ada di posisiku apa yang kau rasakan?"
"Gavin mantan pacar Kak Stella?" tanya Marta dengan tatapan tidak percaya. Walau sudah jelas salah tetap saja dia berusaha untuk membela diri. "Tapi Kak Stella sudah menikah dengan kakak. Mungkin saja Gavin patah hati dan dia sudah berhasil melupakan Kak Stella lalu dia membuka hatinya untukku. Dia pasti sudah tidak mencintai Kak Stella lagi. Sekarang dia mencintaiku. Kak, demi anak yang ada di dalam kandunganku tolong bebaskan Gapin. Biarkan kami bahagia. Jangan halangi cinta kami."
Alby berdiri dan menggebrak meja hingga membuat beberapa hiasan meja terpental.
"Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Aku tidak menyangka jika kau bisa sebodoh ini. Dia bukan mencintaimu tapi dia ingin menghancurkan Kita. Keluarga kita. Dia sangat mencintai Stella bahkan cinta mati. Sampai detik ini dia masih memikirkan cara agar bisa memisahkan kami berdua. Namun sepertinya Stella sudah mulai melupakan cinta mereka. Mungkin ini yang membuatnya untuk merencanakan rencana licik agar bisa membuat keluarga kita hancur. Dengan bodohnya kau mendukung rencana yang sudah dia buat. Pria itu tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya mempermainkanmu karena kau begitu bodoh." Emosi Alby meluap-luap Suaranya memenuhi ruangan luas tersebut.
Marta tidak bisa bicara lagi. Buliran air mata sudah mewakili rasa sakit yang kini dia rasakan. Tangannya meremas gaun yang ia kenakan. Kepalanya menunduk karena tidak berani lagi memandang kakak kandungnya. Selain malu dia juga sakit hati. Sekarang wanita itu tidak tahu harus berbuat apa. Hanya menyesal yang kini dia rasakan.
"Terlambat Marta. Menangis pun tidak akan merubah semuanya. Sekarang kau sudah seperti ini. Mau tidak mau kau harus merawat anak yang ada di dalam kandunganmu dan melahirkannya dengan selamat. Dia darah dagingmu. Dia tidak salah," jawab Alby dengan emosi yang mulai reda.
"Tidak Kak. Aku tidak siap untuk hamil tanpa suami. Aku ingin Gapin bertanggung jawab dan segera menikahiku. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa menanggung semua ini sendirian," lirih Marta dengan tangis terisak-isak.
Alby memandang Lea yang baru saja tiba. Wanita itu muncul bersama seorang dokter di sampingnya. Alby tidak mau masalah ini sampai diketahui orang lain. Dia segera menyambut kedatangan dokter itu dan membawanya menuju ke kamar.
Sedangkan Lea hanya berdiri di sana sambil memandang Marta. Dia tahu masalah besar telah terjadi namun dia sendiri juga tidak tahu sebenarnya masalah apa yang dihadapi oleh tuannya.
Tiba-tiba saja Marta beranjak dari sofa dan berjalan cepat menuju ke arah dapur. Karena posisi Marta sedang menangis, Lea memutuskan untuk mengikuti wanita itu dari belakang.
Betapa kagetnya Lea ketika melihat Marta memegang sebuah pisau dan hendak bunuh diri. Lea mengambil kotak tisu yang ada di dekatnya lalu melemparkannya ke arah Marta. Lemparannya tepat sasaran hingga membuat pisau yang ada di genggaman Marta terlepas dan terjatuh ke lantai. Lea segera berlari untuk memegang kedua tangan Marta.
"Nona, apa yang anda lakukan? Anda tidak boleh seperti ini," ucap Lea sambil menahan kedua tangan Marta.
"Biarkan aku mati. Aku sudah tidak pantas hidup di dunia ini lagi. Aku hanya bisa membuat keluarga Zachari malu. Aku wanita bodoh! Benar-benar bodoh," lirih Marta sambil menangis.
Keributan itu memancing perhatian semua orang yang ada di rumah. Para pelayan yang sedang bekerja berkumpul di sana dan melihat kejadian itu. Salah satu dari mereka segera berlari menuju ke kamar untuk menyampaikan peristiwa itu kepada Alby.
Lea terpaksa memukul salah satu saraf yang ada di punggung wanita itu agar bisa tenang. Marta memberontak hingga membuat Lea bingung saat itu.
Tidak lama setelah itu Alby juga muncul. Pria itu berlutut dan memandang adiknya yang kini sudah tidak sadarkan diri.
"Dia hamil. Apa yang sudah kau lakukan?" protes Alby marah.
Lea melebarkan kedua matanya dan merasa bersalah. "Maafkan saya tuan. Saya tidak tahu kalau Nona Marta hamil."
"Panggilkan dokter kandungan sekarang juga." Alby segera menggendong Marta dan membawanya menuju ke kamar. Sedangkan Lea segera menghubungi dokter kandungan agar kondisi Marta segera diperiksa.