Want My Wife

Want My Wife
Bab. 54



Alby sudah tiba di markas Tiger White. Pria itu di sambut oleh seorang pria berbadan tegap yang bertugas membereskan kekacauan di sana. Pria itu berdiri di hadapannya Alby sebelum menunduk hormat. Rasa-rasanya dia masih tidak percaya kalau Alby ada di sini. Padahal sebelumnya dia sudah memberi kabar agar Alby segera berangkat ke hutan tempat Gavin bersembunyi.


"Ke mana yang lain? Kenapa sunyi sekali?" tanya Alby sambil memandang keadaan sekitar. Biasanya ada banyak sekali pria yang berlalu-lalang untuk menjaga markas tersebut. Tapi ini Alby tidak melihat satupun penjagaan di sana.


"Semua berangkat ke hutan Bos. Bukankah tadi anda sudah saya beri tahu?"


"Kau menghubungiku. kapan? Aku tidak merasa pernah mengangkat panggilan teleponmu," sangkal Alby.


Pria berbadan tegap itu diam sejenak. Setelah ia benar-benar yakin kalau panggilan telepon tadi diangkat, pria itu kembali bersuara. "Saya sangat yakin kalau tadi saya sudah memberitahu anda. Gavin bersembunyi di sebuah hutan. Tadi saat saya hubungi anda tidak menjawab apapun bahkan memutuskan panggilan teleponnya. Tadinya saya pikir Anda sangat sibuk hingga tidak mau bicara."


"Aku tidak ada mengangkat panggilan teleponmu." Alby segera mengecek saku celananya. Pria itu terlihat khawatir ketika ponsel yang ia cari tidak berhasil ditemukan. Ia diam sejenak sambil mengingat-ngingat kembali di mana ponsel itu tergeletak. Kedua matanya melebar ketika ia ingat kalau ponsel itu tergeletak di atas nakas. "Apa mungkin Stella yang mengangkat teleponnya?" gumam Alby di dalam hati. Alby segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Stella. Melihat ada panggilan tidak terjawab dari Stella membuatnya menjadi semakin khawatir.


Jika tadi Alby yang tidak mengangkat panggilan telepon Stella. Sekarang Stella yang tidak mengangkat panggilan telepon Alby. Entah dimana wanita itu sekarang berada. Hal ini membuat Alby semakin khawatir.


"Kalian yakin dia ada di hutan?"


"Yakin, Bos," jawab pria itu mantap.


Alby mengangkat panggilan telepon yang masuk. Nomor itu adalah nomor sekretaris Alby di perusahaan. "Halo, ada apa?"


"Tuan, Nona Stella ada di perusahaan," jawab wanita di seberang sana.


"Stella di perusahaan?" Alby mengusap wajahnya dengan kasar. "Tahan dia. Pastikan dia tidak pergi kemanapun. Aku akan segera ke sana."


Alby segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia memandang pria di depannya. "Tarik kembali pasukan kita. Kalian tidak akan menang melawannya. Aku yakin dia sudah menyiapkan jebakan di sana. Dia pasti tahu kalau kalian ada di sana untuk mengintainya. Aku harus menemui istriku. Urusan ini jauh lebih penting dan berbahaya jika dibandingkan dengan urusan Gavin!"


Pria itu terlihat kaget mendengarnya. Namun dia juga tidak bisa berbicara banyak jika Alby sudah memberi perintah.


"Baik, Bos."


Alby segera masuk ke dalam mobil. Pria itu ingin segera tiba di perusahaan. Dia tidak mau sampai Stella curiga.


Deringan ponsel membuat Alby melirik ponselnya. Ternyata itu dari Stella. Sesegera mungkin Alby mengangkat panggilan masuk dari istrinya tersebut.


"Halo, Stella. Kau ada dimana?"


"Aku yang seharusnya bertanya. Kau ada dimana, Alby? Kenapa tadi aku dengar kau akan membunuh Gavin?"


"Stella, kau pasti salah dengar. Aku tidak mungkin membunuh," sangkal Alby.


"Gak, Alby! Aku tidak mungkin salah dengar. Aku mendengarnya dengan jelas. Kau akan membunuh Gavin!"


Alby memukul stir mobilnya. Pria itu harus memikirkan alasan yang tepat untuk membuat Stella percaya dengan apa yang dia katakan.


"Tunggu aku. Aku akan segera ke sana!" Alby segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia menambah laju mobilnya lagi agar segera tiba di perusahaan.