
Alby mengunci pintu kamar ketika mereka sudah tiba di dalam. Stella memilih duduk di sofa. Dia bersandar sambil memejamkan mata. Sedangkan Alby melepas jas yang ia kenakan. Padahal penampilannya sudah rapi. Seharusnya dia segera berangkat ke perusahaan karena ada pertemuan dengan clien penting hari ini. Tetapi, entah kenapa dia memilih untuk tetap bertahan di rumah.
Stella membuka kedua matanya ketika mendengar Alby menjatuhkan ponselnya ke karpet. Wanita itu menaikan alisnya. Sebenarnya dia malas bertanya. Tetapi dia juga penasaran, sebenarnya apa yang dilakukan suaminya itu hingga tidak juga pergi meninggalkan kamar.
“Kau tidak kerja?”
“Tidak,” jawab Alby cepat.
“Kenapa?” Stella kembali ingat dengan Cesy. “Apa karena kekasihmu ada di sini? Kau ingin menemuinya?”
Alby memandang Stella sebelum melirik ponselnya. “Jika aku ingin bertemu dengannya, aku tidak akan ada di kamar ini. Aku bisa saja mengajaknya bertemu di luar,” jawab Alby dengan santai.
“Lalu, apa alasanmu tidak pergi kerja?”
“Aku ingin menemanimu.” Alby beranjak dari kursi yang ia duduki. “Aku tahu, mama tidak akan diam saja. Dia pasti akan melakukan sesuatu untuk membuatmu sakit hati.”
Stella menyunggingkan senyuman tipis. Ucapan Alby sama sekali tidak menyentuh hatinya. Justru wanita itu muak melihat wajah Alby. “Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”
“Stella, apa kau mau ikut aku ke perusahaan? Bukankah kau belum pernah ke sana?” tawar Alby. Pria itu berharap istrinya mau ikut agar tidak bosan seharian di rumah.
Stella terlihat berpikir. Dia sepertinya tidak tertarik untuk ikut dengan Alby ke perusahaan. Namun, dia juga tidak mau terkurung di rumah itu seperti biasanya. Dia butuh membahagiakan dirinya sendiri.
“Baiklah,” jawab Stella setuju. Alby terlihat senang karena Stella akan menemaninya hari ini,
“Ayo kita berangkat.” Alby mengulurkan tangannya. Tetapi Stella berlalu begitu saja tanpa mau menyambut uluran tangan Alby. Alby menarik kembali tangannya dengan bibir tersenyum.
“Aku pasti bisa membuatmu mencintaiku, Stella. Suatu hari nanti, kau yang akan meminta genggaman tangan ini,” gumam Alby di dalam hati.
Lagi dan lagi. Kemunculan mereka berdua di sambut oleh mertua galak di lantai bawah. Stella yang ada di depan Alby hanya mendengus kesal melihat mertuanya. Sedangkan Alby terlihat biasa saja. Dia memandang ke segala arah untuk mencari keberadaan Cesy.
“Kau sangat mengecewakan mama, Alby. Kenapa kau membiarkan Cesy pulang? Dia pasti sangat kecewa.”
“Ma, sudah ya. Alby mau ke perusahaan bersama Stella. Soal Cesy, nanti Alby akan hubungi dia.”
Stella memandang mertuanya dengan tatapan tidak terbaca. Wanita itu melanjutkan langkah kakinya ketika Alby menggandeng pinggangnya. Nyonya Zakary mengatus napasnya agar kembali tenang.
“Jika terus menerus seperti ini, aku bisa mati karena terkena darah tinggi,” gumamnya di dalam hati.
Alby melirik ke arah pagar rumah ketika sedang memberikan jalan kepada Stella untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu tahu kalau ada yang sedang mengamatinya. Namun dia tidak ambil pusing. Alby segera mengambil alih kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Gavin yang ternyata menjadi mata-mata saat itu hanya bisa menggeram melihat Alby menggandeng pinggang kekasihnya dengan mesra. “Aku akan membunuhmu! Kau harus mati di tanganku Alby Zakary!” gumamnya penuh dendam.
Alby tersenyum kecil mengetahui Stella memperhatikan Gavin yang bersembunyi. Pria itu terlihat tenang. Dia tahu kalau istrinya tidak akan berani menemui Gavin secara terang-terangan. Bukan karena status Stella sebagai istrinya yang menjadi penghalang. Tetapi status Gavin yang masih buronan sampai detik ini. Dia di kenal sebagai pembunuh yang paling di cari. Sungguh malang menang nasip Gavin. Polisi yang mencarinya juga polisi sembarangan. Gavin harus benar-benar cerdik jika ingin muncul di muka umum seperti sekarang.
Alby menambah laju mobilnya ketika mereka memasuki jalanan sunyi. Stella masih memikirkan Gavin. Sesekali wanita itu memandang ke spion untuk melihat apakah Gavin mengikutinya atau tidak. Stella tahu kalau Gavin adalah pria yang nekad. Tidak takut apapun jika ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Awas!" teriak Alby secara tiba-tiba hingga membuat Stella kaget. Alby segera meletakkan tangannya di dashboard mobil agar kepala Stella tidak terbentur ketika dia menginjak rem mobilnya secara mendadak.
"Ada apa?" protes Stella. Tanpa menunggu jawaban dari Alby, wanita itu segera memandang ke depan. Kedua matanya melebar melihat segerombolan orang yang kini menghalangi jalan mereka. Bukan karena dia takut. Tetapi karena dia tahu kalau orang-orang itu adalah anak buah Gavin. Kekasihnya.
"Stella, tunggu di sini," perintah Alby. Pria itu segera turun. Namun, bukan Stella namanya jika tidak keras kepala. Alby turun, dia juga turun. Wanita itu berdiri di samping Alby dan memandang satu persatu wajah pria di depannya. Kali ini dia yakin 100% kalau segerombolan orang itu muncul atas perintah Gavin.
"Apa yang kalian inginkan? Kenapa kalian menghalangi jalan saya?" tanya Alby masih dengan nada bersahabat.
"Wanita di sampingmu. Kami ingin membawanya," jawab salah satu pria.
Alby menyunggingkan senyuman tipis. "Lebih baik kalian ambil mobil saya daripada harus membawa istri saya pergi." Alby memegang tangan Stella dan menggenggam jarinya dengan erat. "Pergi atau saya lapor polisi!" ancam Alby. Berharap orang di depannya takut dan segera pergi.
Stella menggeleng pelan. Dia tahu kalau anak buah Gavin tidak akan takut di ancam. Ketika mereka semua maju untuk mengeroyok Alby, Stella berdiri di depan Alby hingga membuat genggaman tangan Alby terlepas.
"Pergi! Kalian tidak seharusnya melakukan semua ini!" perintah Stella. Walau mustahil, tetapi dia berharap anak buah kekasihnya itu mau menuruti perintahnya.
"Maaf, Nona. Tapi kami hanya melakukan tugas. Sebaiknya anda segera ikut kami," jawab pria itu dengan nada hormat.
"Kau kenal mereka?" tanya Alby dengan wajah polosnya.
Stella terlihat gugup. "Tidak."
"Sayang, untuk apa kau bicara dengan mereka? Serahkan semua padaku." Alby menarik tangan Stella hingga wanita itu mundur.
Perkelahian terjadi. Alby terlihat berusaha melawan musuh yang ingin menghajarnya. Namun, bela dirinya tidak bagus. Alby kalah masih di menit pertama. Pria itu terjungkal ke jalan dengan wajah babak belur.
"Alby." Stella yang panik segera mendekati Alby. Di waktu yang bersamaan, terdengar suara sirine polisi. Segerombolan pria itu segera masuk ke mobil untuk kabur. Alby mengukir senyuman melihat mereka pergi. Pria itu lebih senang lagi melihat Stella khawatir.
"Aku baik-baik saja," ucapnya pelan.
"Kenapa kau harus melawan mereka jika tidak bisa bertarung?" protes Stella. Wanita itu membantu Alby bangkit. "Kita ke rumah sakit. Biar aku yang bawa mobil."
Alby hanya menurut saja. Pria itu masuk ke dalam mobil dan memegang wajahnya yang memar. Dia terlihat tidak kesakitan karena melihat perhatian sederhana yang diberikan Stella.
"Ternyata dia wanita yang lembut. Stella, aku semakin mencintaimu jika kau semanis ini," puji Alby di dalam hati.