Want My Wife

Want My Wife
Bab. 24



"Oke, selesai," ujar Stella dengan senyum mengembang di bibirnya. Wanita itu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Selesai masak, Stella dan Alby segera makan siang. Setelah itu Stella memutuskan untuk membersihkan piring kotor. Entah kenapa dia tidak mau menggunakan jasa pembantu. Padahal Alby sempat menawarinya.


Stella sendirian di apartemen. Alby harus pergi karena ada urusan mendadak di perusahaan. Wanita itu mulai bosan jika tidak melakukan aktivitas apapun. Mau bersih-bersih, apartemen sudah memiliki cleaning servis sendiri yang akan datang pada jam-jam tertentu. Mau tidur Stella merasa belum ngantuk.


"Apa aku ke salon aja ya?" pikir Stella. Rasanya dia akan merasa jauh lebih tenang jika duduk di kursi lalu seseorang merawat rambut dan seluruh tubuhnya. Berjam-jam menunggu tidak akan membuatnya bosan. Stella berjalan ke meja. Ia ingin menghubungi pria yang tadi menyambut kedatangannya.


"Halo," ucap Stella ragu-ragu.


"Ya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin potong rambut."


"Anda ingin menggunakan salonnya, Nyonya?"


"Ya, Apa bisa?" Stella duduk di sofa.


"Tentu saja bisa Nyonya. Kapan anda ingin menggunakannya?"


"Sekarang," jawab Stella cepat.


"Baiklah Nyonya. Anda bisa tunggu sebentar. Saya akan meminta karyawan salonnya untuk memanggil anda ketika dia sudah tiba di lantai atas."


"Saya akan langsung ke salon saja," potong Stella cepat.


"Baiklah, Nyonya. Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Tidak ada. Terima kasih." Stella memutuskan panggilan telepon tersebut. Tanpa pikir panjang, wanita itu melangkah menuju ke pintu. Ia sudah tidak sabar untuk potong rambut dan perawatan tubuh.


"Saatnya perawatan," gumamnya dengan senyum ceria.


Setelah tiba di depan, Stella dikejutkan dengan kemunculan seorang pria yang memakai pakaian cleaning service. Di samping pria itu ada kotak sampah.


"Selamat sore Nyonya. Saya datang untuk mengambil sampah," ucap pria itu dengan suara yang kurang jelas.


Stella yang tidak terlalu peduli seera pergi menuju ke salon tanpa mau menjawab. Wanita itu memang tidak terlalu suka banyak bicara apalagi dengan orang yang tidak ia kenali.


Pria itu mengukir senyum tipis. Dia masuk ke dalam apartemen setelah Stella menjauh darinya.


Tiba-tiba saja Stella berhenti dan memutar tubuhnya. Wanita itu memandang cleaning servis yang tadi sempat dia temui. Karena tidak mau terlalu curiga, Stella segera masuk ke dalam salon. Dia juga merasa tidak memiliki barang berharga di dalam apartemen tersebut. Jadi tidak mungkin ada barang yang akan hilang meskipun ada yang masuk ke dalam ruangan tanpa pengawasan.


"Nyonya."


Stella memandang ke samping ketika seorang wanita menepuk pundaknya. Alisnya saling bertaut melihat wanita berpenampilan modis yang ada di hadapannya.


"Kau yang akan memotong rambutku?"


Sebenarnya Stella kurang yakin menyerahkan rambutnya di potong oleh orang yang belum pernah dia jadikan langganan. Tetapi, mau bagaimana lagi? Stella tidak diizinkan untuk keluar dari apartemen.


"Ayo masuk. Tunggu apa lagi?" Stella masuk duluan. Wanita itu mengikuti Stella dari belakang.


"Aku juga mau ganti warna rambut. Apa kau bisa?" Stella biasanya setiap kali perawatan selalu dilakukan oleh beberapa orang. Ini hanya satu orang saja. Stella seperti merasa ragu dengan hasil akhirnya.


"Bisa, Nyonya."


"Kau sendirian saja?"


"Di bawah kamu ada beberapa. Tetapi tuan tidak mengizinkan teman saya yang lain naik ke atas. Hanya saya yang diperbolehkan menemui anda, Nyonya," jelas wanita itu apa adanya.


Stella hanya diam. Dia memilih duduk di kursi yang ada di dekat kaca. Sambil melihat pemandangan di luar sana akan membuatnya merasa jauh lebih segar.


"Nyonya, apa anda juga mau maskeran ?" tawar wanita itu sebelum memegang rambut Stella.


"Apa saja. Yang penting aku tidak bosan menunggu Alby pulang," jawab Stella. Dia membenarkan posisi duduknya menjadi lebih nyaman.


Wanita itu merapikan alat yang akan ia gunakan sebelum berdoa. Rasanya debaran jantungnya menjadi tidak karuan ketika dia harus melayani wanita kesayangan seperti Stella.


***


Stella terbangun ketika mendengar suara gelas pecah. Dia segera memandang ke samping dan melihat wanita yang sudah merawat rambutnya sedang berjongkok. Stella mengeryitkan dahinya. Ia memandang ke depan dan melihat langit telah gelap.


"Apa aku ketiduran?" Stella memandang dirinya sendiri di cermin. Rambutnya sekarang berwarna hitam dan sedikit bergelombang. Memang style seperti ini yang diinginkan Stella. Dia merasa puas dengan hasil kerja wanita itu. Bahkan ingin menjadikannya langganan.


"Nyonya, maafkan saya. Apa saya sudah mengganggu anda?" Wanita itu mendekati Stella dengan wajah takut.


"Tidak. Aku ...." Stella menjadi khawatir melihat tangan wanita itu terluka terkena pecahan kaca. "Apa yang terjadi? Darahnya banyak sekali." Dia cepat-cepat beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri.


"Nyonya, ini hanya luka kecil. Saya bisa mengobatinya sendiri. Tetapi, saya belum selesai membersihkan kuku kaki anda."


"Lupakan! Kesehatanmu jauh lebih penting. Ayo ikut denganku." Stella menarik wanita itu begitu saja. Dia tidak mau melihat luka wanita itu sampai infeksi karena terlalu lama diobati.


"Nyonya, saya baik-baik saja." Wanita itu menahan tubuhnya hingga Stella juga ikut berhenti.


"Kau yakin?" Stella tidak berani memaksa lagi.


"Ya, nyonya. Ini hanya luka kecil. Apa anda belum tahu kemampuan yang saya miliki? Luka seperti ini sudah biasa saja dapatkan. Bahkan terkadang yang jauh lebih berbahaya. Selain bertugas untuk mempercantik wajah anda, saya juga bertugas untuk melindungi anda. Bagaimana mungkin saya terpilih, jika hanya luka seperti ini saja saya tidak mampu mengatasinya, Nyonya."


Stella segera melepas tangan wanita itu. Dia memalingkan wajahnya. "Maafkan aku. Tapi, aku tidak mau melanjutkannya. Aku ingin mandi." Stella pergi meninggalkan wanita itu begitu saja. Sebenarnya dia tidak benar-benar ingin mandi, tetapi wanita itu hanya tidak mau memaksa wanita itu saja.


"Andai saja dia tahu kalau aku sempat memberinya obat bius. Mungkin dia tidak akan mau bertemu denganku lagi." Wanita itu memandang ke lantai lagi. "Aku harus membersihkan kekacauan ini dan turun ke bawah."