Want My Wife

Want My Wife
Bab. 14



Langit mulai gelap. Setelah memesan makan malam di restoran yang ada di dekat rumah sakit, Stella memesan baju di butik. Wanita itu harus mandi dan membersihkan dirinya sendiri. Dia juga harus memikirkan kesehatannya sendiri agar tidak sampai jatuh sakit.


Alby tidak menghubungi dan juga tidak menjawab telepon ibu kandungnya. Pria itu hanya ingin di jaga oleh Stella. Dia tahu kalau sampai ibu kandungnya juga ada di di rumah sakit, Stella pasti memilih untuk pulang ke rumah.


Stella membuka bungkus makanan yang ia pesan dari restoran. Wanita itu mulai merasa lapar. Ia ingin makan malam sekarang juga. Siap Alby, pria itu sudah dapat makanan dari rumah sakit. Ya, walaupun Stella tahu makanan rumah sakit tidak enak. Tetapi dia sama sekali tidak peduli.


Alby duduk di atas tempat tidur sambil memandang Stella yang sedang makan. Di hadapannya juga ada makanan, tetapi entah kenapa Alby belum juga mau memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Sebentar lagi jadwalnya minum obat. Jika telat makan, pria itu juga akan telat minum obat.


Stella melirik Alby sebelum memasukkan makanannya ke dalam mulut lagi. Rasanya dia juga tidak nyaman makan dilihatin seperti itu.


"Ada apa? Kenapa kau tidak memakan makanan dari rumah sakit? Apa rasanya tidak enak? aku tidak bisa memberi makanan ini, rasanya sangat pedas. Nanti dokter bisa memarahiku," ujar Stella sebelum memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya lagi.


Alby memamerkan tangannya yang di infus. "Aku tidak biasa makan menggunakan tangan kiri. Apa kau bisa memanggilkan suster untuk membantuku memasukkan makanan ini ke dalam mulutku?"


Stella menahan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya. Perintah Alby seperti sindiran baginya. Sungguh lucu jika Stella sampai meminta bantuan suster untuk menyuapi Alby. Pria itu suaminya. Jika sampai terjadi, dia bisa jadi bahan ceritaan satu rumah sakit.


"Biar aku saja yang melakukannya. Sebentar lagi aku selesai," ucap Stella sebelum lanjut makan. Wanita itu seperti sudah tidak berselera lagi untuk makan. Dia tidak menghabiskan makanan dan meninggalkannya begitu saja di atas meja.


Alby menatap Stella dengan alis saling bertaut. "Kenapa tidak dihabiskan?"


"Terlalu pedas," jawab Stella asal saja. Wanita itu duduk di atas tempat tidur dan mengambil piring berisi makanan. Dia menatap Alby sebelum menyendokkan nasi ke dalam mulut Alby.


"Apa kau keberatan melakukannya?" tanya Alby tanpa mau membuka mulut.


"Apa itu jadi masalah?"


"Tentu saja. Aku bisa tersedak jika yang menyuapi makanan ini merasa keberatan," sahut Alby dengan begitu serius.


Stella menghela napas. "Aku tidak keberatan. Cepat makan. Segera minum obatnya."


"Makanannya sangat enak. Apa kau mau mencobanya?"


"Tidak. Aku sudah kenyang," sahut Stella jutek.


"Yakin?" Alby seperti meledek. Pria itu memegang tangan Stella dan mengarahkan tangan wanita itu ke arah mulutnya. "Cobalah. Sedikit saja."


Stella menurut saja. Wanita itu memasukkan makanan dari rumah sakit ke dalam mulutnya. Dia bahkan tidak sadar kalau sudah makan dengan sendok yang sama dengan Alby. Pertama kali makanan itu masuk ke mulutnya, Stella seperti menahan napas.


"Kenapa? Apa rasanya seburuk itu?" tanya Alby bingung.


Stella memandang makanan yang ada di meja. "Kenapa rasanya bisa seenak ini? seperti masakan koki restoran," gumamnya di dalam hati.


"Stella, apa kau baik-baik saja?" Alby semakin khawatir ketika Stella tidak juga menjawab pertanyaannya.


"Tidak ada. Ini rasanya sangat buruk," dusta Stella. Tetapi wanita mengunyahnya dan menelan makanan tersebut. Padahal jika memang tidak suka, Stella bisa membuang makanan itu dengan tisu. Alby yang tidak tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya hanya bisa mengangguk saja. Dia membuka mulutnya lagi agar bisa segera menghabiskan makan malamnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Alby menghabiskan makanan itu. Setelah Stella membereskan piring dan gelas, wanita itu mengeryitkan dahi melihat Alby yang sedang menurunkan kakinya ke lantai.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Melihat Alby mau jatuh membuat Stella segera berlari dan menangkap tubuh Alby. "Kau bisa jatuh!" protes Stella.


"Aku mau ke kamar mandi. Aku yakin kau tidak akan mau menemaniku," jawab Alby.


Stella mematung. Dia memandang pintu kamar mandi sebelum memandang wajah Alby. "Aku akan membantumu. Tapi hanya sampai depan pintu."


"Baiklah. Terima kasih Nona." Wajah Alby benar-benar berseri. Bahkan di dalam hati dia sedang berteriak kegirangan. Ini benar-benar anugerah yang tidak mungkin terulang hingga dua kali. Secara perlahan Alby melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Stella membopong tubuhnya dengan sekuat tenaga. Sebenarnya Alby bisa jalan sendiri. Kakinya sama sekali tidak sakit. Namun, entah kenapa dia memiliki pemikiran untuk menjahili istrinya.


"Maafkan aku Stella. Aku terpaksa melakukan semua ini demi mendapatkan perhatianmu," gumam Alby di dalam hati.