
Alby memberhentikan mobilnya di depan rumah. Ada rasa aneh ketika pertama kali dia memberhentikan mobilnya di rumah kelahirannya itu. Sebulan sudah dia tidak tidur di kamarnya. Semua ia lakukan demi Stella. Dia ingin mendapatkan hati Stella. Jika berhasil, pria itu akan membujuk hati keluarganya agar bisa menerima Stella sebagai istrinya.
Pintu utama terbuka dan Ny. Zachary muncul sambil menangis. Sebagai seorang ibu, dia tahu kapak putranya pulang. Wanita paruh baya itu berlari menuju ke mobil Alby. Bersamaan dengan itu Alby turun dari mobil dan menyambut ibunya.
"Ma." Alby Tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena ibunya sudah memeluknya dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Alby, tolong mama Alby. Mama sudah gak sanggup lagi." Wanita itu semakin menangis ketika sudah ada di dalam pelukan putranya. "Mama mau mati saja jika seperti ini," lirihnya lagi.
Kali ini Alby tahu kalau ibu kandungnya tidak sedang berakting. Dia benar-benar memiliki masalah yang sudah tidak sanggup dipikul lagi. Tapi dia tidak tahu sebenarnya masalah apa yang sedang dialami oleh ibu kandungnya.
"Ma, cerita sama Alby." Alby berusaha membujuk ibu kandungnya. Namun, satu hal tidak terduga terjadi. Wanita paruh baya itu pingsan. Alby segera menahan tubuhnya dengan wajah khawatir.
"Ma, bangun ma. Ma." Alby menepuk pipi Ny. Zachary dengan wajah khawatir. Dia mengambil ponselnya dari saku lalu menekan nomor seseorang.
"Lea, panggilkan dokter. Mama pingsan. Sekarang kau tidak tahu harus bagaimana."
Setelah memberi tahu Lea, Alby segera mengangkat ibu kandungnya masuk ke dalam kamar. Dia juga menjadi khawatir ketika melihat bibir Ny. Zachary pucat dan tubuhnya yang lemah.
"Sebenarnya mama kenapa? Mama tidak pernah seperti ini sebelumnya," gumam Alby di dalam hati.
Sesampainya di dalam rumah, Alby di buat kaget melihat Marta yang sedang menyeret koper sambil menangis.
"Marta, kau kenapa?" tanya Alby semakin bingung.
Marta memandang wajah Alby sejenak sebelum memandang ibunya yang pingsan. Wanita itu seperti tidak tahu harus bagaimana. Dia cepat-cepat berjalan untuk meninggalkan rumah.
"Marta, tunggu! tetap di rumah!" teriak Alby. Namun Marta tidak menghiraukan perintah Alby. Wanita itu terus saja melangkah. "Jika kau terus berjalan, aku akan meminta orang untuk menangkapmu. Masuk atau aku akan akan menghukum mu!"
Kali ini ancaman Alby berhasil membuat Marta berhenti. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang Alby. Dia melempar kopernya dengan kesal.
"Tunggu di sini. Kita harus bicara!" Alby kembali berjalan menuju ke kamar. Pria itu ingin masalah ini segera selesai.
Alby tertegun melihat foto dirinya tergeletak di atas tempat tidur ibu kandungnya. Ternyata wanita paruh baya itu sangat merindukannya selama ini. Alby merasa bersalah karena sudah membuat wanita yang melahirkannya sampai semenderita ini.
"Maafkan Alby, Ma." Alby meletakkan Ny. Zachary di atas ranjang. Pria itu menutup tubuhnya dengan selimut. Setelah itu dia segera pergi menemui Marta. Dia juga tidak mau sampai Marta kabur lagi.
Marta duduk di sofa yang ada di ruang tamu sambil menghapus air matanya yang masih menetes. Wanita itu memalingkan wajahnya ketika melihat Alby muncul di hadapannya.
"Sekarang katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi!"
Marta membisu. Dia seperti tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Dia tahu kalau kakaknya pasti akan marah besar setelah mendengar ceritanya.
"Tidak ada. Ini hanya selisih paham antara aku dan mama saja."
"Kau berbohong. Berapa kali kau dan mama bertengkar. Tetapi tidak sampai seperti ini. Jujur Marta. Jika kau berbohong, cepat atau lambat aku juga akan mengetahui kebenarannya."
Marta menunduk takut. Dia memainkan jarinya dengan bingung.
"Cepat, Marta!" ketus Alby mulai tidak sabar.
"Kak. Aku tidak bisa mengatakannya." Buliran air mata menetes hingga membuat Alby semakin bingung. Pria itu berusaha sabar agar tidak sampai melukai hati adiknya.
"Aku janji tidak akan marah. Cepat ceritakan apa yang terjadi. Sekarang juga?" Nadanya terdengar jelas kalau pria itu sedang menahan emosi.
"Aku ... aku ...." Marta memejamkan matanya. "Aku hamil!"