
Stella berdiri di depan pintu kamar mandi sambil memikirkan Gavin. Ya, walaupun kini raga wanita itu di rumah sakit bersama Alby. Tetapi pikirannya ada pada Gavin. Dia butuh kabar dari pria itu agar kembali tenang. Stella tidak mau sampai Gavin tertangkap.
"Gavin, apa dia berhasil lolos dari kejaran polisi?" Stella memandang ke ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Dia berpikir kalau Alby akan lama di kamar mandi. Wanita itu cepat-cepat mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon Gavin. Dia tidak perlu menyimpan nomor telepon Gavin karena Stella sudah mengingat nomornya.
Setelah menghubungkan nomor Gavin, terdengar suara Gavin di kejauhan sana. Stella yang terlalu bersemangat tidak lagi menyadari kalau Alby telah selesai di kamar mandi dan kini bisa mendengar perbincangannya.
"Gavin, apa kau baik-baik saja?" tanya Stella dengan senyuman. Jika Gavin bisa mengangkat panggilan teleponnya, itu sudah pasti pria tersebut baik-baik saja.
"Tidak semudah itu menangkap seorang Gavin, sayang," jawaban dengan penuh percaya diri. "Apa kau masih di rumah sakit?"
"Ya," jawab Stella. Ketika dia mendengar suara pintu terbuka, tanpa berpamitan Stella memutuskan panggilan telepon itu. Wanita itu melemparkan ponselnya begitu saja karena tidak mau sampai Alby tahu.
"Kau sudah selesai?" Stella segera berlari menghampiri Alby. Alby yang pura-pura tidak tahu hanya mengangguk saja. Pria itu berjalan pelan sebelum akhirnya di bantu oleh Stella kembali ke tempat tidur.
"Kau baru saja menghubungi seseorang?" tanya Alby berusaha menyelidiki. Walaupun sebenarnya dia sudah tahu siapa yang baru saja di hubungi Stella.
"Tidak. Aku hanya membaca pesan yang masuk. Ternyata pesan tidak penting," sangkal Stella.
Alby naik ke atas tempat tidur secara hati-hati. Ketika dia sudah berbaring, Stella ingin segera pergi. Dengan cepat Alby menangkap tangannya dan menariknya hingga terduduk di atas tempat tidur.
"Tetap di sini."
"Kenapa? Sepertinya selama sakit kau mulai melupakan batasan yang ada di antara kita!" ketus Stella tidak suka.
Mendengar jawaban Stella membuat Alby segera melepas tangan Stella. Bahkan tanpa mau memperpanjang masalah, Alby memalingkan wajahnya. Stella hanya terdiam melihat Alby marah. Entah kenapa dia merasa bersalah karena sudah membentak Alby hingga seperti itu.
"Baiklah, aku akan tetap di sini," ucap Stella kalah. Wanita itu duduk di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi. Walau hanya membelakangi, tetapi Alby sudah senang bukan main.
"Kenapa kau keras kepala sekali? Apa aku seburuk itu? Aku tidak pantas mencintaimu?" tanya Alby tanpa memandang.
Stella menghela napas panjang. "Apa penting masalah seperti itu di bahas sekarang? Kau sedang sakit. Aku tidak mau sampai jawabanku membuatmu tambah parah!" ketus Stella.
"Apa aku seburuk itu?" tanya Alby lagi. "Sebagai seorang wanita, nilailah aku. Beri tahu aku dimana letak kekuranganku. Maka aku akan memperbaikinya."
"Kenapa diam saja?" sambil Alby lagi.
"Alby, kau pria baik. Karena kau terlalu baik, aku tidak pantas untukmu," jawab Stella.
"Sudah pernah aku bilang, itu hanya pemikiranmu saja Stella. Di hatiku, kau yang pantas menemaniku."
"Kau tidak tahu apa yang sudah terjadi di dalam hidupku!" Belum sempat Stella menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pintu ruang tersebut terbuka. Ny. Zakary dan Cesy muncul secara bersamaan. Hal itu membuat Stella segera turun dari tempat tidur.
Alby terlihat kaget melihat orang tuanya datang ke rumah sakit. "Mama, darimana mama tahu aku ada di sini?" gumamnya di dalam hati.
***
Gavin meremas ponselnya karena Stella memutuskan panggilan teleponnya begitu saja. Gavin tahu kalau Alby yang sudah membuat Stella seperti ini. Dendam di hatinya semakin besar terhadap Alby.
Suara ketukan pintu membuat Gavin membenarkan posisi duduknya. Pria itu meletakkan ponselnya di meja dan melupakan tentang Stella untuk sejenak.
"Masuklah," perintah Gavin.
"Baik, Bos." Seorang pria berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan. Pria itu menunduk hormat di depan meja sebelum memandang Gavin. "Bos, ini benda-benda yang anda butuhkan." Pria itu mengeluarkan baju seragam rumah sakit lengkap dengan atribut seorang office boy rumah sakit dan meletakkannya di atas meja.
"Apa kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan?"
"Sudah, bos. Semua sudah saya susun sesuai dengan permintaan anda."
"Bagus. Sekarang kau boleh pergi." Gavin memalingkan wajahnya.
"Saya permisi dulu bos." Pria itu menunduk hormat lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut. Setelah pintu kembali tertutup rapat, Gavin mengambil foto Stella yang ia simpan di dalam laci. Pria itu tersenyum melihat wajah cantik kekasihnya.
"Stella sayang, apa yang sudah kau lakukan hingga aku tergila-gila padamu hingga seperti ini? Padahal di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih seksi daripada dirimu." Ekspresi wajah Alby berubah lagi. "Apapun caranya, kau tetap jadi milikku!"