
"Setelah tahu dia hamil, kakak masih mau mempertahankannya?"
Gavin memandang Cesy dengan tatapan tajam. Rasanya dia menyesal karena sudah meminta Cesy datang ke rumah itu. Bukan membantu justru wanita itu terus saja menyalahkannya. Bahkan yang parahnya lagi, Cesy tadi sempat bilang kalau sebagai seorang pria Gavin tidak memiliki harga diri. Masih mau menerima wanita bekas pria lain. Sampai hamil lagi.
"Aku memintamu ke sini bukan untuk menceramahiku. Aku ingin kau mengurus Stella selama wanita itu mengalami fase morning sickness. Sebagai seorang pria Aku tidak tahu menau masalah wanita hamil." Gavin meneguk minuman beralkohol yang kini ada di genggamannya.
"Lalu, bagaimana denganku? Apa kakak lupa kalau aku ini masih gadis. Aku tidak pernah hamil jadi aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh wanita hamil. Nggak banyak hal yang bisa aku lakukan untuk membantu Stella. Kenapa tidak mengutus seorang perawat saja untuk merawatnya." Cesy melipat kedua tangannya. Di lihat dari ekspresi wajahnya, wanita itu tidak berminat untuk mengurus Stella.
"Karena Stella tidak tahu kalau dia hamil. Dia pasti akan curiga jika tiba-tiba aku mendatangkan seorang perawat untuk merawatnya. Aku tidak mau sampai dia tahu masalah kehamilan ini. Aku tidak mau dia terus merengek agar dibebaskan."
Cesy menghela napas panjang. "Lalu apa yang bisa aku lakukan. Kami pernah bertemu. Dia mengenalku sebagai sahabat suaminya. Dia pasti akan sangat kaget ketika dia tahu kalau kita adalah adik kakak."
"Masalah itu sudah ku pikirkan. Kau harus menyamar selama berada di dekatnya. Aku akan bilang kepada Stella kalau kau adalah perawat pribadi yang aku kirimkan untuk menjaganya. Sisanya kau pikirkan saja sendiri."
"Oke, baiklah." Cesy mengambil ponselnya. Wanita itu mengeryitkan dahinya membaca pesan dari Marta. Dia melirik Gavin sejenak sebelum kembali fokus dengan layar ponselnya.
"Kak, dimana? Aku butuh bantuan kakak."
Tanpa pikir panjang, Cesy segera membalas pesan dari Marta. "Kakak lagi di luar negeri. Ada apa Marta?"
Selain Stella, Cesy adalah salah satu orang yang tidak tahu kabar kedekatan Gavin dan Marta. Gavin merahasiakan semua ini agar Cesy tidak ikut campur dalam rencana balas dendamnya. Jika sampai Cesy ikut campur, rencana balas dendam ini tidak akan berhasil.
"Kak, aku telepon ya?"
Cesy menahan jarinya. Dia beranjak dari sofa dan berjalan ke kamar. Gavin terlihat tidak peduli. Dia berpikir kalau adiknya itu ingin istirahat sebelum pura-pura menjadi perawat pribadi Stella.
"Halo, Marta."
Bukan menjawab justru Marta menangis mendengar suara Cesy. Hal ini membuat Cesy diam. Dia duduk di sofa dekat jendela sambil mendengar tangisan pilu Marta.
"Kak, rasanya aku mau mati saja. Aku gak sanggup lagi."
"Marta, tenanglah. Jika ada air minum, sebaiknya kau minum dulu agar bisa kembali tenang."
"Baik, kak." Marta masih mau menuruti perkataan Cesy. Wanita itu diam sejenak karena sedang minum sebelum bicara lagi.
"Jika kau sudah jauh lebih tenang, ceritakan padaku apa yang sekarang terjadi. Apa semua baik-baik saja?"
"Kak, aku hamil."
Cesy melebarkan kedua matanya. Satu bulan tidak ada kabar kini wanita itu memberi informasi yang mengejutkan sekali. "Hamil?"
"Ya."
"Siapa yang sudah melakukan semua itu?" Cesy juga emosi. Dia sudah menganggap Marta seperti adiknya sendiri.
"Gavin kak."
"Gavin?"