Want My Wife

Want My Wife
Bab. 52



"Hati-hati."


Alby membantu Stella duduk di atas tempat tidur. Setelah dipastikan dokter kalau kondisi Stella dan bayinya sudah stabil, wanita itu diperbolehkan untuk pulang. Alby membawa Stella kembali ke apartemen. Untuk menghindari masalah, pria itu belum berani membawa istrinya pulang ke rumah.


"Pinggangku terasa sakit. Apa memang seperti ini wanita yang sedang hamil. Tadi aku lupa bertanya sama dokter," ucap Stella sambil memijat pinggangnya.


"Ya. Bukan hanya pinggang saja yang terasa pegal. Tapi nanti kau akan kesulitan bernapas. Bahkan berjalan saja susah." Alby berdiri di pinggir tempat tidur lalu memperagakan wanita yang sedang hamil. Perutnya di buat membuncit lalu dia tahan napas. "Sepertinya ini. Bahkan berjalan sangat susah."


Stella tertawa melihat tingkah lucu suaminya. Wanita itu juga beranjak dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Alby. Dia mengusap-ngusap perutnya yang masih rata sambil tersenyum manis.


"Bentar lagi akan ada bayi mungil yang memanggil kita dengan sebutan mama dan papa. Kau harus siap-siap bangun tengah malam ketika anakmu meminta susu. Kau harus belajar bagaimana cara membuat susu bayi dan mengganti popoknya. Tidak hanya itu saja kau juga harus belajar bagaimana cara menenangkan bayi yang sedang menangis. Mulai sekarang aku juga akan belajar. Kita sama-sama belajar untuk menjadi orang tua yang terbaik. Demi masa depan anak kita. Aku mau anakku nanti dibanjiri dengan kasih sayang."


Alby tersenyum mendengarnya. "Ya. Kita akan sama-sama belajar menjadi orang tua yang terbaik untuk anak kita nanti. Terima kasih karena kau sudah mau menerima anak ini." Alby menarik Stella ke dalam pelukannya. Pria itu mengecup pucuk kepala Stella berulang kali sebelum memeluknya lagi dengan erat. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," bisiknya mesra.


"Sepertinya aku juga sudah mulai mencintaimu. Tetapi entah kenapa aku tidak bisa mengakuinya secara langsung," gumam Stella di dalam hati.


Ponsel yang ada di dalam saku Alby berdering. Pria itu segera melepas pelukannya lalu mengambil ponselnya dari dalam saku. Wajahnya terlihat serius ketika melihat nomor yang tertera di layar ponselnya.


"Aku juga tidak kenal nomor ini. Tidak penting," jawab Alby asal saja.


Sebenarnya dia tahu kalau itu nomor pasukan Tiger White. Tetapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengangkat telepon dari geng mafia miliknya. Alby tidak mau sampai Stella tahu atas profesi gelapnya tersebut. Sejauh ini dia dipandang sebagai pria baik dan sopan oleh Stella. Alby tidak mau sampai Stella berpikiran kalau dia pria yang jahat karena sering membunuh. Alby tidak mau disamakan dengan Gavin.


Telepon Alby terus saja berdering. Stella memandang wajah Alby sebelum mengusap pipi pria itu dengan lembut.


"Angkat saja teleponnya. Aku tidak akan mengganggumu. Aku juga ingin ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku yang terasa berkeringat. Mungkin saja yang menelepon itu penting. Kau tidak bisa mengabaikannya begitu saja."


"Baiklah," jawab Alby. Pria itu segera mengangkat telepon tersebut lalu berjalan menuju ke jendela. Sedangkan Stella melangkah menuju ke kamar mandi. Wanita itu sama sekali tidak tertarik untuk menguping pembicaraan suaminya. Sebagai seorang istri dia juga tidak mau mengekang suaminya terlalu ketat. Stella memberikan kebebasan kepada Alby agar pria itu tetap bisa menjadi dirinya sendiri.


"Ada apa?" tanya Alby sambil memandang ke arah pintu kamar mandi.


"Kita di serang, Bos. Mereka berhasil membawa Gavin dan wanita itu kabur!"