Want My Wife

Want My Wife
Bab. 59



Alby baru saja tiba di tempat yang sudah ditentukan Gavin. Seperti yang dia pikirkan sebelumnya, tempat itu telah di jaga oleh pria-pria bersenjata. Alby tetap bersikap waspada. Pria itu memperhatikan satu persatu orang yang menyambutnya dengan kasar di depan sana.


"Ikut kami!" ketus mereka.


Mereka sempat memeriksa tubuh Alby untuk memastikan kalau Alby tidak masuk dengan membawa senjata berbahaya. Meskipun dengan tangan kosong, Alby merasa yakin kalau dia pasti bisa menghadapi musuh-musuhnya kali ini.


Setibanya di dalam gudang tersebut, Alby di hadapkan dengan Ny. Zachary dan Marta yang terikat di kursi. Mereka berdua memberontak. Ketika melihat Alby, mereka menggerakkan tubuh mereka lebih kuat lagi agar Alby mau segera membuka ikatan itu.


"Aku sudah bilang. Bawa Stella! Sepertinya kau tidak takut dengan ancamanku ya."


Alby memandang ke samping. Dia melihat Gavin berdiri di sana. Pria itu memainkan senjata api yang kini ada di genggaman tangannya. "Sekarang kau pilih. Yang mana yang harus aku tembak lebih dulu? Wanita tua atau wanita hamil?"


Alby menggenggam tangannya. Dia masih berusaha sabar menghadapi sikap Gavin. Walaupun sebenarnya kini pria itu sangat ingin memukul wajah Gavin.


"Keduanya. Kau bisa membunuh mereka berdua secara bersamaan."


Ny. Zachary dan Marta kaget bukan main mendengar jawaban Alby. Mereka sangat kecewa karena pada akhirnya Alby lebih memilih untuk melindungi Stella daripada harus mereka yang jelas-jelas keluarganya. Berbeda dengan Gavin. Pria itu tahu kalau ada sebuah rencana yang sudah disiapkan oleh Alby. Dia sangat yakin, Alby tidak akan tinggal diam saja jika sampai ibu dan adik kandungnya celaka.


"Benarkah?" tanya Gavin memastikan. Pria itu mengarahkan senjata apinya ke arah Marta. Dia ingin tahu seperti apa reaksi Alby ketika melihatnya.


"Satu ... dua ... ti-"


Belum sempat Gavin menarik senjata apinya, tiba-tiba seseorang sudah menembak tangan Gavin dan membuat senjata api itu terlepas. Semua pasukan Gavin di sana mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya ke arah Alby. Mereka harus tetap waspada dan tidak memberikan celah sedikitpun untuk Alby menang.


"Kau pikir kau pintar? Aku sudah tahu kalau kau pasti tidak datang sendirian. Maka dari itu, aku sudah menyiapkan kejutan baru."


"Stella?"


"Kau kaget? Kau lupa satu hal, Alby. Selama ini aku sudah memiliki akses untuk keluar masuk ke apartemen murahanmu itu. Jadi, kau tidak perlu kaget melihat Stella ada di sini." Gavin berjalan mendekati Stella. "Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan anak ini jika sniper tersembunyimu itu masih ada di sini mengawasi kita!" ancam Gavin gantian. Rasanya dia puas sekali bisa mengancam Alby seperti itu.


"Baiklah. Aku akan meminta mereka pergi. Tapi, jangan celakai Stella," ucap Alby. Pria itu memberi kode ke arah sniper yang kini mengawasinya. Meskipun tidak terlihat, tetapi Alby tahu kalau sniper itu tahu dengan kode yang baru saja dia berikan.


"Gavin, jangan celakai anakku. Aku mohon," lirih Stella.


"Tidak sayang. Aku tidak akan mungkin mencelakai anak kita." Gavin merangkul pundak Stella. Jelas saja itu membuat Alby tidak suka dan sangat cemburu.


"Lepaskan Stella. Hadapi aku jika kau berani!" tantang Alby.


"Tidak semudah itu!" Gavin memandang Stella dan menciuminya dengan mesra. Dia sengaja membuat Alby semakin mendidih agar pria itu memperlihatkan kemampuan yang selama ini disembunyikan. Gavin ingin tahu sekuat apa Alby!


"Cukup, Gavin. Kau menjijikkan!" ketus Stella. Bahkan karena terlalu kesal, Stella sampai meludahi wajah Gavin. Jelas saja itu membuat Gavin tidak terima. Dengan penuh emosi pria itu menampar wajah Stella.


"******!" umpat Gavin.


"GAVIN!"


Alby tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Pria itu menyerang lawan yang ada di dekatnya dan merebut senjata apinya. Secara cepat Alby menembak satu persatu musuh yang ada di dekatnya. Gavin tersenyum simpul melihat aksi Alby. Pria itu mengambil senjata api lagi lalu mendaratkannya di pelipis Stella.


"Berhenti atau wanita ini akan mati!"