Want My Wife

Want My Wife
Bab. 10



Alby meletakkan tubuh Stella di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Dia masih berada di dekat wajah Stella ketika wanita itu telah berbaring. Dipandangnya wajah istrinya sebelum dia kecup bibir merah itu. Malam ini dia harus memiliki istrinya. Ya, tiba-tiba saja pemikiran seperti itu muncul di dalam kepalanya. Padahal sebelumnya dia tidak mau senekad ini. Dia rela menunggu sampai Stella benar-benar siap untuk melakukannya. Kecemburuannya telah membutakan hati Alby. 


“Maafkan aku Stella. Aku tahu kau akan marah besok pagi. Tetapi … aku juga ingin seperti itu. Aku juga ingin mencium dan membelaimu,” ucap Alby dengan sangat pelan. Pria itu mengecup lagi bibir Stella. Wanita itu tidak akan bisa mengendalikan dirinya sampai besok pagi. 


Setelah tiba di dalam kamar, Alby menyuntikan sebuah cairan di lengan Stella agar wanita itu tidak sadar dan justru tergoda dengannya. “Obatnya akan segera  bekerja. Maafkan aku karena sudah menjebakmu seperti ini sayang.” Alby mengecup lagi bibir Stella. Kali ini kecupannya sudah dipenuhi nafsu. Pria itu tidak segan-segan lagi mencium bibir atas dan bibir bawah istrinya.


Seperti apa yang sudah di rencanakan Alby. Stella mulai membuka kedua matanya dengan keadaan panas. Kecupan di bibirnya begitu menggoda. Stella tidak bisa melihat jelas wajah pria itu. Ruangan itu di buat temaram. Justru Stella mulai membalas cumbuan Alby. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Alby.


“Gavin,” ucap Stella dengan suara serak.


Alby hanya bisa menggenggam seprei  yang mereka tiduri untuk meluapkan emosinya. Dia semakin panas mencumbu Stella tanpa mau menunjukkan wajahnya. Stella seperti mulai tergoda dan kesulitan mengendalikan dirinya. Akal sehatnya telah hilang. Dia sangat merindukan kemesraan yang seperti ini. Sudah lama dia tidak merasakannya. 


******* demi ******* yang lolos dari bibir Stella berhasil membuat Alby lebih panas lagi. Pria itu menarik tubuh Stella dan meminta wanita itu untuk duduk. Ketika Stella ingin melihat wajahnya, tiba-tiba Alby memeluk Stella dan memberikan cumbuan di leher jenjangnya. Stella menjambak rambut Alby sambil memejamkan mata. Baju yang ia kenakan sudah lepas dibuat Alby. Ini saatnya mereka berada di tahap yang lebih.


“Maafkan aku sayang,” bisik Alby sebelum pria itu membaringkan Stella di ranjang lagi dan memiliki wanita itu seutuhnya.


Stella kali ini berhasil melihat wajah Alby. Wanita itu seperti ingin menolak. Namun, dengan cepat Alby mencumbunya dengan kelembutan dan cinta. Stella memejamkan mata dan mulai menikmatinya. Dia kesulitan untuk menolak pesona Alby. Godaan demi godaan yang diberikan Alby telah meruntuhkan pertahanannya.


Kamar hotel yang temaram itu menjadi saksi percintaan pertama mereka setelah menikah. Alby begitu agresif memiliki istrinya. Stella sendiri terlihat sangat berpengalaman dalam hal menyenangkan pria. Alby merasa sangat puas dengan servis istrinya. Walau sesekali rasa cemburu itu mulai memenuhi isi kepala hingga menyesakkan dada.


Stella terjatuh di atas tubuh Alby ketika wanita itu telah mencapai puncaknya. Alby mengusap punggung Stella yang polos sebelum mengecup pucuk kepala wanita itu.


"Apa seperti ini yang kalian lakukan selama ini? Stella, kau harus ingat! Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi milikku. Hanya aku yang boleh melihat tubuhmu dan menyentuh tubuhmu. Hanya aku boleh memilikimu!" ucapan Alby seperti sebuah peringatan yang tidak boleh di langgar oleh Stella. Stella yang kelelahan mulai memejamkan mata.


Tetapi ternyata Alby belum selesai. Pria itu membaringkan tubuh Stella di bawa sebelum memiliki wanita itu untuk kesekian kalinya. Dia berharap benih cinta yang ia kirim ke rahim Stella akan segera menjadi bayi mungil yang menggemaskan untuk mempererat pernikahan mereka.


***


Stella terbangun dengan tubuh yang terasa sakit. Pandangan matanya masih terasa kabur, dengan tubuh lemas ia berusaha untuk memfokuskan apa yang ia lihat. Tubuhnya seperti remuk. Rasanya Stella malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur itu. Dia merasa nyaman berbaring dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Serpihan ingatan tentang peristiwa tadi malam, muncul dengan samar-samar. Ada rasa tidak nyaman dan basah di bagian bawah ketika ia bergerak. Walau ini bukan yang pertama, tetapi ini termasuk percintaan yang paling lama.


Dengan wajah panik, Stella terduduk di atas tempat tidur. Ia merasakan kehadiran seseorang yang kini tidur disampingnya. Aroma tubuh dan hembusan napas, memang menandakan seseorang kini ada di sampingnya. Tidak hanya itu saja, selimut yang menutup tubuhnya juga terjatuh hingga memamerkan tubuhnya yang polos. Stella mulai sadar kalau saat ini dirinya tidak lagi mengenakan busana.


Wajahnya panik dengan debaran jantung yang tidak lagi normal. Tangannya mencengkram seprei hotel itu dengan begitu kuat. Bahkan untuk melihat wajah seseorang yang tidur di sampingnya, Stella tidak lagi memiliki keberanian. Napasnya terasa sesak seolah dia berada di ruangan yang begitu sempit.


Bayangan kejadian ketika dia kehilangan keperawanannya dulu kembali berputar. Stella merasa sangat pusing. Kepalanya seperti mau pecah. Dimana di dalam kamar hotel, dia terbangun dengan tubuh sakit semua dan kehilangan keperawanan. Stella tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Tetapi, pagi ini dia seperti kembali ke masa itu.


“Selamat pagi,” ucap Alby dengan santai.


"Kenapa? Kau malu jika tubuhmu di lihat oleh-"


PLAAKKK


Belum juga Alby menyelesaikan kalimatnya, Stella sudah lebih dulu mendaratkan satu tamparan di wajahnya. Wanita itu merasa emosi melihat kelakuan Alby. Walau pria itu adalah suami sah nya. Tapi tetap saja perbuatan ini melanggar aturan. Stella melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Ini namanya dia di jebak. Stella sangat membenci Alby.


"Stella, apa yang kau lakukan?" protes Alby sambil memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh Stella.


"Kau pria yang menjijikkan!" umpat Stella. "Aku tidak menyangka, kalau pria terhormat seperti dirimu ternyata bisa semurahan ini."


"Murahan kau bilang?" Alby menyunggingkan bibir ke samping. "Murahan mana sama seorang istri yang rela bercumbu dengan kekasihnya di ruang ganti? Padahal dia tahu kalau suaminya masih menunggu di depan!"


Stella membisu. Kini dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia tidak menyangka kalau Alby mengetahui kejadian di ruang ganti itu. "Kenapa kau diam saja?" sambung Alby.


"Apa yang sudah kau lakukan tadi malam?" tanya Stella tanpa memandang.


“Apa kau begitu polos hingga tidak tahu apa yang sudah kita lakukan?” ucap Alby dengan senyum tipis saat melihat wajah pucat istrinya. Lagi-lagi ia ingin mengetes reaksi Stella atas perbuatannya malam ini.


"Aku tidak bercanda. Apa kita sudah …." Stella menahan kalimatnya.


Seluruh tenaga yang kini ia miliki seakan hilang. Sebenarnya tanpa bertanya juga Stella sudah menebak sampai ke situ. Tetapi, dia akan jauh lebih puas ketika mendengar jawaban dari Alby langsung.


"Kita bercinta sampai pagi Stella," bisik Alby di dekat telinga Stella.


“Kenapa kau melakukan semua ini.” Stella menangis. Alby bisa melihat tetesan air mata di pipi wanita itu.


“Aku?" Alby tertawa kecil. "Bukan aku sayang. Tapi kita. Kau juga ikut menikmatinya. Kau terlihat sangat ahli. Sepertinya ini bukan yang pertama kalinya kau lakukan."


"Apa sudah cukup menghinanya?" Stella memalingkan wajahnya. Wanita itu sedih dihina seperti ini. Dia tidak galak seperti biasanya.


Padahal tadinya Alby berpikir kalau pagi ini akan berubah menjadi pagi yang begitu berisik. Penuh teriakan dan umpatan yang keluar dari bibir Stella. Namun tebakannya salah. Justru Stella menangis. Alby tidak tega melihat Stella menangis. Dia merasa sangat bersalah jika Stella terus-menerus menangis seperti ini.


Alby juga memalingkan wajahnya karena tidak tega melihat wajah sedih Stella. "Maafkan aku. Aku sangat menginginkanmu tadi malam. Aku tidak tahu harus kepada siapa. Aku berpikir kalau aku berhubungan dengan wanita malam, itu hanya akan mencoreng pernikahan kita." Alby terpaksa berdusta. Dia tidak mau masalah ini berbuntut panjang.


"Baiklah," jawab Stella. Wanita itu turun dari tempat tidur sambil memeluk selimut. Dia berjalan pelan menuju ke kamar mandi. Alby menghela napas panjang melihat Stella. Ketika pintu kamar mandi di tutup, dia kembali berbaring di ranjang.


"Kenapa jadi seperti ini?" umpatnya kesal ketika rencananya harus gagal pagi ini.