
Stella duduk di sofa sambil menonton televisi. Ia sudah meletakkan kopi pesanan Albv di meja kerja. Setelah makan malam, Stella tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ponselnya dalam keadaan non aktif untuk menghindari panggilan telepon dari Gavin. Biasanya sesekali Stella akan bermain sosmed untuk menghilangkan kejenuhannya.
Suara ketukan pintu membuat Stella bingung. DIa tidak sedang memesan apapun malam ini. Hatinya bertanya-tanya, siapa yang datang.
"Sepertinya Alby belum selesai mandi," gumam Stella di dalam hati. Dia memutuskan untuk membuka pintu tanpa ijin dari Alby. Stella merasa yakin kalau tidak mungkin Gavin tiba di sana. Apartemen itu dilengkapi dengan penjagaan yang begitu ketat.
Stella mengintip dari lubang yang ada di pintu. Alisnya saling bertaut melihat kurir berdiri di depan sana. Karena sudah sangat penasaran, Stella segera membuka pintu.
"Selamat malam, Nyonya. Ini ada paket untuk anda." Kurir itu memberikan kotak hitam dengan pita merah.
"Apa ini?" gumam Stella dengan penuh tanda tanya. Anehnya di sana tertulis jelas untuk Stella. Tetapi Stella tidak tahu siapa yang mengirim.
"Saya permisi, Nyonya." Pria itu menunduk hormat sebelum pergi. Stella hanya mengangguk saja sebelum masuk ke dalam. Sambil melangkah menuju ke sofa, Stella memperhatikan kotak itu terus. Ingin sekali dia segera membuka kotak berpita merah tersebut.
"Stella. Apa itu?"
Kemunculan Alby membuat Stella menjauhkan kotak tersebut. Dia meletakkan kotak itu di atas meja lalu kembali duduk bersandar di sofa.
"Aku tidak tahu siapa yang mengirim kotak ini. Di sini tertulis jelas namaku," sahut Stella apa adanya.
"Apa isinya?" Alby menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di samping Stella. Pria itu melirik kotak hitam itu sejenak sebelum memandang Stella. "Kau belum membukanya?"
"Kenapa?" Alby mengukir senyuman penuh arti. "Apa kau takut jika hadiah itu darinya?"
Stella membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, kalimat itu masih saja tertahan. "Aku tidak peduli dengan benda yang ada di dalam kotak ini," jawabnya asal saja.
"Itu hadiah dariku. Aku harap kau menyukainya. Aku tunggu di kamar." Alby beranjak dari sofa yang sempat ia duduki dan melangkah menuju ke kamar. Mengetahui kalau hadiah itu dari Alby membuat Stella segera membuka kotak tersebut. Dengan tidak sabar dia menarik pita merah yang mengikat kotak tersebut. Entah kenapa hatinya menjadi sangat antusias ketika tahu hadiah itu dari suaminya.
"Apa ini?"
Stella mengambil gaun yang terlipat rapi di dalam kotak. Gaun yang sangat indah. Itu yang pertama kali muncul di dalam pikiran Stella. Gaun berwarna hitam polos panjang sampai lutut dengan belahan di samping sampai ke paha. Tangannya bertali dengan bagian dada terbuka. Ukuran gaun itu sangat pas dengan tubuh Stella. Satu hal yang membuat Stella sedikit bingung. Gaun itu adalah gaun tidur. Bukan untuk acara formal. Biasanya setiap wanita akan membeli gaun seperti itu untuk menggoda pasangannya.
"Apa maksud Alby? Kenapa dia membelikanku gaun seperti ini?"
Sebuah surat jatuh di karpet. Stella mengambil suratnya dan segera membaca isi di dalamnya. Alisnya saling bertaut selesai membaca pesan singkat yang tertulis di dalamnya.
"Malam ini ulang tahunku. Apa kau mau memberiku hadiah? Pakai gaun ini jika kau ingin memberiku hadiah. Tetapi, jika kau belum siap. Jangan kenakan gaun ini. Aku tidak akan marah."
"Hadiah?" Stella memperhatikan gaun itu lagi. "Hadiah seperti apa yang sebenarnya dia inginkan?"