
Hal pertama yang dilakukan Stella ketika dia tiba di mall adalah mencari tempat untuk sarapan. Di dalam perjalanan perutnya mulai merasa lapar. Namun Stella Tidak tahu ingin makan apa. Perutnya terasa mual. Kepalanya juga sedikit pusing.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan. Setelah sampai justru aku bingung harus melakukan apa. Tokoh-tokoh juga masih baru buka. Sepertinya aku datang terlalu pagi," gumam Stella di dalam hati. Dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Memijat-mijat kepalanya yang memang terasa pusing sekali. "Kenapa aku jadi ingin muntah ya."
Stella mengitari arena itu untuk mencari toilet. Dia memegang dinding yang tidak jauh dari posisinya berdiri agar tidak terjatuh. Semua terasa bergoyang. "Kepalaku kenapa semakin sakit. Apa ini karena aku belum sarapan?"
Saat ingin melangkah tiba-tiba ada dua tangan kekar menahan tubuhnya. Stella memandang ke belakang. Alisnya saling bertaut melihat Gavin berdiri dengan topi dan masker yang melekat di wajahnya.
"Gavin, Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengikutiku?" protes Stella.
"Lepaskan Nona Stella atau anda akan kami tembak."
Stella dan Gavin sama-sama memandang ke depan. Mereka melihat Lea dan beberapa polisi yang kini menodongkan senjata api ke arah mereka. Stella terlihat takut. Dia tidak mau sampai tertembak. Bahkan mendengar suara tembakan saja dia rasanya belum siap.
"Aku tidak peduli apa yang ingin kalian lakukan yang terpenting saat ini wanita yang aku cintai ada bersamaku," jawab Gavin.
"Gavin, Apa yang ingin kau lakukan. Bukankah di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," jawab Stella dengan nada yang pelan. Kepala yang tadi pusing dan perut yang mual sudah hilang entah kemana sejak munculnya Gavin di hadapannya.
"Tidak, Stella. Kita akan selalu bersama." Gavin mengambil sesuatu dari dalam saku dan melemparnya ke depan. Kepulan asap warna-warni menghalangi pandangan orang-orang yang ingin menembaknya termasuk Lea. Bersamaan dengan itu Gavin membungkam mulut Stella dan membawa wanita itu untuk pergi dari sana. Gavin tidak sendirian. Tidak jauh dari posisinya berdiri telah ada anak sekolah yang sudah siap untuk mengacaukan para polisi dan juga pasukan Lea. Mereka semua berlari ke asap dan bermain dengan gembira hingga membuat para polisi tidak bisa menggunakan senjata dengan bebas.
Gavin memandang ke belakang sambil tersenyum tipis. Pria itu merasa bahagia karena kini wanita yang ia cintai telah ada di dalam genggamannya. Stella hanya diam saja. Wanita itu sekarang tidak tahu harus bagaimana. Gavin membawanya menuju ke sebuah mobil yang sudah disiapkan. Mereka masuk ke dalam.
"Aku tidak mau pergi bersamamu," berontak Stella.
"Aku tidak memberimu pilihan. Ikut denganku dan hidup bahagia denganku. Tinggalkan pria itu. Aku sudah menyiapkan tempat yang jauh dari sini untuk kita tinggal. Aku yakin kau akan bahagia di sana." Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tersenyum bahagia melihat kamera CCTV yang sudah hancur karena ditembaki oleh anak buahnya. Kali ini rencana mereka berhasil.
Gavin menyadap telepon Stella hingga ia tahu ke mana Stella akan pergi hari ini. Walau awalnya terasa berat tetapi akhirnya Gavin berhasil mendapatkan Stella lagi.
"Apa yang kau lakukan! Berikan ponsel itu kepadaku!" teriak Stella tidak terima.
"Kau ingin menghubungi pria itu bukan?" Gavin membuka jendela mobil dan segera melemparkan ponsel Stella ke jalanan.
Stella kali ini hanya bisa diam membisu. Wanita itu kenal betul bagaimana karakter kekasihnya. Semakin dibantah justru pria itu akan semakin marah. Sambil memandang keluar Stella memikirkan cara untuk kabur dari sana.
"Satu-satunya cara agar aku bisa terbebas dari Gavin adalah melompat dari mobil ini. Tapi kecepatan mobilnya sungguh luar biasa. Aku bisa celaka jika melompat saat mobil melaju secepat ini," gumam Stella di dalam hati.
"Jangan pernah memiliki pemikiran untuk kabur karena mobil ini telah dikunci dengan rapat. Apapun cara yang kau pikirkan akan tetap gagal. Sebagai seorang kekasih menurut lah. Aku janji akan membawamu ke tempat yang bahagia. Lupakan pria itu mulai detik ini. Ada aku yang selalu mengisi hati dan pikiranmu."
"Cara yang kau gunakan salah. Kau memaksa seseorang untuk tetap mencintaimu. Cinta tidak bisa dipaksakan Gavin. Meskipun kau berhasil memiliki ragaku tapi kau tidak berhasil memiliki hatiku lagi."
"Persetan soal hati. Yang penting sekarang tubuhmu ada di sampingku tidak di samping pria itu. Pria itu harus menderita. Dia harus merasakan rasa kehilangannya selama ini aku rasakan."
Stella kembali diam karena tiba-tiba kepalanya pusing lagi. Wanita itu memegang kepalanya yang terasa berat dan bergoyang.
"Kepalaku sakit," lirih Stella sambil memejamkan mata.
"Maaf sayang. Kali ini aku tidak percaya dengan semua perkataanmu," jawab Gavin dengan senyuman. Dia berpikir kalau Stella sedang mencari alasan agar bisa kabur.
Stella tidak sanggup lagi. Wanita itu memegang lengan Gavin. "Sakit," lirihnya sebelum tidak sadarkan diri. Tubuhnya jatuh terhuyung ke depan hingga kepalanya terbentur dasbor mobil. Secepat mungkin Gavin mengerem mobil.
"Stella, Apa yang terjadi. Stella, bangun Stella. Gavin menepuk pipi Stella dan memandang wajah Stella yang telah pucat. "Stella. Apa kau masih bisa mendengarku. Jangan seperti ini, ayo bangun. Jangan buat aku khawatir dan takut." Gavin memeluk Stella dengan wajah yang begitu khawatir. Dia memandang ke belakang untuk memastikan tidak ada satu mobil pun yang mengikutinya. Mau tidak mau kali ini dia harus membawa Stella ke dokter. Gavin tidak mau sampai wanita yang ia cintai jatuh sakit.
"Bertahanlah Stella. Aku akan segera menolongmu," ujar Gavin dengan satu tangan memeluk tubuh Stella.