
Cesy berusaha tetap tenang walau kini sebenarnya debaran jantungnya sudah tidak karuan. Ada banyak nama Gavin di dunia ini. Tidak mungkin kakak kandungnya yang sudah menghamili Marta. Bukankah setahu Cesy, Gavin yang dia kenal sangat mencintai Stella. Mana mungkin mau menjalin hubungan dengan wanita lain. Sampai hamil lagi.
"Kak, kenapa kakak diam saja? Kakak masih mendengarku?"
"Hmm, ya. Sekarang bagaimana keadaanmu? Marta, dimana pria yang sudah melakukan semua itu? Apa dia mau bertanggung jawab?"
Marta diam beberapa detik. Lagi-lagi hanya terdengar suara isak tangis saja. "Tidak kak. Aku bahkan tidak tahu sekarang dia ada dimana. Kak, aku sangat membutuhkan kakak."
Cesy mulai khawatir. Dipandangnya ke arah pintu. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertanya langsung dengan Gavin. "Marta, istirahatlah. Ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan. Aku akan menghubungimu nanti. Tenanglah. Walau berat, anak yang ada di dalam kandunganmu adalah anakmu. Kau tidak bisa menyiksanya."
Masih tidak ada jawaban dari Marta. Sepertinya wanita itu telah muak mendengar nasihat. Dia butuh Gavin, bukan sekedar nasihat saja.
"Kakak tahu kau sedih. Secepatnya kakak akan menemuimu," sambung Cesy lagi.
"Baiklah kak."
Cesy segera mematikan panggilan telepon tersebut. Tanpa pikir panjang Cesy segera pergi meninggalkan kamarnya. Dia melangkah cepat menuju posisi Gavin berada.
Setibanya di ruang tamu, Gavin sudah menghilang. Yang tersisa hanya botol kosong yang tergeletak di atas meja. Cesy melangkah lagi menuju ke arah samping. Pintu kamar Gavin ada di sebelah sana. Belum tiba di halaman samping wanita itu sudah berhenti lagi.
"Kak, bukannya aku tidak mengerti apa yang kau rasakan. Tetapi aku tidak mau kau semakin sakit. Cintamu begitu besar untuk Stella. Tapi takdir memang tidak merestui kalian. Sekeras apapun usaha yang kau lakukan hanya akan sia-sia saja," gumam Cesy di dalam hati.
Gavin menuang air hangat ke dalam gelas. Dia memasukkan susu hamil lalu mengaduknya perlahan. Pria itu memutar tubuhnya setelah meletakkan susu di atas nampan. Alisnya saling mengeryit melihat Cesy berdiri memperhatikannya.
"Bersembunyilah di dalam kamar karena aku ingin mengajak Stella untuk sarapan di sini. Dia pasti sudah bersiap-siap di kamar. Aku ingin menjemputnya dan membawanya pergi jalan-jalan."
"Kakak yakin ingin mengajaknya jalan-jalan. Kakak tidak takut orang bayarannya Alby melihat Kakak dan Stella?
"Aku ini ketua mafia. Tidak ada yang aku takuti. Aku bisa melakukan segala cara untuk mempertahankan wanita yang aku cintai agar tetap berada di sisiku. Alby hanya seorang pengusaha yang tidak memiliki kemampuan untuk bela diri. Ketika berhadapan satu lawan satu dia juga pasti akan kalah."
"Bagaimana dengan polisi? Kakak juga masih buronan?"
"Di kota ini aku bukan seorang buronan. Aku bebas melangkah kemanapun aku ingin!"
Cesy mendengus kesal. Karena belum dibutuhkan wanita itu memilih untuk segera masuk ke dalam kamar. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk menanyai masalah Marta kepada Gavin.
Gavin memandang ke arah Cesy sejenak sebelum tersenyum. "Alby. Justru sekarang aku ingin bertemu dengannya dan mengatakan kalau Stella mengandung anakku. Pernikahan mereka belum lama. Jika Stella mengandung anakku, rasanya masih masuk akal." Gavin melangkah menuju ke kamar tempat Stella di kurung. Pria itu sudah tidak sabar untuk jalan-jalan berdua bersama dengan wanita yang ia cintai.