
Alby sudah tiba di perusahaan. Pria itu segera masuk dan menuju ke ruang kerjanya tempat Stella berada. Wajahnya terlihat sangat panik. Rasanya setiap detik itu terasa begitu lama. Bahkan gerakan lift menuju ke lantai saja seperti berhenti di tengah jalan. Alby benar-benar dibuat panik kali ini.
Ketika lift kembali terbuka, Alby segera keluar dan berlari menuju ke ruang kerja miliknya. Sekretaris yang tadi menghubunginya sudah menunggu di dekat pintu masuk.
"Tuan, saya sudah memberikan Nona minum dan cemilan. Tetapi wajahnya masih tetap tidak bersahabat. Apa anda telah melakukan sesuatu yang buat Nona marah?"
"Ya. Tetapi kau tidak perlu tahu apa masalah kami!" sahut Alby sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Sekretaris wanita itu hanya cemberut saja mendengarnya lalu kembali ke kursi kerjanya.
Stella memandang ke luar jendela dengan tatapan tidak terbaca. Wanita itu seperti sudah tidak berselera lagi memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulutnya. Dia butuh Alby. Bukan yang lainnya!
"Stella," ucap Alby hati-hati.
Stella memandang ke samping. Wanita itu segera beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah Alby. karena tidak mau istrinya celaka Alby segera berlari menghampiri Stella.
"Tetap duduk di sana biar aku saja yang datang."
"Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. kenapa kau ingin membunuh Gavin?"
"Apa salah jika aku membayar orang untuk membunuh pria yang sudah terlalu gila mencintai istriku? Mungkin kemarin-kemarin aku masih ragu untuk melakukannya. Tetapi setelah dia nekat untuk menculik dan membunuh istri dan anakku. Aku tidak bisa mentolerinya lagi. Aku sengaja membayar mereka untuk membantuku menghabisinya nyawa Gavin."
"Tidak akan. Aku sama sekali tidak terlibat dalam masalah ini nanti. Orang bayaranku bisa melakukannya dengan begitu bersih tanpa melibatkan namaku di dalamnya. Tadinya aku ingin merahasiakan ini darimu karena aku tidak ingin kau kepikiran. Tetapi karena kau sudah mengetahuinya mau tidak mau aku akan ceritakan saja semua yang terjadi." Alby mengajak Stella duduk di sofa yang sama dengannya. Pria itu mengambil jus jeruk yang ada di meja lalu memberikannya kepada Stella. "Minum dulu agar kau bisa jauh lebih tenang."
Stella menerima jus jeruk itu lalu meneguknya secara perlahan. Wanita itu masih menatap wajah Alby untuk menagih penjelasan dan memastikan pria itu tidak sedang membohonginya.
"Alby katakan saja apa yang sebenarnya terjadi karena aku tidak mau kau menyimpan rahasia dariku."
Alby diam sejenak. Sebenarnya dia masih ragu untuk menceritakan Tiger White kepada Stella. Tetapi mau sampai kapan ia merahasiakannya. Jika suatu saat setelah mengetahuinya sendiri itu akan jauh lebih berbahaya. Stella juga bukan tipe wanita yang mudah untuk dibohongi.
"Kenapa kau diam saja Apa kau sedang memikirkan kalimat yang cocok untuk membodohiku?" ucap Stella dengan wajah kesal.
"Stella, sebenarnya aku ini pria yang buruk. Tidak sebaik yang kau pikirkan selama ini."
"Buruk? Buruk seperti apa yang kau maksud."
"Aku sama seperti Gavin. Aku memiliki sebuah geng mafia bernama Tiger White. Tetapi selama ini aku fokus dengan perusahaan. Aku tidak pernah mempedulikan geng mafia aku. Lea yang selalu mengurusnya.
"Kau pemimpin geng mafia, Alby?"