Want My Wife

Want My Wife
Bab. 37



Marta masih belum bisa di tinggal sendiri. Setiap kali sadar, wanita itu pasti akan marah-marah dan menghancurkan semua barang yang ada di dekat. Lea yang sehat bertugas untuk menjaga Stella kini justru di tugaskan Alby untuk menjaga adiknya. Bisa di bilang saat ini Stella tidak lagi dalam pengawasan yang ketat. Baik Alby maupun semua orang sedang memburu Gavin. Mereka ingin menangkap Gavin untuk memberi pria itu pelajaran atas apa yang sudah ia perbuat.


Di kamar apartemen, Stella merasa kesepian. Biasanya Alby selalu ada untuknya. Ini tidak. Alby terlihat cuek seolah tidak butuh. Walaupun Stella tahu apa yang mendasari suaminya hingga seperti itu. Tetap saja dia tidak terima. Stella ingin diperhatikan. Ia ingin dijadikan nomor satu seperti biasanya.


Selesai membuat sarapan pagi, Stella kembali duduk di meja makan. Dia memandang sarapan buatannya dengan wajah tidak bersemangat. Pagi ini Alby segera menghilang setelah bangun tidur. Bahkan ketika Stella belum selesai sarapan, pria itu sudah pergi. Sekarang Stella harus sarapan sendirian. Rasa seleranya hilang entah kemana.


"Kenapa sekarang jadi aku yang merindukannya!" protes Stella kesal. Dia meletakkan lagi sendok dan garpu yang sempat dia pegang. Menghela napas napas panjang berubah kembali tenang. Diliriknya sekali lagi sarapan yang tadi dia masak. Dia benar-benar tidak selera. Tidak akan tertelan juga makanan itu jika ia masukkan ke dalam mulut.


"Alby ... sebenarnya kau ini sifatnya bagaimana? Kau janji akan selalu mengutamakanku. Tapi apa sekarang?"


Stella mengambil ponselnya. Dia ingin memarahi Alby. Dia ingin meminta Alby pulang untuk sarapan. Stella ingin suaminya pulang. Dia tidak peduli apa yang dilakukan suaminya saat ini. Setelah menekan nomor telepon Alby, dia mengatur napasnya lagi.


"Halo Stella. Apa kau baik-baik saja?" tanya Alby khawatir. Ini pertama kalinya Stella menghubunginya setelah sekian lama nomornya tersimpan. Alby merasa khawatir. Dia takut terjadi sesuatu terhadap istri di apartemen.


Stella memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Segala umpatan yang ingin ia ucapkan, hilanglah sudah ketika dia mendengar suara Alby dan nada khawatir pria itu.


"Benarkah?"


"Alby, aku mau ijin. Aku ingin belanja. Aku bosan di sini." Entah kenapa tiba-tiba itu kalimat yang terpikirkan olehnya. Padahal sebelum menekan nomor Alby, Stella ingin sekali memarahi suaminya dan memaksa pria itu untuk pulang menemaninya sarapan.


"Pergilah. Kartu yang pernah aku berikan masih bisa kau gunakan. Kau boleh beli apapun yang kau inginkan. Tetap jaga kesehatan ya. Setelah rapat aku akan melihat keadaan Marta. Nanti aku telepon lagi."


"Baiklah. Kau juga tetap jaga kesehatan." Stella segera memutuskan panggilan telepon itu. Setelah panggilan telepon mati, dia segera mengumpat dirinya sendiri karena tidak berhasil memakai Alby. Padahal biasanya dia tidak pernah pikir-pikir. Sekarang entah kenapa dia tidak berani bahkan tidak tega melukai hati Alby.


"Lebih baik aku bersiap-siap saja. Aku sudah mendapatkan ijin untuk keluar dari apartemen ini. sebaiknya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini." Stella segera beranjak dari kursi dan berlari ke kamar. Wanita itu bahkan tidak menyentuh masakan yang ia masak sendiri.


Di kantor, Alby menjadi tidak tenang setelah mengetahui Stella akan belanja ke mall. Bukan perkara uangnya. Tetapi dia takut Stella dan Gavin bertemu lagi. Dengan cepat Alby menghubungi seseorang yang akan ia urus untuk mengawasi Stella. Sesibuk apapun, pria itu tidak akan rela sampai Stella bertemu dengan Gavin lagi.


"Lea, pergi ke mall. Awasi Stella. Pastikan mereka tidak bertemu!" Alby segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia memandang orang-orang yang sejak tadi memandangnya dengan bingung. Pria itu masih ada di ruang rapat. Apapun yang tadi dia ucapkan bisa di dengar dengan jelas oleh bawahannya. "Sampai dimana tadi?"