Want My Wife

Want My Wife
Bab. 51



"Stella, apa kau marah padaku? Kenapa kau diam saja?" tanya Alby ketika Stella hanya diam sambil mengalihkan pandangannya.


"Alby, Aku tidak tahu harus bicara apa. Sebenarnya aku ingin marah. Sejak kejadian itu Aku bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak pernah memaafkan pria yang sudah menodaiku. Tapi kini keadaannya berbeda. Kita sudah menikah dan akan segera memiliki anak. Kau juga pria baik. Kau tidak seburuk yang aku pikirkan. Kau mau menerima sikapku dan segala kekurangan yang ada pada diriku dengan penuh keikhlasan. Bagaimana bisa aku marah padamu? Bahkan aku tidak memiliki alasan untuk tidak memaafkanmu."


"Stella, terima kasih karena kau sudah memaafkanku. Sekarang aku merasa jauh lebih tenang karena sudah menceritakan rahasia ini kepadamu." Alby mengecup punggung tangan Stella lalu meletakkannya di pipi. "Terima kasih sayang. Aku sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Bahkan ketika pertama kali kita bertemu, aku sudah memiliki rasa itu. Namun, aku berpikir kalau itu hanya perasaan sesaatku saja. Hingga ketika aku tahu kalau ternyata kau wanita baik-baik. Aku sangat menyesal. Aku meminta orang untuk menyelidiki keberadaanmu. Setiap waktunya aku mengamatimu diam-diam. Sampai akhirnya aku memiliki kesempatan untuk melamarmu. Aku senang sekali waktu itu. Aku bertekad untuk meluluhkan hatimu dan membuatmu jatuh cinta padaku.


Tadinya aku Berpikir untuk menyimpan rapat-rapat rahasia itu. Bahkan sampai aku mati aku tidak akan mau menceritakannya. Tetapi aku tahu kalau dalam pernikahan tidak boleh ada kebohongan apalagi rahasia. Itu hanya akan memperpendek usia pernikahan itu sendiri. Sepahit pahitnya masa lalu harus tetap diceritakan."


"Kau melakukannya tanpa sengaja dan aku bisa menerima alasan itu. Mungkin jika alasannya lain dari itu, aku akan berpikir dua kali untuk memaafkanmu," jawab Stella.


"Sayang ... aku mencintaimu." Alby menarik tubuh Stella dan memeluknya dengan erat. "Aku akan panggilkan dokter. Kau harus diperiksa setelah sadar." Alby menekan tombol di samping tempat tidur. Dia menemukan hasil USG yang tergeletak di atas nakas. "Apa kau mau melihat anak kita? Tadi dokter sempat memberikan foto hasil USG. Memang bentuknya belum terlihat jelas. Tetapi setidaknya kita bisa tahu kalau di dalam rahimmu itu sudah ada anak kita." Alby menunjukkan foto hasil USG yang tergeletak di atas nakas. Setelah menerima foto itu, Stella tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sebentar lagi akan ada bayi mungil yang memanggilnya dengan sebutan mama. Ini merupakan hadiah terindah yang tidak pernah ia bayangkan.


"Apa dia anak kita. Bentuknya sangat menggemaskan. Rasanya ingin sekali setiap harinya aku melihat dia. Mengetahui perkembangannya selama dia ada di dalam perutku." Stella sangat antusias menantikan kehadiran sang buah hati.


"Aku bukan wanita yang yang lembut. Aku ini wanita yang kasar dan galak," sangkal Stella.


"Di mataku kau wanita yang lembut dan baik hati. Itulah alasanku kenapa aku bisa tergila-gila padamu." Alby memandang ke arah pintu lagi ketika dokter yang ia harap kedatangannya tidak juga muncul. Padahal pria itu sudah menekan tombol yang ada di samping tempat tidur. Biasanya setelah menekan tombol tidak lama kemudian dokter ataupun suster akan muncul di dalam ruangan tersebut.


"Sepertinya ada yang salah. Aku akan panggil dokter itu ke ruangannya langsung." Alby beranjak dari tempat tidur tersebut. Namun Stella segera menarik pria itu hingga duduk kembali. "Ada apa?"


Stella tiba-tiba saja menarik leher Alby dan mencium pria itu. Baru juga ingin menggerakkan bibirnya pintu sudah terbuka lebar dan ciuman itu terlepas. Alby menggeram karena ada yang mengganggu momen romantis mereka. Sedangkan Stella hanya tertawa saja melihat suaminya kesal.


"Kau sendiri yang memanggil mereka," ledek Stella.


Alby menyipitkan kedua matanya. "Aku akan menghukummu setelah mereka pergi," ancam Alby dengan nada berbisik hingga akhirnya membuat tawa Stella semakin pecah. Dokter dan perawat yang masuk juga terlihat kebingungan. Namun mereka juga bahagia melihat pasien mereka bahagia.