SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 7



Emira melirik ponselnya yang berbunyi, memberi tanda bahwa ada seseorang yang tengah meneleponnya.


"Selamat malam, ibu peri" Sapa Emira setelah terhubungan dengan sang penelepon.


"Selamat malam. Bagaimana keadaanmu?"


"Baik. Emira sudah sampai sejak sore tadi, maaf karena belum sempat memberi kabar"


"Tidak apa-apa, yang terpenting kau sudah sampai dengan selamat. Apa besok sudah mulai bekerja?"


"Iya. Doakan agar pekerjaan Emira lancar, bu"


"Ibu pasti akan selalu mendoakanmu. Semoga keberhasilan selalu menyertaimu"


"Terima kasih. Ibu sedang apa?"


"Ibu baru saja menelepon kakak"


"Apa yang kalian ceritakan?" Tanya Emira penasaran.


"Menceritakanmu, yang sebentar lagi akan membawakan ibu menantu artis"


"Ibu...Emira bahkan baru sehari di sini. Bagaimana bisa, ibu dan kakak sudah berpikir seperti itu?"


"Ibu harap, kau benar-benar pulang bersama calon suami"


"Ya, doakan saja. Di mana ayah?"


"Ayah sedang menonton televisi. Kau pasti lelah, sebaiknya cepat istirahat. Ibu akan tutup teleponnya"


"Ibu juga selamat istirahat dan sampaikan salam untuk ayah. Beritahu ayah agar tidak tidur terlalu malam" Pembicaraan ibu dan anak itu berakhir setelah saling mengucapkan salam.


'Bagaimana bisa, aku fokus mencarikan ibu dan ayah menantu di saat keadaan ekonomi kita tidak stabil?. Aku tentu akan fokus memikirkan kalian terlebih dulu. Lagi pula, di mana aku bisa bertemu artis yang akan menjadi menantu ibu?'.


*** Pagi Hari ***


'Kenapa alat ini ada di sini?' Emira memperhatikan mesin pencapit yang sering ada di wahana bermain anak.


"Pakai saja jika mau" Sahutan Zhi membuat Emira terkejut.


"Kenapa kau sudah bangun sepagi ini?. Bukankah, syutingnya siang hari" Zhi kembali bertanya.


"Aku tidak bisa tidur karena terus menghafal buku data diri kalian" Terang Emira.


"Kau sangat rajin dan penurut rupanya"


"Kau kenapa sudah bangun?. Para member lain masih tertidur"


"Aku bangun karena haus, lalu tidak bisa tidur lagi" Terang Zhi.


Emira menganggukan kepala, "Eumm...begitu" Ujarnya.


"Cobalah" Zhi menunjuk mesin pencapit .


"Apa boleh?"


"Tentu saja, mesin pencapit itu punyaku"


"Apa aku juga boleh mengambil hadiahnya?"


"Iya, ambil saja"


"Baiklah. Ayo, kita coba" Dengan semangat Emira mulai menggunakan mesin capit tersebut.


Mereka bermain mesin capit dengan antusias dan bersorak kegirangan, bahkan sampai membuat member lain terbangun.


"Siapa yang berisik sepagi ini?" Tanya Chan yang belum sepenuhnya tersadar dari tidur.


Khai, Ez, Zal, dan Dza menunjuk pada dua orang yang sedang bermain mesin capit dengan semangat dan terus menimbulkan suara gaduh tanpa memperdulikan sekitar.


"Sejak kapan mereka jadi akrab?" Chan kembali bertanya.


"Sejak pagi ini" Jawab Khai, Ez, Zal, dan Dza secara bersamaan.


"Mereka berisik sekali. Tapi, aku jadi ingin ikut bermain" Chan berjalan mendekati Emira dan Zhi.


"Rumah ini sudah berisik karena dua bayi besar, dan sekarang Pak Arsel malah menambahnya" Ucap Khai sambil melenggang meninggalkan Ez, Zal, dan Dza.


Ez menepuk pundah Zal dan Dza seolah memberi semangat untuk mereka agar bersabar.


Sementara itu, suasana semakin riuh karena Chan bergabung bersama Emira dan Zhi.


"Sekarang giliranku, cepat minggir" Intruksi Chan pada Zhi.


"Kakak sudah sering memainkannya. Kenapa masih ingin ikut?" Protes Zhi.


"Biarkan saja, kita sudah banyak mendapat hadiah" Emira menunjuk beberapa hadiah yang sudah mereka dapatkan dari mesin capit.


"Bagaimana, kalau kita mencoba permainan lain?" Tawar Zhi.


"Ayo..." Emira menerima tawaran Zhi.


Zhi menunjukkan permainan puzzle bobble pada Emira yang terlihat antusias.


"Kenapa di sini banyak permainan anak-anak?" Tanya Emira penasaran.


"Sebenarnya ini properti syuting, tapi aku memintanya setelah syuting selesai"


"Wah...hanya karena kau memintanya, mereka langsung memberikan?"


"Tentu saja" Jawab Zhi dengan bangga.


"Aku juga mau coba" Chan yang telah bosan dengan mesin capit kembali menghampiri Zhi dan Emira. Meskipun kerap beradu mulut, tapi pada akhirnya mereka bermain bersama.


***Lokasi Syuting***


Emira berlarian ke sana kemari demi mempersiapkan perlengkapan para member untuk syuting. Ia seperti akan kehabisan napas karena kelelahan. Sebenarnya, di sana juga banyak staf yang membantu. Bahkan, ada asisten SUN yang lain, tetapi karena Emira adalah asisten pribadi, sehingga ia yang paling kerepotan mengurus keperluan SUN. Ia masih butuh penyesuaian di hari pertamanya bekerja.


'Sebenarnya, pak Arsel ingin membantu atau malah membebaniku?. Kenapa tidak menjadikanku asisten umum saja, dari pada asisten pribadi yang 24 jam bersama SUN' Monolog Emira sambil mengibas-ibaskan tangan karena merasa gerah. Kini, ia tengah duduk untuk istirahat sejenak sembari menunggu SUN bersiap untuk syuting selanjutnya. Meskipun lelah, tapi ia lega karena semua berjalan dengan lancar.


"Emira..." Panggil Zhi.


'Kenapa lagi bayi itu?. Baru saja beristirahat, sudah diganggu' Batin Emira sembari berjalan menghampiri Zhi.


"Kenapa?" Tanya Emira pada Zhi yang tengah duduk di kolong meja.


"Sini...ayo, makan ini" Zhi menunjukan beberapa makanan yang dibawanya.


"Syutingnya sudah selesai, jadi ini halal untuk dimakan" Ucap Zhi dengan santai sembari membuka salah satu snack yang dibawanya.


"Kau yakin?" Emira terlihat ragu.


"Hmm. Ayo, makan saja"


Emira yang memang belum memakan apa pun sejak tadi, akhirnya ikut duduk bersama Zhi sambil memakan snack.


"Kenapa kita makan dengan sembunyi seperti ini?"


"Supaya kak Chan tidak memintanya" Jawab Zhi asal.


"Snack ini banyak, kenapa dia harus meminta ini?"


"Kak Chan senang merebut apa yang aku makan"


"Kau tidak sedang berbohong, kan?"


Mendapati jawaban senyum lebar tanpa dosa dari Zhi, perasaan Emira menjadi tidak enak.


"Aku tidak mau terkena masalah karena ini. Aku mau pergi" Emira yang hendak melangkah pergi, kembali memutar tubuhnya saat terdengar suara benturan yang cukup keras.


"Akh..." Zhi memegang kepalanya yang terbentur meja.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Emira sedikit panik.


"Tidak, sepertinya aku hilang ingatan"


"Kalau begitu, aku akan membenturkannya sekali lagi supaya ingatanmu kembali" Ucap Emira yang melihat Zhi baik-baik saja.


"Kau jadi seperti ibu tiri yang kejam" Umpat Zhi lalu bangun dari duduknya.


"Kalian sedang apa?" Tanya Chan yang tiba-tiba muncul.


"Kenapa kau memakannya?" Protes Chan pada Zhi.


"Bukan aku, tapi Emira"


"Hah, bisa-bisanya kau menuduhku. Bahkan, tadi kau berbohong dengan berkata bahwa 'snack ini halal untuk dimakan' " Terang Emira.


"Tapi kau juga ikut memakannya" Zhi tak mau kalah.


"Itu karena kau yang menawarkan lebih dulu, bukan aku yang meminta"


"Sudah hentikan!. Karena ini sudah terlanjur dibuka, akan sia-sia jika tidak dimakan. Ayo, kita makan saja" Chan memberi usul yang langsung disetujui Zhi dan Emira.


Saat mereka tengah menikmati snack sembari mengobrol, Khai datang dan langsung mengintimidasi.


"Apa yang kalian lakukan?. Hah?!" Belum mendapat jawaban, Khai kembali bergeming "Apa kalian ini bocah yang kelaparan?. Kenapa kalian memakannya?"


"Kita sudah selesai syuting, apa salahnya memakan ini?" Tanya Zhi.


"Tetap saja, ini masih menjadi properti syuting. Kalian belum boleh memakannya" Khai nampak seperti seorang ayah yang tengah memarahi anaknya.


"Kau bukannya menghentikan mereka, malah ikut bersekongkol" Khai menatap Emira dengan tajam.


"Maaf" Hanya itu yang Emira ucapkan tanpa mampu membalas tatapan Khai.


"Sudahlah, Emira hanya mengikuti Zhi dan Chan. Dia belum tahu seberapa jahilnya mereka" Ez mencoba menengahi agar tidak terjadi keributan dan menjadi perhatian para staf.


"Makanlah dengan nyaman, jangan pikirkan perkataannya" Ucap Ez sambil tersenyum pada Emira.


"Terima kasih" Emira merasa tidak enak, karena di hari pertama sudah menimbulkan masalah.


Emira memukul lengan Zhi dan Chan dengan kesal setelah keempat member SUN kembali syuting.


"Kenapa memukul?" Tanya Zhi dan Chan bersamaan.


"Ini semua salah kalian"


"Aku tidak tahu kalau kak Khai akan kesal. Meskipun, dia disiplin tapi biasanya tidak sampai seperti itu" Zhi mencoba memberi pembelaan.


"Belakangan ini dia memang lebih sensitif" Timbal Chan.


"Kenapa kalian masih di sini?. Cepat kembali syuting sebelum kak Khai kembali memarahiku" Sergah Emira pada Zhi dan Chan.


'Kenapa sifat Khaiuman bertolak belakang sekali?. Khai di depan kamera menyenangkan dan selalu tersenyum, tapi kenyataannya pemarah dan dingin. Sedangkan, Ez yang terlihat dingin malah sangat baik. Apa mereka dua orang yang tertukar jiwa' Monolog Emira dengan menatap SUN yang tengah melakukan pemotretan.


***


Emira merasa lega karena proses syuting iklan dan pemotretan yang memakan waktu 8 jam akhirnya selesai. Ia sudah tidak sabar untuk segera pulang ke SUN house dan beristirahat, namun rencanya tidak semulus yang ia pikirkan. SUN harus meladeni beberapa wartawan yang sudah sejak sore menunggu mereka di lokasi syuting. Sembari menunggu, Emira membereskan perlengkapan SUN dan membawanya ke mobil. Emira yang sudah kelelahan tanpa sadar tertidur hingga SUN menyelesaikan wawancaranya bersama para wartawan.


30 menit kemudian...


"Sepanjang jalan, dia terus tidur. Sepertinya sangat kelelahan" Ucap Dza yang melihat Emira tidak terbangun meskipun mereka berisik di mobil.


"Cepat bangunkan dia" Titah Khai.


"Emira...ayo, bangun" Zhi mengguncang bahu Emira yang duduk di bangku samping pengemudi.


"Eum..." Jawab Emira masih setengah sadar.


"Apa kita sudah bisa pulang sekarang?" Tanyanya kemudian.


"Kita bahkan sudah di rumah" Jawab Zhi.


"Hah, Benarkah?" Emira membenarkan posisi duduknya, mencoba mengumpulkan kesadaran.


"Benar, kita sudah di depan rumah rupanya. Sebaiknya, kalian segera masuk dan istirahat. Aku juga akan melanjutkan tidurku di dalam. Terima kasih untuk hari ini" Emira melenggang meninggalkan para member yang tercengang dengan tingkahnya.


"Sulit dipercaya..." Khai menggelengkan kepala melihat Emira yang telah lebih dulu masuk rumah.


"Kita bereskan barang masing-masing" Ucap Ez lalu menuju bagasi untuk mengambil tasnya.


"Sebenarnya, siapa yang sekarang menjadi asisten?" Ujar Khai, lalu menyusul Ez mengambil tas miliknya, diikuti keempat member lain.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya🖤❤🧡💙💜


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah 🙏🏻😁


Terima kasih😘🤗🙏🏻