SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 23



***Hari Konser***


Para kru tengah memeriksa ulang semua kelengkapan sebelum konser di mulai. Baik dari check sound, keamanan, kamera, petugas tiket, hingga kelengkapan lainnya. Meski di mulai empat puluh lima menit lagi, namun lokasi konser telah seperti lautan manusia. Konser berlokasi di Aula Konser Khusus dengan kapasitas sepuluh ribu orang yang terletak di pusat kota. Di konser kali ini, mereka akan membawakan tujuh lagu sekaligus. Pada lagu pertama, para member mengenakan blazer slim-fit berwarna hitam dipadu celana bahan dengan warna senada. Meski terlihat formal, namun tetap fashionable.


‘Ya Tuhan, bantulah mereka. Meskipun ini bukanlah yang pertama, tapi aku sangat berharap konser kali ini berjalan lancar’ Emira merapalkan doa dalam hatinya. Sebenarnya, ia ingin memberikan semangat secara langsung pada para member, namun mereka terlalu sibuk sehingga membuat Emira mengurungkan niatnya.


Para member menaiki panggung setelah berdoa bersama. Beberapa menit kemudian, terdengar suara riuh para fans saat mendapat sapaan dari member SUN. Kecerian nampak terpancar di wajah para member, begitupun para ‘My Spring’ yang tidak berhenti berteriak karena terbawa suasa. Meskipun sudah di ingatkan agar tidak berteriak saat konser, namun mereka tetap tidak mendengarnya.


Emira terpaku melihat penampilan SUN di atas panggung, ini adalah kali pertama ia menonton konser. Meskipun sudah sering bertemu, namun aura saat mereka tampil berbeda dari biasanya. Sangat berwibawa, keren, juga menarik.


‘Lagi-lagi mereka membuatku berada di tempat yang mungkin tidak akan pernah aku datangi’ Monolog Emira yang terpukau oleh penampilan SUN, serta para fans yang saat ini tengah mengiringi idola mereka bernyanyi.


Walaupun tidak seperti ‘My Spring’ yang hafal lagu-lagu SUN, namun Emira tetap menikmati konser yang tengah berlangsung.


Setelah menyelesaikan dua lagu, para member beristirahat sejenak.


“Ini” Emira memberikan handuk penyeka keringat pada Khai yang terlihat sangat kelelahan.


“Terima kasih”


“Apa kakak ingin makan sesuatu?” Tanya Emira pada Khai yang sedang menggunakan kipas elektrik, meskipun AC di ruangan sudah sangat dingin.


“Tidak. Terima kasih” Jawab Khai dengan mengangkat telapak tangannya.


“Sepertinya, aku yang butuh sesuatu”


“Apa yang kakak butuhkan?” Emira menghampiri Chan yang tengah duduk menghadap ke arah AC.


“Aku ingin minuman yang dingin. Tolong, ambilkan”


“Baiklah. Apa kalian juga mau?” Tanya Emira sebelum mengambilkan minuman yang diinginkan Chan.


“Ya, boleh” Timbal Zal dan Dza bersamaan.


“Aku juga mau” Zhi sedikit berteriak saat Emira telah berada di ambang pintu.


Setelah istirahat, mereka kembali ke atas panggung. Menyambut para ‘My Spring’ dengan keceriaan. Kelelahan yang terjadi di belakang panggung, seolah hilang tak tersisa saat para fans bersemangat memanggil nama mereka. Berada di atas panggung yang megah dengan banyaknya sorot lampu juga kamera di mana-mana, semakin membuat mereka bersinar layaknya matahari sungguhan.


‘Ketika melihat mereka ada di tempat yang tinggi dan bersinar, aku semakin sadar bahwa apa yang di katakan Sheril benar. Hubungan kami hanyalah, asisten dan artis. Kedekatan kami juga hanya bagian dari pekerjaan, tidak mungkin berubah menjadi keluarga sungguhan. Akh, apa yang sedang aku harapkan? Dasar bodoh!’ Emira memukuli keningnya sendiri.


“Bagaimana?. Mereka sangat menakjubkan, bukan?” Pak Arsel memberi roti panggang berselai kacang pada Emira.


“Makanlah, kau belum makan sejak tadi” Ucapnya kemudian.


“Terima kasih”


“Enak sekali” Ucap Emira setelah mememakan rotinya.


“Karena lapar, jadi terasa lebih enak” Pak Arsel tersenyum melihat ekspresi Emira seperti anak kecil yang senang karena diberi permen.


“Bisakah, Anda menceritakan tentang mereka?” Tanya Emira yang mulai penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang SUN.


“Mereka dipertemukan karena masalah, dan juga bertahan karena masalah. Aku tahu, jika awalnya mereka bergabung karena ingin melarikan diri dari masalah. Namun setelah menjadi bagian dari SUN, masalah yang mereka hadapi semakin banyak. Tekanan yang mereka rasakan juga sangat hebat. Dicaci oleh media, artis dengan fans yang sedikit, terkenal karena wajah, tidak berbakat, populer karena keberuntungan, semua itu julukan yang pernah mereka terima. Bahkan, Khai sempat mendapat serangan yang sangat membuatnya tertekan.” Pak Arsel menjeda kalimatnya. Memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas juga emosinya, sebelum kembali bercerita.


“Di awal karir SUN, kami sempat mengalami kesulitan karena beberapa investor menarik sahamnya. Mereka terpengaruh pada berita-berita buruk yang ingin menjatuhkan SUN, hingga tidak mempercayai kami dan memutuskan kerjasama secara sepihak. Aku dan Pak Sugara juga sudah sangat frustrasi, karena semua iklan tiba-tiba membatalkan kontraknya. Kami benar-benar merasa ingin menyerah, tapi ketika aku ingat tujuan para member bergabung, aku menjadi bersemangat kembali. Saat itu aku berpikir, meskipun kami tidak bisa menjadi matahari, setidaknya kami tetap bisa menjadi bintang yang ada di langit.”


“Lalu, apa hubungannya dengan kak Khai?” Tanya Emira penasaran. Ia menatap para member sejenak, lalu kembali fokus mendengarkan cerita Pak Arsel.


“Saat kesulitan itu, ayahnya Khai datang memberikan bantuan. Hubungan mereka memang tidak harmonis. Namun melihat kami yang tengah kesulitan, beliau memberikan bantuan dengan cuma-cuma. Bahkan, beliau mengajak teman-temannya untuk berinvestasi pada perusahaan kami. Khai tidak tahu apa-apa soal itu, ayahnya sengaja merahasiakannya. Setelah keadaan kami stabil, muncul berita bahwa SUN menjadi terkenal karena ayahnya Khai. Dan sejak saat itu, Khai mendapat banyak sindiran dari berbagai media. Karena banyak berita buruk mengenai dirinya, ia menjadi tertekan dan semakin membenci ayahnya. Setiap mengingat hal itu, aku jadi merasa bersalah karena tidak berterus terang sejak awal. Bukan hanya Khai, tapi juga pada member lain.” Pak Arsel menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Sementara Emira hanya terdiam, mencoba mencerna setiap perkataan Pak Arsel.


“Huh...aku haus sekali!” Seruan Zhi membuat Pak Arsel dan Emira menoleh bersamaan.


“Kalian sudah turun?” Tanya Pak Arsel, “Cepat ambilkan mereka minum!” Titah Pak Arsel pada para kru yang berjaga.


Mereka kembali beristirahat setelah membawakan dua lagu, lalu mengganti kostum yang sudah sangat basah oleh keringat. Pada penampilan terakhir, mereka menggunakan kemeja putih lengan panjang dipadu celana bahan dengan warna senada.


“Kau harus melihatnya, aku akan memberikan penampilan yang membuatmu takjub” Ucap Zhi pada Emira.


“Aku pasti melihatnya. Awas saja, jika mengecewakan!” Ancam Emira.


“Kau lihat saja” Zhi menarik tas yang di kenakan Emira, sengaja menjahilinya sebelum kembali ke panggung. Emira yang kesal hendak membalas, namun ia tidak memperhatikan sekitar, hingga tanpa sengaja menabrak tangga yang digunakan untuk memasang lampu sorot. Tangga itu hampir menimpanya, namun seseorang menghalangi. Dan malah membiarkan bahunya yang tertimpa tangga.


“Akh!” Teriak Khai saat tangga itu tepat mengenai bahu kanannya.


“Apa kakak baik-baik saja?” Emira terlihat khawatir.


“Kak...” Zhi menatap Khai yang tengah memegangi bahunya.


“Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir”


“Apa yang terjadi?” Tanya Ez yang tiba-tiba muncul.


“Tidak. Hanya masalah kecil. Ayo, kita harus menyelesaikan konser!” Khai berjalan mendahului.


Mereka kembali ke atas panggung untuk membawakan satu lagu lagi. Lagu terakhir di persembahkan khusus untuk ‘My Spring’. Di akhir konser akan ada sedikit pertunjukkan dari Zhi dan Chan. Saat dipertengah lagu, Khai terus memegangi bahunya yang tiba-tiba terasa sakit karena ia terus bergerak. Ada sedikit darah yang mulai menembus kemeja putih yang ia kenakan.


‘Ayolah, sebentar lagi. Tolong, bekerja samalah!’ Gumam Khai.


Zhi dan Chan tengah meberikan pertunjukan tambahan berupa tarian tradisional dengan campuran tari modern. Suara riuh para ‘My Spring’ semakin membuat mereka bersemangat, namun saat Zhi sadar bahwa kemeja putih yang Khai kenakan mulai berubah menjadi merah pada bagian bahunya, ia menjadi khawatir dan tidak fokus. Hal itu membuatnya hilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh begitu saja saat tengah melakukan pole dance. Dan di saat yang bersamaan, Khai juga terjatuh dengan bahu yang terluka.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻