SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 25



Emira menyempatkan diri menjenguk Zhi, meninggalkan para member lain yang tengah syuting. Meskipun juga mendapat fasilitas transportasi, namun ia lebih memilih menggunakan bus untuk menuju ke Rumah Sakit. Lokasi syuting SUN tidak begitu jauh dari Rumah Sakit tempat Zhi di rawat. Hanya dalam 30 menit, ia telah tiba.


Emira mengetuk pintu kamar yang bertuliskan nomor 206, salah satu kamar VVIP yang ada di Rumah Sakit tersebut. Kamar itu di dominasi warna putih, mempunyai fasilitas yang lengkap dan nyaman. Jika melihat ke arah jendela, pemandangan alam akan terlihat dengan jelas. Kamar ini jadi lebih seperti kamar Hotel dibandingkan Rumah Sakit.


“Hai. Bagaimana, kabarmu hari ini?” Tanya Emira, lalu berjalan mendekati Zhi.


“Sepertinya lebih baik. Kau datang sendirian?”


“Eum. Aku bawakan buah dan roti panggang kesukaanmu” Ucap Emira, lalu memindahkan roti panggang berselai kacang ke piring.


“Ke mana yang lainnya?” Tanya Zhi sambil mengambil sepotong roti panggang dan memakannya dengan lahap.


“Mereka sedang syuting ‘Talk Show’. Mungkin, sebentar lagi selesai. Aku tadi meminta izin ke sini lebih dulu karena Pak Arsel juga harus istirahat. Beliau bisa sakit jika terus di sini”


“Roti panggang selai kacang memang yang terbaik” Ujar Zhi yang nampaknya sudah bosan dengan makanan Rumah Sakit.


Emira berdecak, lalu berkata “Kau juga harus makan buah, jangan hanya rotinya saja”


“Sekarang, kau semakin berani mengaturku” Meski begitu, Zhi tetap menuruti perkataan Emira. Ia lantas memakan buah pear yang sudah disiapkan oleh Emira.


“Terima kasih, karena sudah mengkhawatirkanku” Zhi memulai pembicaraan setelah mereka diam beberapa saat.


“Aku sangat takut ketika kau terjatuh. Kau harus sehat, karena banyak ‘My Spring’ yang akan terluka jika terjadi sesuatu padamu”


“Mendengar kau berbicara seperti itu, aku jadi ingin cepat sembuh dan mengajakmu ke suatu tempat” Zhi mencoba mengambil minum, namun ia agak kesulitan karena kakinya tidak boleh banyak digerakkan.


“Kau ingin mengajakku ke mana?” Tanya Emira sambil membantu Zhi mengambilkan air minum.


“Ke tempat yang pasti kau suka” Zhi tersenyum menyeringai.


“Jangan tersenyum seperti itu!. Membuat takut saja” Oceh Emira. Sementara, Zhi malah semakin tertawa puas.


Mereka mengobrol cukup lama, sampai akhirnya ponsel Emira memberi tanda bahwa ada seseorang yang mengirim pesan.


“Sepertinya, aku harus pergi sekarang” Ujar Emira setelah membaca pesan yang di terimanya.


“Aku masih ingin mengobrol denganmu. Kau tega membiarkanku sendirian di sini?” Keluh Zhi.


“Kak Dza dan kak Chan sedang di perjalanan menuju ke sini. Aku harus pergi sekarang. Kau harus cepat sembuh, agar kita bisa lari pagi lagi” Emira tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.


Zhi berdecak, merasa kesal karena tidak bisa menahan Emira untuk pergi. “Hati-hati di jalan. Besok kau harus menjengukku lagi”


“Baiklah. Tapi...jika aku tidak sedang sibuk” Emira tertawa puas saat melihat ekspresi Zhi yang semula senang berubah menjadi kesal.


“Awas kau, ya!” Teriak Zhi, lalu melemparkan bantal pada Emira. Namun, bantal itu hanya mengenai lantai karena Emira telah lebih dulu kabur.


***


Emira menoleh ke kanan-kiri, mencari seseorang yang tadi mengirimkan pesan agar menemuinya.


“Di sini” Ez membuka sedikit kaca jendela mobilnya, lalu melambaikan tangan pada Emira yang ada di seberang jalan.


“Apa kakak sudah menunggu lama?” Tanya Emira yang kini telah berada di dalam mobil.


“Tidak. Apa keadaan Zhi sudah membaik?” Tanya Ez, lalu mulai melajukan mobilnya.


“Iya. Tapi, kenapa kakak tidak membesuknya?”


“Aku akan membesuknya nanti”


Emira menganggukkan kepala, “Kita akan ke mana?” Tanyanya kemudian.


“Nanti kau akan tahu”


“Apa kita hanya pergi berdua saja?” Emira kembali bertanya.


“Ya. Apa kau berharap ada orang lain yang ikut?” Ez melirik Emira, lalu kembali fokus menatap jalanan.


“Tidak” Jawab Emira. Sebenarnya ia merasa canggung, karena ini pertama kalinya pergi berdua dengan salah satu member SUN. Biasanya, mereka selalu pergi bersama-sama. Terlebih, Ez adalah salah satu member yang seperti dispenser. Terkadang sangat dingin, namun terkadang juga bersikap hangat.


Setelah beberapa menit, mereka tiba di salah satu restoran mewah. Ez memilih private room, karena khwatir jika tiba-tiba ada paparazzi. Meskipun private room, tapi pemandangan yang disajikan mampu membuat terpukau. Ruangan itu di penuhi oleh jendela yang mengarah pada pemandangan kota yang bersinar terang. Lampu di private room tersebut tidak terlalu terang, namun masih terlihat jelas segala sesuatu yang ada di ruangan itu.


‘Lantai ini sangat jernih, aku bahkan bisa berkaca dengan jelas’ Gumam Emira.


Ez menarik kursi, mempersilakan Emira untuk duduk.


“Terima kasih. Tapi, kenapa tiba-tiba kakak membawaku ke sini?” Tanya Emira setelah duduk dengan nyaman.


“Bukankah, aku sudah mengatakannya?”


“Apa maksudnya?” Emira menjadi bingung dengan pertanyaan Ez.


“Jika ingin berterima kasih, kau harus melakukannya dengan benar” Ucap Ez.


“Sebaiknya, kita makan di restoran yang biasa saja. Sepertinya, aku tidak sanggup jika harus mentraktir kakak di sini” Bisik Emira. Sementara, Ez malah tersenyum mendengar pengakuannya.


“Aku juga tidak ingin kau mentraktirku di sini. Aku yang akan membayarnya, kau hanya harus makan saja” Ez juga ikut berbisik.


“Syukurlah. Membuat panik saja” Emira segera menutup mulutnya dengan kedua tangan karena kelepasan bicara. Sedang, Ez malah tertawa karena Emira yang terlalu jujur.


Tidak lama menunggu, makanan yang mereka pesan sudah tersusun dengan rapi di atas meja. Ez sengaja memesan berbagai olahan udang untuk Emira. Mulai dari udang goreng asam manis, udang bakar, spaghetti udang, pangsit udang, udang saus tiram, es krim, waffle, baklava roll, dan masih banyak lainnya.


“Kenapa pesan sebanyak ini?” Tanya Emira.


“Bukankah, kau suka udang?”


“Iya. Tapi, kita hanya makan berdua. Akan sangat sayang jika tidak dihabiskan” Emira menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Udang yang malang”.


Ez tidak bisa berhenti tertawa mendengar celotehan Emira yang terdengar lucu di telinganya.


“Kita bisa membawanya pulang, kau tak perlu khawatir. Ayo, makan”


“Benarkah?” Mata Emira berbinar mendengar perkataan Ez, namun sorot matanya langsung berubah saat teringat sesuatu.


“Kenapa?” Tanya Ez yang menyadari perubahan raut wajah Emira.


“Kakak bisa malu jika membawanya pulang. ‘Salah satu member SUN, membungkus makanan yang tidak habis saat makan di restoran mewah’ artikel seperti itu akan muncul jika kakak melakukannya” Ucap Emira sambil memakan udang saus tiram dengan lahap.


"Biarkan saja, aku tidak perduli" Jawaban Ez membuat Emira menggelengkan kepala, tak mampu mendebatnya lagi.


Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk segera pulang, karena Ez akan bergantian dengan member lain untuk menjaga Zhi. Ez lebih dulu keluar ruangan, meninggalkan Emira yang sedang di toilet.


Beberapa menit kemudian, Emira menghampiri Ez yang telah menunggu di lobby.


"Kakak benar-benar membawanya pulang?"


Ez hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Emira membolakan matanya, "Apa tidak ada yang memperhatikan kakak saat membawa ini?" Emira mengangkat kotak berisi makanan yang tadi tersisa.


"Tidak. Apa yang salah dengan membawa makanan yang tidak habis?"


"Tentu saja tidak salah, jika yang melakukannya orang sepertiku. Tapi, jika yang melakukannya member SUN, mungkin akan menjadi masalah"


"Kenapa kau berkata seolah-olah kita berbeda?"


Belum sempat Emira menjawab, sapaan seseorang membuat Ez menoleh ke arah sumber suara.


"Ternyata benar kau" Seseorang itu menepuk pelan bahu Ez.


"Kau di sini juga?" Tanya Ez.


"Ya, hari ini aku ada pertemuan. Dia sia..."


Emira segera menoleh sebelum Khai menyelesaikan kalimatnya.


"Hai...kak" Emira menyapa dengan canggung.


Khai membolakan matanya, "Kau?"


Tak ingin memberi kesempatan Emira menjawab, Khai kembali bertanya, "Kalian pergi bersama?"


"Iya. Aku mentraktirnya karena ingin berterima kasih" Jawab Ez. Sementara, Emira hanya menganggukkan kepala menyetujui.


Pembicaraan mereka terputus saat pria dengan setelan formal menghampiri Khai dan membisikkan sesuatu padanya. Pria itu juga menyapa Ez, nampaknya mereka sudah saling kenal.


"Aku akan segera menyusul" Ucap Khai pada pria paruh baya itu.


"Baiklah, tuan" Jawab pria itu, ia kembali menyapa Ez sebelum akhirnya meninggalkan mereka di sana.


"Kami harus segera pulang, karena aku akan bergantian untuk menjaga Zhi" Ez mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan ini" Jawab Khai.


"Ka...kami akan pulang lebih dulu" Emira terbata karena tatapan Khai seolah tengah mengintimidasinya.


'Mentraktir makan di tempat seperti ini?. Dasar gadis bodoh!' Gumam Khai saat Emira dan Ez telah hilang dari pandangannya.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻