SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 46



Keenam member tengah menikmati waktu luang dengan bermain bola voli. Mereka beristirahat setelah menyelesaikan satu babak.


Selang lima belas menit, Zal mengajak para member untuk kembali bermain voli, “Ayo, kita selesaikan satu babak lagi” Ujarnya.


Para member bersiap akan melanjutkan permainan, namun Zhi menahan kelima member dan memperlihatkan ponselnya. Dengan sigap, mereka lantas memeriksa ponsel masing-masing.


“Apa ini?!. Siapa yang membuat berita bodoh seperti ini?!”


Zal kesal setelah membaca artikel dari layar ponselnya.


“Berita ini sangat berlebihan. Tapi...” Zhi menjeda kalimatnya, melirik ke arah Ez dan Khai, lalu bertanya, “Kenapa kalian yang diberitakan?. Jika berita seperti ini muncul, bukankah... aku dan kak Chan yang seharusnya diberitakan?”


“Benar juga. Kami bertiga yang lebih sering terlihat bersama, tapi kenapa berita ini malah tertuju pada kak Khai dan kak Ez” Chan ikut berkomentar.


“Kenapa kalian menatapku seperti itu?. Kalian pikir, aku mau terus-terusan menjadi bahan gosip?!” Ucap Khai dengan kesal.


“Sudahlah, jangan dipikirkan. Berita seperti ini akan hilang dengan sendirinya” Ez nampak enggan meladeni berita mengenai dirinya.


“Tapi...ini sedikit aneh. Selama ini tidak ada staf yang tahu jika Emira tinggal bersama kita. Bukankah, itu berarti ada orang dalam yang menyebarkan?”


Ucapan Zal membuat member lain terdiam. Namun, mereka tidak bisa menuduh siapa pun saat ini.


“Foto di artikel itu...apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?” Tanya Dza dengan hati-hati. Sementara, Khai dan Ez hanya diam tak menjawab.


“Apa kalian sudah selesai berolahraga?” Pertanyaan Emira mengalihkan perhatian para member.


“Iya. Kenapa menyusul kemari?” Tanya Zhi.


“Bu Tari sudah menyiapkan sarapan. Ayo, sarapan dulu” Ajak Emira pada keenam member.


“Apa kau tahu, tadi malam kau berjalan dengan mata terpejam” Chan mengalihkan topik pembicaraan, agar tidak ada member yang membahas soal berita yang baru saja mereka lihat.


“Benarkah?. Wah...ternyata aku keren juga” Emira tersenyum lebar. Para member juga ikut tersenyum mihat ekspresi ceria Emira.


Mereka lantas meninggalkan lapangan dan tidak melanjutkan permainan bola voli, lalu kembali ke rumah utama untuk sarapan bersama.


Pak Sugara dan Pak Arsel yang baru datang langsung menemui para member saat mereka tengah sarapan.


“Selesai sarapan, temui aku di ruang rapat” Ujar Pak Sugara dengan tegas.


Pak Arsel mengambil sepotong sosis, memakannya dengan lahap, lalu berkata, “Jangan terburu-buru, makanlah dengan nyaman”


Para member hanya menganggukkan kepala sambil menatap Pak Arsel yang berjalan mengekori Pak Sugara.


.


.


.


Setelah selesai sarapan, keenam member segera menemui Pak Sugara dan Pak Arsel yang telah siap untuk mengintrogasi mereka juga Emira.


“Kalian tentu tahu kenapa aku minta berkumpul mendadak seperti ini. Siapa yang ingin menjelaskan?” Tanya Pak Sugara tanpa basa-basi.


“Kau sudah baca beritanya, Em?” Tanya Pak Arsel memastikan.


Belum sempat Emira menjawab, Pak Sugara telah lebih dulu menyodorkan artikel yang tengah ramai diperbincangkan.


“Jadi, siapa yang akan menjelaskan?” Pak Sugara kembali bertanya.


Khai mengatur napas, lalu berkata, “Aku dan Emira berdebat karena ada kesalah pahaman, itu masalah pribadi kami. Entah, orang bodoh mana yang membuatnya jadi berita”


“Kesalah pahaman apa yang kalian perdebatkan?” Tanya Pak Sugara lagi.


“Itu masalah pribadi kami. Apa aku juga harus memberitahu semua tentang hidupku pada media?” Tanya Khai.


Melihat Khai yang mulai kesal, Ez segera berkata, “Tidak ada yang terjadi di antara kami, itu hanya kesalah pahaman biasa”


Pak Sugara menyodorkan artikel pada Khai sambil berkata, “Apa kau sudah lihat berita terbaru?. Menurutmu, apa yang akan ku katakan pada staf lain?!”


Tak hanya Khai, tapi kelima member serta Emira juga terkejut saat melihatnya.


“Tak hanya staf, tapi seluruh dunia tahu jika kau memberikan bonus pada asisten. Tentu ini bukan masalah, jika bonus itu diberikan dengan adil dan terbuka. Tapi kau memberinya hanya untuk satu orang dengan jumlah yang tidak masuk akal" Pak Sugara menjeda ucapannya, menarik napas sebentar lalu kembali berkata, "Kau pikir, mereka semua orang bodoh yang akan percaya begitu saja saat kau berdalih ingin memberi bantuan asistenmu yang tengah tertimpa musibah?!”


“Sampai sekarang, kau adalah member yang paling sulit diatur. Kau selalu bertindak sesukamu!” Pak Sugara mengusap wajah dengan frustrasi, lalu meninggalkan ruang rapat dengan raut wajah kecewa dan kesal.


“Jangan terlalu dipikirkan. Kalian tahu kan, kalau beliau mudah terbawa suasana. Sekarang, bersiaplah untuk pemotretan, aku akan menemani kalian” Ujar Pak Arsel, lalu menyusul Pak Sugara.


“Aku kecewa pada kakak” Ucap Zhi dengan lirih.


Dengan raut wajah yang juga kecewa, Dza berkata, “Seharusnya, kakak membaritahu kami jika ingin membantu Emira. Kami juga akan membantu dengan senang hati”


“Aku minta maaf” Sesal Khai yang tak menyangka jika tindakannya akan menimbulkan kehebohan seperti ini.


“Aku juga minta maaf” Sama seperti Khai, Ez juga terlihat menyesal.


Emira menganggukkan kepala dan berkata, “Aku minta maaf. Sejak aku di sini, kalian jadi banyak terkena masalah”


“Jangan menyalahkan diri sendiri, kita semua juga bersalah. Dari pada terus memikirkan gosip, lebih baik kita pergi sekarang. Pemotretannya setengah jam lagi”


Chan mengalihkan pembicaraan, mengingatkan kegiatan yang hampir mereka lupakan.


.


.


.


Para member tiba tepat waktu di lokasi pemotretan. Sembari menunggu, Emira kembali membaca artikel yang melibatkan dirinya.


‘Asisten Emas, Asisten Penggoda, SUN dan Asisten tinggal bersama, Asisten Mata Duitan’ Semua itu adalah judul artikel yang muncul secara bersamaan. Dan setiap berita, selalu ada komentar jahat yang membuat telinga terasa panas.


Emira menghembuskan napas berat, air matanya bahkan sudah tak bisa keluar lagi karena semalaman ia terus menangis.


“Aku tahu kau tidak baik-baik saja, menangislah. Jangan menahannya” Pak Arsel menghampiri Emira dan duduk di sampingnya.


“Kenapa mereka membenci saya?” Emira berkata dengan lirih.


“Mereka berkomentar jahat kerena tidak mengenalmu. Aku akan mencari orang yang membuat berita itu, kau jangan khawatir” Pak Arsel terdiam sejenak, lalu kembali berkata, “Kita tidak bisa membuat orang lain menyukai atau membenci kita. Jadi... jika ada orang yang menyukaimu, jagalah dengan baik”


Pak Arsel merasa bersalah karena sejak awal memaksa Emira agar tinggal di SUN house.


Setelah pemotretan selesai, para member bergegas kembali ke SUN house karena sejak artikel mengenai asisten SUN yang diperlakukan secara khusus muncul, banyak media yang meminta mereka untuk klarifikasi.


Namun, para member belum berniat untuk mengklarifikasi berita yang tengah jadi perbincangan hangat, terlebih karena ‘My Spring’ sangat percaya pada mereka. Bagi SUN, mendapat kepercayaan dan dukungan dari “My Spring’ sudah lebih dari cukup. Mereka tidak perlu memperdulikan orang yang membenci dan ingin menjatuhkan.


“Saya akan ke toilet sebentar, Anda duluan saja” Ujar Emira setelah membereskan barang-barang milik para member.


Pak Arsel menoleh, lalu menjawab, “Baiklah. Aku menunggu di mobil”


30 menit kemudian...


Pak Arsel mulai gusar karena Emira tidak kunjung kembali dari toilet, “Aku akan menyusulnya. Kalian tunggulah sebentar” Putusnya kemudian.


“Biar aku saja. Aku juga ingin ke toilet” Usul Khai.


“Baiklah” Jawab Pak Arsel singkat.


.


.


.


Setelah menemukan letak toilet yang diberitahu dari salah satu staf gedung tempat pemotretan, Khai segera mengetuk pintu toilet tersebut sambil berkata, “Apa kau di dalam, Em?”


Karena tak ada jawaban, Khai sedikit mengeraskan suara dan kembali bertanya, “Em, apa kau di dalam?”


“Iya...tunggu sebentar” Sahut Emira. Namun tak lama kemudian, ia berteriak hingga membuat Khai panik.


“Apa yang terjadi?!”


Tak kunjung mendapat jawaban, Khai akhirnya memberanikan diri untuk masuk.


Khai melihat Emira tengah mencoba menutup keran yang bocor pada salah satu wastafel.


“Aku ingin mencuci tangan, tapi kerannya bocor” Terang Emira.


Sambil menarik pergelangan tangan Emira, Khai berkata, “Ayo, keluar”


“Tapi...kerannya bocor karena aku”


“Dasar bodoh, apa lalat yang menabrak dinding juga salahmu?!”


Khai kesal karena Emira selalu menyalahkan diri sendiri saat terjadi sesuatu.


“Biarkan saja, gedung ini punya teknisi yang akan memperbaikinya” Ujar Khai lagi.


Melihat baju Emira basah karena terkena semburan air saat hendak memasang keran, Khai segera melepas jaketnya dan memberikannya pada Emira.


Tanpa disadari, seseorang tengah mengambil foto tepat saat mereka keluar dari toilet.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻