
Zhi memutuskan untuk mencari Khai karena harus segera kembali ke panggung. Ia sangat terkejut saat mendapati Khai terduduk lemas di lantai.
“Kak”
Zhi berlari menghampiri Khai, matanya tertuju pada ponsel yang sudah tergeletak di lantai. Dengan sigap, ia langsung memeluk Khai.
“Tenanglah, ku mohon” Ujar Zhi dengan suara parau. Ia sangat khawatir melihat kondisi Khai yang tidak berdaya.
Tak lama kemudian, keempat member, Emira, Pak Sugara, dan Pak Arsel telah berkumpul. Mereka terkejut melihat raut wajah frustrasi Khai dan Zhi. Namun, keempat member menyadari jika Khai sudah mengetahui kebenaran mengenai ibunya. Ez mengambil ponsel Khai dan menunjukkannya pada mereka yang ada di sana.
Emira tak bisa menahan air mata saat melihat foto di ponsel milik Khai, Pak Arsel dan Pak Sugara mengusap wajah dengan kasar secara bersamaan.
“Semua manusia pasti akan mengalami hal seperti ini, kau tidak sendirian” Ujar Pak Arsel .
“Apa...apa alasanku untuk hidup sekarang?!” Khai berteriak hingga urat di lehernya terlihat jelas. Ia lantas berdiri, memukul kaca yang ada di ruangan tersebut hingga darah segar mengalir dari tangannya.
Semua yang melihatnya terkejut. Mereka mencoba menghalangi, tapi Khai bertindak seperti monster yang sulit dikendalikan.
“Jangan lakukan lagi, tolong kak” Emira berkata dengan lirih.
“Katakan, apa alasanku untuk tetap hidup?!. Katakan?. Cepat katakan!!!” Ucap Khai dengan suara hampir tak terdengar.
“Kau masih punya banyak alasan untuk hidup, kau tidak sendirian di sini”
Pak Arsel menghampiri Khai, lalu memeluknya.
“Aku tahu perasaanmu, aku juga pernah mengalaminya” Ujar Pak Arsel lagi.
Mereka semua terkejut dan bingung mendengar pernyataan Pak Arsel.
“Arsel...” Pak Sugara menggelengkan kepala, berharap rekan sekaligus sahabatnya tidak melanjutkan kata-katanya.
“Putriku...dia juga sudah meninggal” Pak Arsel menjeda ucapannya, menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Para member dan Emira semakin terkejut mendengar penuturan lelaki paruh baya itu. Selama ini, Pak Arsel tidak banyak bercerita mengenai keluarganya.
“Saat itu, aku juga marah pada takdir dan membenci diriku sendiri. Aku merasa menjadi ayah yang buruk. Putriku...dia pasti sangat takut waktu itu, tapi aku...tidak bisa melakukan apa-apa” Air mata yang sejak tadi di tahan, kini mengalir begitu saja.
Setelah mengusap air mata, Pak Arsel kembali berkata, “Putriku menjadi korban penculikan saat usianya 10 tahun, lalu mobil penculik itu mengalami kecelakaan dan putriku meninggal. Kalian pernah bertanya, kenapa aku sangat perhatian pada Emira. Itu karena wajah Emira sangat mirip dengan wajah putriku. Aku sangat senang sejak saat pertama kali bertemu dengannya, aku merasa putriku hidup kembali”
“Mengendalikan diri saat luka lama terbuka kembali, bukanlah hal yang mudah. Kehadiran Emira membuat bayang-bayang putriku kembali hadir” Ujar Pak Arsel sembari menepuk pelan bahu Khai. Lalu kembali bergeming, “Tapi aku sadar, jika Emira bukanlah putriku. Aku tidak bisa egois dengan menghadirkan bayangan putriku dalam diri Emira”
“Aku percaya padamu, kau pasti juga bisa melalui ini” Ujar Pak Arsel lagi.
Emira berjalan mendekat pada Pak Arsel dan Khai, menatap keduanya dengan tatapan polos. “Aku ada di sini untuk kalian” Ucapnya kemudian.
Pak Arsel merangkul Khai dan Emira bersamaan, “Bagiku, kalian sudah seperti anak kandung. Aku tidak ingin kalian mengalami kesulitan ataupun terluka”
Pak Arsel melambaikan tangan pada kelima member yang sejak tadi diam, mengajak mereka untuk ikut berkumpul. “Aku juga menyangi kalian” Ujar Pak Arsel sambil merangkul keenam member.
“Kami ada di sini, menemanimu” Bisik Ez pada Khai.
Seketika, suasana haru tercipta dengan sendirinya. Mereka saling menguatkan satu sama lain, hingga luka besar itu mengecil.
“Terima kasih, telah menerima kami dengan baik. Meskipun banyak melakukan kesalahan, tapi Anda tetap memaafkan kami” Ujar Zhi pada Pak Arsel.
“Melihat kalian tumbuh setiap harinya, membuatku merasa tengah membesarkan anak. Meskipun sudah bisa memilih jalan sendiri, tapi aku akan senang jika kalian masih meminta pendapatku”
Pak Arsel mengusap punggung para member secara bergantian.
“Sebenarnya, aku tidak suka momen seperti ini. Tapi, terima kasih karena kalian masih bersama sampai saat ini” Pak Sugara juga ikut bergabung bersama Pak Arsel dan para member.
“Sepertinya, aku datang di saat yang tidak tepat. Tapi, kalian harus kembali ke panggung sekarang” Seruan Pak Alan membuat mereka menoleh bersamaan.
“Ayo, kalian harus cepat kembali”
Pak Sugara memberi komando.
“Kau istirahat saja, tenangkan pikiranmu” Titah Pak Arsel pada Khai.
“Iya. Ini hanya sesi tanya jawab, kau tidak harus ikut. Mereka yang akan menjelaskan pada ‘My Spring’”
Pak Sugara ikut memberi usul, dan member lain menyetujui.
“Aku akan ikut bersama kalian” Jawab Khai.
“Kakak yakin?” Tanya Chan.
Khai menganggukan kepala, lalu berkata “Mungkin, ini akan jadi hari terakhirku menyapa ‘My Spring’ di atas panggung”
“Jangan bicara omong kosong!”
Ez menatap lekat pada Khai.
“Baiklah, jika kau tetap ingin tampil. Lakukan sesuai keinginanmu”
Pak Arsel memberi semangat pada Khai dan member lain.
Khai yang hendak beranjak dari ruangan bersama member lain, membalikkan badan saat seseorang menahannya.
“Kakak tidak bisa keluar dengan tangan penuh luka seperti ini”
Ucapan Emira membuat member lain kompak melihat ke arah tangan Khai.
“Aku akan mengeobati luka kakak terlebih dulu. Tolong, kalian tunggulah sebentar”
Pinta Emira. Para member lantas bersiap sembari menunggu Khai.
Emira segera mengobati luka di tangan Khai setelah salah satu kru memberikan kotak P3K. Ia mengobati luka di tangan Khai dengan sangat hati-hati. Bahkan, tidak berhenti meniup luka itu saat tengah membersihkannya.
“Apa terasa perih?”
Emira memulai percakapan karena sejak tadi mereka hanya diam.
“Kakak harus ingat ini, kami tidak akan pernah meninggalkanmu”
Emira kembali bersuara, namun Khai tetap diam.
“Jika ingin menangis, lakukan saja. Aku akan bersikap seolah tidak pernah melihatnya” Emira terdiam, menunggu reaksi Khai. Karena tidak mendapat respon, ia kembali berkata, “Akan semakin sesak jika menahannya. Menangislah, aku akan menemani kakak”
Khai yang sejak tadi menahan diri, kini benar-benar menangis. Emira menepuk pelan pundak Khai, mencoba untuk menenangkan. Hatinya ikut terluka melihat member tertua SUN sangat putus asa saat ini.
Dengan gerakan cepat, Khai menarik tangan Emira yang ada di pundaknya. Ia memeluk dan menangis di pundak Emira. Mata Emira membola karena terkejut dengan tindakan Khai. Emira menggerakan badan, karena ini pertama kalinya ia dipeluk oleh seseorang.
“Sebentar saja. Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini. Ku mohon” Ucap Khai dengan lirih, sedang Emira hanya diam tak bergeming.
‘Hati menyebalkan, kenapa malah berdetak kencang di saat seperti ini?!. Ku mohon, bekerjalah seperti biasanya. Ini bukan saatnya kalian berisik’ Batin Emira memberontak.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻