
Emira memeriksa ponselnya, sepertinya ia terlalu lama melamun hingga tak sadar jika ponselnya berdering sejak tadi.
“Kenapa lama sekali, Em?” Teriak seseorang yang kini tengah meneleponnya.
“Maaf, aku tidak tahu ada yang menelepon”
“Apa berita yang sedang beredar itu benar?. Kau benar menjadi asisten SUN?” Tanya si penelepon yang tak lain adalah teman Emira saat masih bekerja menjadi pemandu wisata.
“Iy...iya”
“Sejak kapan?. Kenapa kau tak pernah cerita?”
“Kau seharusnya menanyakan kabarku, bukan malah menanyakan pekerjaan” Protes Emira.
“Aku tidak ingin basa-basi, kau juga pasti baik-baik saja. Sekarang, cepat jelaskan mengenai berita yang saat ini tengah beredar!”
“Sebenarnya, berita apa yang kau maksud?” Emira masih bingung dengan pernyataan temannya.
“Apa kau masih belum tahu?”
“Aku belum melihat berita pagi ini”
“Ini” Teman Emira mengirimkan artikel yang saat ini sedang menjadi trending.
“Apa ini???. Bagaimana bisa, ada berita seperti ini?” Emira tercengang melihat banyak berita mengenai dirinya. Asisten posesif SUN, asisten cari perhatian, SUN dan asisten, dan masih banyak lagi berita negatif lainnya.
“Berita itu bohong, bukan?” Teman Emira meyakinkan.
“Tentu saja. Aku sedang ada pekerjaan, nanti akan ku telepon lagi” Emira mengakhiri panggilan telepon karena tidak ingin membahas berita mengenai dirinya.
Emira kembali melihat para member yang tengah berlatih untuk acara penghargaan musik yang akan diselenggarankan besok. Namun tatapannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana.
‘Aku tidak menyangka akan dibenci banyak orang seperti ini. Rupanya, mereka sangat berpengaruh’ Monolog Emira.
“Apa kau masih memikirkan berita-berita itu?” Suara Pak Arsel mengalihkan perhatian Emira.
“Kenapa mereka tega membuat berita yang tidak benar?” Tanya Emira dengan polosnya.
“Hal seperti itu sudah biasa, kau tidak perlu memikirkannya!”
Emira hanya diam, tak berkomentar atas pernyataan Pak Arsel.
“Berita seperti itu akan hilang dengan sendirinya, kau harus mulai terbiasa. Kita harus punya mental baja untuk bertahan di dunia ini. Kau anak yang kuat dan pemberani, hal seperti ini tentu tidak akan membuatmu menyerah, bukan?” Pak Arsel mencoba meyakinkan Emira.
“Anda benar. Karena sudah sejauh ini, maka saya tidak akan goyah” Jawab Emira dengan penuh keyakinan.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Zhi yang kini tengah duduk dengan merentangkan kaki, terlihat sangat kelelahan.
“Ini” Emira memberikan air mineral dan handuk untuk menyeka keringat.
“Terima kasih” Zhi menenggak habis air mineralnya.
Tak lama kemudian, para member lain juga ikut bergabung. Mereka kelelahan karena berlatih sejak pagi.
“Setelah ini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat” Ujar Pak Arsel pada Emira.
“Ke mana?”
“Aku ingin membelikanmu sesuatu”
“Apa untukku tidak ada?” Tanya Chan pada Pak Arsel.
“Kau sudah kaya, sudah tidak layak lagi meminta sesuatu dariku” Pernyataan Pak Arsel membuat Chan dan member lainnya tertawa.
“Mengenai berita tadi, timku akan segera menghapusnya. Dan satu lagi, nomor ponselmu harus diganti, karena bisa saja teman-temanmu menyebarkannya pada media atau 'My Spring' ” Terang Pak Arsel dan Emira menyetujuinya. Apa lagi saat ini, temannya sudah tahu bahwa ia menjadi asisten SUN.
“Kau tidak perlu memikirkan berita itu, dunia hiburan memang kejam” Zhi tersenyum getir.
Di antara member lain, Zhi yang paling muda saat bergabung dengan SUN. Ia sudah banyak merasakan kejamnya dunia yang telah membesarkan namanya sejak usia remaja.
“Aku tidak mengerti pada media yang hanya mementingkan keuntungan tanpa memikirkan perasaan orang yang diberitakan. Apakah mereka tercipta tanpa hati atau otak?. Atau malah tanpa keduanya” Ucapan Ez sangat tajam, membuat Emira terkejut. Namun, apa yang ia katakan ada benarnya.
“Terkadang, otak dan hati tidak selalu ada dalam diri manusia” Gumam Khai yang kini menjadikan kedua tanganya sebagai bantal dan perlahan mulai memejamkan mata.
“Pilih saja yang kau suka” Titah pak Arsel, setelah mereka masuk ke salah satu butik.
Ini pertama kalinya Emira datang ke butik yang sangat mewah. Ia sampai bingung harus membeli apa.
‘Mahal sekali’ Emira kembali meletakkan gaun yang tadi dipegangnya.
‘Aku tidak bisa membeli barang-barang yang ada di sini, semuanya mahal. Bahkan, gajiku sebulan hanya mampu untuk membeli satu gaun saja.’ Monolog Emira.
“Apa kau sudah menemukan gaun yang kau suka?” Tanya pak Arsel.
“Sepertinya, tidak ada yang cocok untuk saya. Sebaiknya, kita pulang saja”
“Apa yang kau bicarakan?. Kau harus membeli sesuatu!” Titah Pak Arsel.
“Ta...tapi harganya sangat mahal” Emira menundukkan kepala, tak mampu menatap Pak Arsel yang bersiap akan mengomelinya.
“Besok kau akan bertemu banyak artis ternama, tentu aku tidak akan membiarkanmu tampil seperti biasanya. SUN akan menjadi icon di acara itu, dan kau tentu akan ikut tersorot kamera. Aku harus membuatmu tampil maksimal.”
“Anda sudah sangat sering membantu, saya tidak bisa lagi menerima ini semua” Emira merasa tidak enak jika Pak Arsel membelikannya barang yang mahal.
“Berapa kali ku katakan, aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri. Jangan pikirkan harganya” Terang Pak Arsel, lalu meminta bantuan salah satu karyawan untuk membantu Emira memilih gaun, sepatu, dan juga tas, karena Emira terlihat bingung.
“Ayo, kita makan sebelum pulang. Aku sudah lapar” Ajak Pak Arsel setelah Emira mendapatkan barangnya, lalu ia berjalan mendahului Emira.
‘Padahal, aku lebih senang jika diberi uang dari pada barang-barang mahal ini. Tapi, ini barang-barang mewah pertama yang ku punya’ Emira menatap beberapa paper bag yang kini ada ditangannya, lalu berjalan cepat menyusul Pak Arsel.
.
.
“Kau mau makan apa?” Tanya Pak Arsel setelah mereka berada di kafe dengan nuansa klasik.
Dinding kafenya terlihat asli, masih menggunakan bata merah tanpa cat, kursi dan mejanya terbuat dari kayu yang dicat warna cokelat pekat, dan cukup banyak hiasan dinding yang bergambar makanan dan minumam tradisional dari berbagai daerah.
“Saya pesan nasi goreng dan air mineral saja” Putus Emira setelah melihat buku menu dan menyerahkannya pada pelayan yang sudah menunggu.
“Aku sudah menyiapkan make-up artist untukmu besok” Pak Arsel membuka obrolan sembari menunggu pesanan mereka datang.
“Anda tidak perlu sampai melakukan itu. Saya bisa melakukannya sendiri, meskipun tidak terlalu mahir” Emira nampak malu mengakui bahwa ia memang tidak bisa merias wajah dengan ahli, tapi perlakuan Pak Arsel membuatnya semakin tidak enak hati.
“Jika menolak, kau harus mengganti rugi karena aku sudah membayar sewanya” Ancam Pak Arsel.
“Apa kau tahu berapa harga sewanya?”
Emira menggelengkan kepala menjawabi pertanyaan Pak Arsel.
“Seperempat dari gajimu” Bisik Pak Arsel.
“Hah...semahal itu?”
“Iya. Kau tentu tidak mau membayar ganti ruginya, bukan?” Pak Arsel membuat Emira tak bisa menolak kemauannya.
“Kau harus tampail maksimal besok!” Tegas Pak Arsel.
“Sebenarnya, acara seperti apa yang akan saya datangi sampai Anda seperti ini?”
“Kau lihat saja besok. Yang pasti, aku tidak ingin ada orang yang menyepelekanmu.”
“Terima kasih, Anda selalu membantu saya”
“Jangan berterima kasih terus, aku tidak melakukan hal besar”
‘Justru, aku yang berterima kasih karena kau telah hadir di hidupku. Aku merasa menemukan kembali putri kecilku’ Gumam Pak Arsel pelan tanpa terdengar oleh Emira. Matanya mengembun mengingat kejadian dimasa lalu.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah 😁🙏🏻
Terima kasih😘🤗🙏🏻