SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 22



Satu bulan lagi SUN akan mengadakan konser. Hal ini membuat para member harus berlatih lebih giat dari hari-hari biasanya. Konser ini juga sebagai bentuk peresmian lagu baru SUN yang dipersembahan untuk ‘My Spring’. Zhi dan Chan berolahraga sebelum latihan, karena mereka akan sedikit membuat pertunjukan tambahan saat konser. Sehingga harus menjaga stamina serta pola makan. Sementara, member lain telah lebih dulu berlatih vokal.


“Ayolah, kau kan asisten kami” Zhi merayu Emira agar ikut berolahraga.


“Kau juga perlu olahraga agar tetap sehat” Chan juga ikut membujuk Emira.


“Kenapa harus olahraga di luar?. Bukankah, di sini ada ruangan olahraga?” Tanya Emira yang sebenarnya enggan mengikuti kemauan keduanya.


“Agar kita punya alasan untuk keluar. Kami sangat bosan olahraga di sini” Ucap Zhi.


“Apa kau tidak kasihan pada kami?”


“Kalian selalu saja memaksa. Aku bahkan tidak suka olahraga!” Meskipun sedikit protes, Emira tetap menemani Zhi dan Chan lari pagi.


Mereka berlari di sekitaran SUN house, karena hanya memiliki waktu berolahraga selama tiga puluh menit. Zhi dan Chan sangat bersemangat, sementara Emira berjalan dengan santai karena sulit menyamai langkah keduanya.


“Kau lambat sekali, Em” Zhi menarik tangan Emira agar ikut berlari.


“Aku sudah lelah” Jawab Emira sambil berulang kali menarik napas.


“Kau hanya berjalan santai sejak tadi” Sindir Chan.


“Aku sudah sekurus ini, tega sekali kalian memaksaku berlari!” Gerutu Emira.


“Bagaimana, jika kita mencari sarapan saja?” Usul Zhi.


“Ayo!” Chan menyetujui.


“Kita bahkan baru berlari sepuluh menit yang lalu. Tapi jika kalian memaksa, aku tidak bisa menolaknya” Emira tersenyum lebar bak iklan pasta gigi.


Mereka berjalan sedikit lebih jauh dari SUN house untuk memcari sarapan. Lalu, memutuskan makan di kafetaria terdekat. Zhi memesan nasi goreng daging, Chan memilih menu nasi tumis daging dan sup taoge, sedang Emira memesan mie kuah.


“Kalian ingin menjaga stamina, tapi langsung makan seperti ini setelah sepuluh menit berolahraga” Emira menunjuk menu yang sudah tersusun rapi di atas meja kayu berbentuk lingkaran.


“Kami harus punya banyak tenaga untuk olahraga!” Elak Zhi.


“Kami bisa pingsan jika berolahraga tanpa persiapan. Kau tidak mungkin bisa menggendong kami sampai ke SUN house, bukan?” Tanya Chan.


“Entahlah. Terserah kalian saja” Emira merasa percuma mendebat kedua orang yang tidak akan mau kalah darinya.


“Kenapa kakak menambahkan bubuk cabai?” Tanya Zhi saat melihat Chan memasukkan bubuk cabai pada sup taoge.


“Memangnya kenapa?”


“Aku tidak bisa memakannya!”


“Itu urusanmu. Aku juga tidak akan memberimu”


“Tapi, aku ingin mencobanya”


“Bisakah kalian tenang saat sedang makan?” Emira merasa frustrasi menghadapi kedua orang yang duduk di depannya saat ini.


Emira seperti mengingat sesuatu, lalu bertanya pada Zhi dan Chan, "Apa kalian membawa uang?”


“Uang?” Zhi dan Chan kompak bertanya.


“Akh...aku pasti sedang tidak sehat, hingga percaya begitu saja pada kalian” Emira membenturkan kepala di meja dengan pelan.


“Aku pikir, kau membawanya” Ucap Zhi.


“Kalian mengajak keluar dengan buru-buru, mana sempat aku membawa uang!” Ujar Emira dengan kesal.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Chan.


“Kita tidak mungkin mencuci piring karena tidak bisa membayar, kan?” Emira sedikit berbisik karena tengah diperhatikan oleh salah satu pelayan kafetaria tersebut.


“Kami tentu tidak, tapi...” Zhi melirik pada Emira.


“Apa yang kau pikirkan?. Mana mungkin asisten boy group terkenal mencuci piring di kafetaria. Apa kalian tidak malu?” Protes Emira.


Zhi tertawa puas saat melihat wajah Emira memerah karena kesal. “Aku hanya bercanda. Kita telepon kak Dza saja, minta dia menjemput dan membawakan uang” Zhi mengambil ponsel yang ada di saku celananya.


“Akh...aku salah membawa ponsel” Ucap Zhi.


“Apa maksudnya?”


“Di sini tidak ada nomor telepon para member” Zhi menunjukkan menu kontak yang ada di ponselnya.


Emira menatap Zhi dengan heran, “Bagaimana bisa kau tidak menyimpan nomor mereka?” Tanyanya.


“Kau bahkan tidak menyimpan nomorku. Keterlaluan sekali!” Protes Chan.


“Bukan begitu. Aku baru membelinya seminggu yang lalu, belum sempat memindahkan nomor kalian” Elak Zhi.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” Emira kembali bertanya.


“Bayar pakai ini saja” Zhi melepaskan topi berwarna hitam yang tengah di pakainya.


“Jangan bercanda!. Harga topi itu bisa sepuluh kali lipat dari makanan ini” Sergah Emira yang menyadari bahwa topi itu merupakan keluaran salah satu brand ternama.


“Kau benar-benar mau mencuci piring di sini?” Chan ikut berkomentar.


“Tidak, tapi...sayang sekali jika harus dibayar dengan topi itu”


“Yang harus kau pikirkan adalah nasib kita, bukan topi ini” Ucap Zhi.


“Apa sebaiknya, kita bernegosiasi saja dengan pemilik kafetaria” Emira memberikan usul.


Zhi dan Chan saling pandang, mencoba mencari tahu dengan apa yang tengah direncanakan Emira.


“Mungkin saja pemilik kafetaria ini adalah ‘My Spring’. Kalian bisa memberinya tanda tangan dan foto bersama, bukan?”


“Kau mau membuat harga diri kami terluka?” Chan menolak usulan Emira.


“Aku akan membayar dengan topi ini. Kalian tunggu saja di sini” Zhi melenggang menuju meja kasir.


“Dia benar-benar gila!” Emira kehabisan kata-kata melihat tingkah Zhi.


“Kau tenang saja. Ini hanya masalah kecil” Sama seperti Zhi, Chan juga terlihat sangat santai.


Beberapa saat kemudian, Zhi kembali dengan membawa bingkisan di tangannya.


“Ayo, kita pulang” Zhi berjalan mendahului Chan dan Emira.


Emira berjalan dengan pelan, ia masih memikirkan nasib topi yang malang.


“Kenapa lambat sekali?. Apa kau masih lapar?” Zhi membalikkan badan, menarik tangan Emira agar berjalan beriringan.


“Bagaimana bisa, kau memberikan topi itu begitu saja?”


“Kau masih memikirkannya?” Tanya Chan.


“Eum, harga topi itu sepuluh kali lipat dari makanan yang kita pesan” Meski bukan miliknya, tapi Emira merasa rugi.


“Kau jangan khawatir. Aku bisa membelinya lagi dengan uang kak Khai” Zhi berkata dengan entengnya.


“Hah?. Maksdunya?” Tanya Emira bingung.


“Kak Khai sangat kaya, dia tidak akan tahu jika aku memakai uangnya untuk membeli topi baru” Jawab Zhi.


“Benar. Sekalipun ketahuan, dia tidak akan perduli”


Zhi menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Chan.


“Kalian juga sudah kaya!. Kenapa tidak memakai uang sendiri saja?” Tanya Emira.


“Untuk apa punya kakak kaya raya, jika masih mengeluarkan uang sendiri?. Lebih baik menggunakan uang kak Khai, aku juga jadi bisa berhemat” Zhi berkata seolah sedang tidak mempunyai beban apa pun.


“Kau bukan berhemat, tapi pelit!” Bukannya marah dengan olokan Emira, Zhi dan Chan justru tertawa puas.


***SUN House***


“Kalian dari mana saja?” Tanya Dza yang telah menunggu di studio.


“Kami membelikan kalian ini” Zhi menunjukkan bingkisan yang dibawanya.


“Kami menerimanya, tapi kalian tetap dihukum karena sudah terlambat tiga puluh menit!” Khai mengambil bingkisan yang ada di tangan Zhi.


“Akh...dia benar-benar disiplin sekali” Zhi mengekori Khai yang berjalan di depannya.


Selama berlatih, Dza terus mengomel karena rekannya kerap salah dalam koreografi. Ia tak segan menegur member yang melakukan kesalahan, sekalipun itu member tertua. Dza sangat disiplin untuk masalah koreografi, hal itu dikarenakan ia adalah penanggung jawabnya. Jika ada kesalah saat konser, maka ia orang pertama yang akan ditegur oleh Pak Sugara. Walaupun mempunyai image yang ceria dan ramah, tapi jika sedang latihan, ia akan berubah tiga ratus enam puluh derajat. Sangat disiplin dan menakutkan jika marah, bahkan para member tidak berani menatapnya saat sedang latihan. Ketika konser, ia akan mengawasi dan mengingatkan member lain jika lupa koreografi. Meskipun begitu, para member memahi tujuan baiknya. Mereka saling menghargai peran masing-masing demi kesuksesan SUN dan agar tidak membuat kecewa ‘My Spring’.


...***...


Konsep hidup ZhiChan :


Milik kakak \= Milik Adik


Milik Adik \= Milik Adik


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻