
Di kamarnya, Zhi masih terjaga. Meski sudah berusaha untuk memejamkan mata, namun pikirannya masih terpusat pada percakapan Ez dan seseorang yang tidak ketahuinya. Karena tak ingin terus penasaran, ia memutuskan untuk mengajak Chan menemui Ez yang masih berada di studio.
“Kenapa ke sini?” Tanya Ez saat melihat Zhi dan Chan ada di ambang pintu.
“Ada yang ingin kami tanyakan” Jawab Zhi.
Melihat raut wajah serius Zhi dan Chan, membuat Ez menghentikan aktifitasnya dan memperhatikan dengan lekat kedua adiknya.
“Apa yang ingin kalian tanyakan?” Tanya Ez lagi.
“Apa yang kakak katakan di telepon tadi benar?”
Ez terlihat bingung dengan pertanyaan Chan, sehingga membuat Zhi kembali bersuara, “Mengenai ibu kak Khai?”
“Jadi kalian tadi menguping?” Tanya Ez.
“Kami tidak sengaja mendengarnya, bukan bermaksud menguping” Tutur Chan.
“Kami juga ingin mendengarnya”
Dza muncul dari balik pintu bersama dengan Zal.
Ez, Chan, dan Zhi kompak menoleh ke arah sumber suara.
“Kenapa kalian tahu kami ada di sini?” Tanya Chan pada kedua kakaknya.
“Kami mengawasi kalian karena tingkah kalian yang mencurigakan” Jawab Zal, lalu duduk di kursi yang mempunyai lima roda.
“Akh!. Padahal aku tidak ingin memberitahu kalian sebelum memastikannya dengan benar” Ez mengusap wajahnya dengan kasar.
“Apa kakak tahu sesuatu tentang ibu kak Khai?”
Dza dan ketiga member lain nampak penasaran dengan jawaban Ez.
“Dugaan sementara...” Ez menjeda kalimatnya, menghembuskan napas sebelum kembali berkata, “Khai tidak akan pernah bertemu ibunya lagi” Ucap Ez lirih.
“Itu berarti...ibu kak Khai sudah...” Chan tak mampu melanjutkan ucapannya, matanya mengembun saat Ez menganggukkan kepala membenarkan perkataannya.
“Kenapa kakak bercanda seperti ini?!. Ini sama sekali tidak lucu!”
Zhi memukul meja yang ada di depannya dengan keras, mencoba meluapkan emosinya.
“Meskipun buktinya sangat kuat, tapi aku ingin membuktikan sendiri. Itu sebabnya, aku belum memberitahu kalian” Terang Ez.
“Apa yang akan terjadi pada kak Khai, jika dia tahu hal ini?!”
Zal mengepalkan tangan menahan emosi.
“Jangan bicara apa pun pada Khai sampai kita bisa membuktikan sendiri. Besok, aku akan mencari kebenarannya”
Ez menatap pada keempat member yang kini terdiam dengan tatapan kosong.
“Aku ikut” Zal menimpali.
“Aku juga” Ucap Chan.
Sebenarnya Ez ingin melarang, namun rasanya percuma. Kedua member itu tidak akan mendengarkan perkataannya di saat seperti ini. Pikiran mereka tengah kacau, mereka mengerti akan perjuangan Khai mencari ibunya. Khai tidak mempunyai banyak kenangan bersama ibunya, satu-satunya hal yang paling dia inginkan hanyalah bisa bertemu kembali dengan ibunya. Namun, hal itu sudah tidak mungkin akan terjadi. Orang yang dicarinya, sudah tidak ada lagi di dunia ini. Entah kehancuran seperti apa lagi yang akan Khai rasakan.
***
Sejak pagi para member sudah berkumpul di ruang latihan, mereka tengah berlatih koreografi untuk mempersiapkan konser yang akan berlangsung satu minggu lagi.
“Setelah latihan, apa kalian mau menonton film?” Tanya Khai pada kelima member saat sedang beristirahat.
“Aku sudah ada janji dengan temanku. Maaf, aku tidak bisa ikut” Ucap Ez.
“Kakak berkata seolah-olah kami bukanlah temanmu!” Seru Dza.
“Benar, apa kami hanya orang asing?” Protes Zhi.
“Iya, kalian adalah musuhku” Jawab Ez dengan santai. Hal itu membuat Khai melayangkan pukulan pada bahunya, namun Ez tidak membalas dan hanya tersenyum.
“Aku juga tidak bisa ikut” Ucap Chan dan Zal bersamaan.
“Kalian mau pergi bersama?. Kemana?” Tanya Khai.
“Kami...” Chan terdiam sejenak, mencoba mencari alasan agar tidak membuat Khai curiga.
“Kami akan membeli hadiah untuk adik Chan yang berulang tahun” Jawab Zal asal, ia menendang pelan kaki Chan agar meresponnya.
“Ahh..iya, aku meminta bantuan kak Zal untuk mencari kado”
“Kalau begitu, aku akan berkunjung ke rumahmu. Aku juga ingin memberi adikmu kado”
Mata Chan membola mendengar perkataan Khai, “Jangan!!!” Chan segera meralat ucapannya saat melihat Khai terkejut, “Adikku sedang menginap di rumah temannya, mungkin lusa baru pulang. Dan juga, kakak tidak perlu repot-repot membelikan kado. Jika kakak memberinya kado, maka tahun depan dia akan memintanya lagi”
Khai berdecak, “Adikmu sudah seperti adikku juga, aku tidak keberatan jika harus memberinya kado setiap tahun” Ujarnya.
“Baiklah. Kalian bagaimana?” Khai bertanya pada Zhi dan Dza.
“Aku tidak ada kegiatan” Jawab Zhi sambil memakan roti panggang berselai kacang kesukaannya.
“Aku juga tidak ada kegiatan. Sepertinya ada film yang sangat ingin kakak tonton” Ujar Dza.
“Iya, aku ingin menonton film ‘My Mother’. Sebenarnya itu film yang menyedihkan, tapi aku ingin menontonnya” Jawab Khai.
Para member terdiam mendengar ucapan Khai. Meskipun bukti sudah membenarkan akan kondisi ibunya Khai, namun mereka berharap ada sedikit keajaiban.
.
.
.
Seperti yang sudah mereka rencanakan, Khai, Zhi, dan Dza pergi menonton film, sedangkan Ez, Zal, dan Chan berkunjung ke rumah salah satu kerabat Khai yang berada di luar kota.
Butuh waktu hampir lima jam untuk mereka tiba di salah satu desa yang lumayan terpencil. Desa itu juga merupakan tanah kelahiran ibunya Khai.
“Apa kak Khai tidak pernah mencari ibunya di sini?” Tanya Chan saat mereka tiba di desa tersebut.
“Dia pernah ke sini, tapi tidak menemukan petunjuk apa pun. Sejak saat itu, dia jadi tidak pernah ke sini lagi” Terang Ez.
Langkah mereka terhenti di salah satu rumah dengan pekarangan yang luas dan banyak di tumbuhi pepohonan.
“Kalian siapa?” Tanya seorang lelaki paruh baya.
“Maaf, jika kedatangan kami tiba-tiba” Ucap Ez, lalu memperkenalkan diri pada lelaki paruh baya itu, hal yang sama juga dilakukan oleh Chan dan Zal.
Lelaki paruh baya itu mempersilakan ketiganya untuk masuk ke rumah sembari bercerita. Setelah mengetahui tujuan kedatangan mereka, lelaki paruh baya itu mengajak ke halaman belakang rumah tersebut. Langkah mereka terhenti di taman bunga yang tengah bermekaran. Setelah melewati taman itu, mereka kembali terhenti di sebuah makam.
“Ini adalah makam beliau” Ucap lelaki paruh baya yang bernama Pak Salman. Beliau dan istrinya yang menjaga ibunya Khai satu tahun terakhir .
Ez, Zal, dan Chan terdiam, tak mampu berkata-kata saat melihat dengan nyata makam ibunya Khai.
“Beliau meninggal satu bulan yang lalu, kenapa tidak ada yang memberitahu Khai?” Tanya Ez.
“Kami ingin memberitahu tuan muda, tapi tuan Madava melarangnya. Beliau sendiri yang akan memberitahu tuan muda, itu yang beliau katakan pada kami” Terang Pak Salman.
“Jadi ayahnya Khai tahu kepergian beliau?” Tanya Zal.
“Iya, bahkan tuan Madava hadir saat pemakaman” Terang Pak Salman.
Ez, Zal, dan Chan tertegun mendengar penuturan lelaki paruh baya itu, mereka tidak mengerti kenapa ayahnya Khai malah tidak memberitahukan hal sepenting ini.
Pak Salman terdiam sejenak, lalu menjelaskan “Ibu sakit sudah sejak lama, setiap hari beliau selalu menyebut nama Khair Daniel Madava. Saya ingin menghubungi tuan muda, tapi saya tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Saya tidak tahu jika tuan muda seorang artis, lalu ketika saya tahu dan ingin menemui tuan muda, ibu melarang dengan alasan tidak ingin menjadi beban dan juga tidak ingin kemunculannya akan berpengaruh pada karir tuan muda. Beliau merasa cukup dengan melihat tuan muda tumbuh dengan baik dan sukses"
“Apa pak Madava sering berkunjung?” Tanya Chan.
“Beliau mulai berkunjung satu tahun terakhir”
“Itu berarti, selama ini pak Madava tahu keberadaan ibu?” Chan kembali bertanya.
“Iya”
“Kenapa keluarga beliau tidak ada yang memberitahu soal ini pada Khai?” Tanya Zal.
“Ibu adalah anak tunggal. Semenjak orang tuanya meninggal, beliau hidup sebatang kara”
Ez menghembuskan napas berat, tak habis pikir dengan kerumitan keluarga Khai. Ketiganya segera berpamitan pada Pak Salman dan kembali ke kota.
.
.
.
“Aku masih tidak mengerti. Jika pak Madava masih sering berkunjung, bukankah itu berarti beliau masih menyayangi istrinya?” Tanya Chan, “Maksudku, mantan istrinya” Ia kemudian meralat ucapannya.
“Benar juga, tapi kenapa mereka berpisah?” Zal ikut menimpali.
“Saat kami masih menjadi teman sekamar, Khai pernah bercerita mengenai alasan orang tuanya berpisah. Ayahnya sangat ambisius dan gila bekerja, sehingga tidak pernah punya waktu untuk keluarga. Karena kesibukan itu, ayahnya menjadi sering marah pada ibunya. Bahkan, tak jarang ayahnya melakukan kekerasan. Saat itu Khai masih terlalu kecil untuk ikut campur, dia hanya bisa menangis setiap melihat orang tuanya bertengkar. Sampai akhirnya, ibunya tidak tahan dan meninggalkan ayahnya. Khai terbiasa hidup mewah sejak kecil, ibunya khawatir jika mengajak Khai pergi pada saat itu, beliau tidak bisa memberikan kehidupan yang layak. Akhirnya, beliau memutuskan untuk meninggalkan Khai dan berjanji akan menjemputnya jika sudah memiliki pekerjaan yang baik. Khai terus menunggu janji itu, tapi ibunya tidak pernah kembali” Mata Ez berkaca-kaca saat menceritakan hal yang pernah Khai ceritakan padanya. Sedangkan Zal dan Chan hanya terdiam, seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻
Follow ig author yuk temen-temen @Tayana_uri