
***
Setelah tiba di rumah, para member langsung beristirahat karena kelelahan akibat memandikan dan mengejar kerbau. Mereka membaringkan diri di lantai yang hanya beralaskan tikar dari ayaman bambu. Rumah yang mereka sewa tidak begitu luas dan sangat sederhana, dindingnya hanya menggunakan batu bata dan di cat seadanya. Namun, sangat nyaman dan sejuk karena pekarangannya banyak ditumbuhi pepohonan.
“Akh...tulangku seperti akan rontok karena mengejar kerbau tadi” Keluh Chan sambil mengurut kakinya.
“Aku juga” Jawab Zhi asal.
“Apanya yang aku juga?!. Kalian hanya berteriak tanpa membantu!” Protes Chan.
“Tenggorokan kami sakit karena berteriak untuk memberi kalian semangat. Bukan begitu, Em?”
“Eum...bahkan, suara kami jadi parau” Ucap Emira dengan suara yang dibuat seperti parau sungguhan.
Chan berdecak, “Pintar sekali kalian bersandiwara!” Ujarnya.
Zhi dan Emira malah tertawa karena berhasil membuat Chan kesal.
“Ayo, makan. Kak...kemarilah!”
Dza datang membawa makan malam.
Zhi yang semula antusias menjadi tak bersemangat setelah Dza membuka kotak makan yang dibawanya.
“Bagaimana bisa, orang yang punya sawah terluas di desa ini hanya menyediakan makan malam berupa nasi dan telur saja?” Protes Zhi.
“Benar. Setidaknya, beliau memberi kita ayam goreng” Chan juga ikut berkomentar.
“Beliau bilang punya sawah yang luas, bukannya ternak ayam. Kenapa kalian protes?” Tanya Ez.
“Sudahlah, makan saja apa yang ada” Ez kembali bersuara.
Karena tak ingin Ez mengomel, akhirnya Chan, Zal, Dza, dan Zhi memilih diam.
“Sejak dilahirkan, ini pertama kalinya aku makan hanya dengan nasi putih dan telur” Khai menggelengkan kepalanya, menatap menu makanan di depannya dengan heran.
Member lain ingin tertawa melihat ekspresi polos Khai, namun Ez segera memelototi mereka. Alhasil, mereka hanya bisa menahannya.
“Apa kita tidak membawa makanan?” Tanya Khai pada Emira.
“Tidak. Kita pergi secara tiba-tiba, aku jadi tidak sempat menyiapkannya” Jawab Emira pelan.
“Besok, Pak Tomo ingin mengajak kita memanen sayur di kebun beliau” Dza mengalihkan pembicaraan.
“Benarkah?. Apa kebun sayurannya seluas sawah yang tadi?” Tanya Zhi.
“Kenapa kau terus saja membahas sawahnya?” Tanya Chan yang sudah tak bisa lagi menahan tawanya.
“Sepertinya, semua tanah di desa ini milik beliau” Ucap Ez asal.
Para member serta Emira hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar pernyataan Ez. Member yang tidak banyak bicara, namun sekalinya bicara sulit untuk dikendalikan.
***Kebun***
Emira tak bisa menahan tawanya saat melihat para member mengenakan pakaian dari Pak Tomo. Meskipun terlihat aneh, namun para member tetap bersinar seperti saat berada di atas panggung.
“Berhentilah tertawa!” Protes Zhi.
“Maaf, tapi topi itu sangat cocok untukmu” Emira menunjuk topi dari anyaman bambu yang dikenakan Zhi.
“Maaf, jika saya membuat kalian tidak nyaman mengenakan pakaian ini” Sesal Pak Tomo.
“Tidak apa-apa. Saya terlahir dengan keren, jadi apa pun yang saya pakai tidak akan berpengaruh” Ucap Khai dengan percaya diri.
“Maafkan kakak saya” Zal tersenyum sungkan, sedang Pak Tomo malah tertawa mendengar perkataan Khai.
“Kalau begitu, ayo kita mulai memanen sayurnya. Kita hanya bisa memanen kacang-kacangan serta kubis saja, karena sayur lainnya masih terlalu muda untuk dipanen” Terang Pak Tomo.
“Di sebelah sana ada buah, apa kami boleh memetiknya juga?” Tanya Chan.
“Tentu saja. Ada buah strawberry, anggur, dan jeruk, rasanya sangat manis karena saya menggunakan bibit terbaik. Kalian bisa mengambilnya sebanyak mungkin, karena semua ini milik saya” Pak Tomo tersenyum sumringah saat menjelaskannya.
“Baiklah, kami tidak akan sungkan. Ayo, kita ke sana”
“Terima kasih” Ucap Emira pada Pak Tomo, lalu menyusul para member yang telah berjalan lebih dulu.
“Kemarin, mereka lebih memilih memandikan kerbau dari pada memanen padi. Sekarang, mereka lebih tertarik memetik buah dari pada memanen sayur. Hah...anak-anak memang suka bertindak semaunya” Gumam Pak Tomo.
Di kebun buah, para member membagi tugas untuk memetik buah. Zal dan Zhi bertugas memetik anggur, Dza dan Chan memetik jeruk, Khai dan Ez memetik strawberry, sedang Emira sibuk mengumpulkan buah hasil petikan para member.
“Ini untukmu”
Khai memberikan strawberry yang sudah matang pada Emira.
“Aku memberinya untuk dimakan, bukan disimpan” Seru Khai saat melihat Emira meletakkan strawberry ke dalam keranjang.
“Iya, aku tahu”
“Ini”
Ez juga memberi strawberry pada Emira.
“Jangan memberikannya pada orang lain, aku memetiknya untukmu” Ujar Ez.
Khai dan Ez saling tatap, menyadari akan suasana yang mulai berubah, Emira lantas bergeming, “Terima kasih. Kalian sangat baik...ayo, kita makan strawberry ini bersama-sama” Ujar Emira. Ia lantas memakan strawberry dari Khai dan Ez sekaligus, agar kedua member itu tidak berdebat.
‘Aku padahal tidak suka strawberry, tapi terpaksa memakannya karena kalian’ Gumam Emira pelan.
“Kau malah asyik di sini, dan tidak membantuku” Sergah Zhi. Ia dan Zal datang membawa sekeranjang penuh anggur. Tak lama setelah itu, Chan dan Dza menghampiri dengan membawa dua keranjang penuh jeruk.
“Wahhh...banyak sekali. Untuk apa memetik sebanyak ini?” Tanya Emira.
“Biarkan saja, kita bisa membawanya ke SUN house besok” Jawab Zhi dengan santai.
Emira dan member lain hanya menggelengkan kepala melihat tingkah member termuda SUN yang sangat antusias.
***Keesokan Hari***
Liburan singkat di desa telah selesai, kini saatnya mereka harus kembali ke rutinitas sebagai boy group. Meskipun sempat membuat kacau sawah serta kebunya, namun Pak Tomo tetap membawakan banyak oleh-oleh untuk para member juga Emira, mulai dari beras, sayuran, buah, dan telur ayam.
Setelah berpamitan, para member serta Emira memulai perjalanan. Walau hanya beberapa hari, tapi kenangan dan pengalaman yang mereka dapatkan tidaklah sedikit.
“Padahal hanya beberapa hari, tapi aku merasa sedih meninggalkan tempat ini” Ucap Zhi.
“Aku juga” Jawab Emira.
“Kalau begitu, kalian berdua tinggal saja di sini” Celoteh Chan. Sontak saja, ia langsung mendapat toyoran dari Zhi dan Emira.
“Ternyata, Pak Tomo juga memiliki ternak ayam” Ucapan Dza membuat member lain bingung.
“Beliau memberi kita telur ayam sebanyak enam box” Ucap Dza lagi.
“Sebanyak itu?” Chan meyakinkan.
“Iya” Dza menganggukkan kepala.
“Bukankah, kita bisa terkena bisul jika makan telur sebanyak itu” Perkataan spontan dari Ez membuat member lain tak bisa menahan tawanya.
"Beliau seharusnya memberi kita ayamnya juga, kenapa terus memberi telurnya saja?!" Protes Zhi.
"Benar. Tapi berkat beliau, aku jadi tahu rasanya makan nasi putih dan telur goreng saja" Ucap Khai dengan polosnya, dan para member kembali tertawa mendengarnya.
"Kita harus berterima kasih pada beliau, bukannya mengeluh terus" Ujar Emira, para member menganggukkan kepala, tak berani membantah ucapannya.
Perjalanan mereka berjalan dengan lancar. Di sepanjang jalan, mereka bernyanyi sambil bermain tebak-tebakan. Liburan singkat mereka di desa, berhasil membuat Khai ceria kembali dan member lain juga terlihat bahagia karena bisa menikmati liburan dengan tenang tanpa media, kamera, dan skrip. Bahkan, mereka benar-benar mematikan ponsel selama liburan.
Setelah mengisi energi sampai penuh, mereka berharap bisa bekerja dengan lebih baik lagi dan membuat ‘My Spring’ bangga.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻