
Pagi ini Emira menemani para member syuting program ‘Cerita SUN’. Acara ini membahas tentang kegiatan harian para member, mulai dari pagi hingga malam hari. Mungkin terlihat biasa saja bagi sebagian orang, namun tidak untuk 'My Spring' yang sangat penasaran dengan kegiatan idola mereka. Syuting kali ini hanya diadakan di aula, karena lusa mereka akan syuting di luar kota untuk program yang sama. Tentu saja, aula yang biasa menjadi tempat untuk berlatih telah disulap sedemikian rupa agar seperti tempat tinggal para member. Bahkan, properti yang digunakan juga sebagian diambil dari rumah utama.
‘Mereka tidak mengajakku bicara sejak kemarin, apa mereka masih kesal?. Tapi, apa salahku?. Memangnya, kenapa jika aku mengagumi SKY?’ Monolog Emira panjang lebar.
“Apa kau butuh sesuatu?” Tanya Emira saat Zhi berjalan ke arahnya. Namun, Zhi tak mengindahkannya dan hanya mengambil air mineral lalu kembali melanjutkan syuting.
‘Bahkan, Zhi yang biasanya sangat cerewet menjadi dingin seperti itu’ Gumam Emira pelan.
“Kak...” Emira tak melanjutkan kalimatnya, karena Chan dan Dza berlalu tanpa menoleh ke arahnya. Mereka hanya mengambil air mineral seperti Zhi, lalu kembali untuk syuting.
‘Apa yang harus aku lakukan?. Apa mereka marah sungguhan?!. Mereka membelaku saat di dunia fantasi, juga membantuku menghadapi Pak Sugara. Lalu hanya karena SKY, mereka mengabaikanku!. Akh, benar-benar membuat orang frustrasi saja!!!. Ternyata, aku lebih suka jika mereka mengomel dari pada diam seperti ini’ Emira menghentakkan kaki ke lantai dengan keras karena kesal.
“Kau kenapa?” Pak Arsel yang baru saja datang, ikut duduk di samping Emira.
“Sepertinya, saya sudah membuat mereka marah”
“Benarkah, kenapa?” Tanya Pak Arsel yang kini tengah memainkan ponselnya.
“Kemarin kami bertemu SKY di acara penghargaan musik”
“Lalu?” Pak Arsel masih memainkan ponselnya, namun tetap mendengarkan celotehan Emira.
“Saya ingin berfoto bersama SKY, tapi dilarang oleh Zhi. Lalu kak Chan bertanya, apa saya tahu SKY, tentu saja saya tahu. SKY sangat terkenal, bahkan saya mengagumi leadernya” Emira menceritakan semua kejadian yang membuat para member SUN mendiamkannya pada Pak Arsel.
“Kau benar berkata seperti itu?!”
“Iya...SKY memang terkenal” Jawab Emira lirih.
“Ya Tuhan. Apa kau selalu mengatakan semua yang ada di kepalamu?”
“Saya hanya berkata apa adanya. Apa itu salah?” Tanya Emira hati-hati.
“Huh...” Pak Arsel menghembuskan napas berat, lalu kembali bergeming “Jelas saja mereka kesal, apa kau tahu bahwa SUN dan SKY adalah rival?”
Emira menggelengkan kepala, “Tapi, kemarin mereka terlihat akrab saat bertemu” Jawabnya kemudian.
“Tentu saja. Secara pribadi mereka memang berteman, tapi secara karir mereka tetaplah rival” Terang Pak Arsel.
“Dunia hiburan tidak sebaik dan semudah yang kau lihat. Pagi ini teman, malam nanti bisa saja jadi lawan. Kau juga harus pandai bergaul, jangan mudah percaya pada orang lain. Yang bisa kau percaya hanya aku, SUN, Pak Sugara, dan Pak Alan. Kau mengerti?” Tanya Pak Arsel setelah memberi Emira nasehat.
“Iya. Tapi...kenapa Anda tidak menyebutkan Bu Tari?”
“Ya Tuhan...kenapa kau polos sekali, Em?. Tentu saja, kau juga harus percaya pada beliau!. Yang ku maksud, orang-orang yang bukan dari lingkungan kita”
“Baiklah. Lalu, apa yang harus saya lakukan agar mereka tidak marah lagi?”
“Minta maaf pada mereka”
“Apa mereka mau memaafkan saya begitu saja?”
“Tentu saja. Mereka tidak akan bisa marah sungguhan padamu”
“Kenapa?”
“Astaga...kepalaku jadi sakit” Pak Arsel mengurut kepalanya dengan pelan.
“Apa Anda baik-baik saja?” Tanya Emira dengan polos. Padahal, ia lah penyebab Pak Arsel mengurut kepalanya.
“Iya. Pokoknya, kau minta maaf saja pada mereka. Kau adalah asistennya, tidak mungkin mereka tidak memaafkan. Aku masih ada urusan lain, aku pergi dulu” Pak Arsel menepuk pelan bahu Emira, sebelum benar-benar pergi.
Setelah syuting selesai, Emira merapikan barang-barang milik para member, sedangkan mereka telah lebih dulu kembali ke rumah utama.
‘Akh...berat sekali!. Biasanya, aku hanya merapikannya saja. Mereka yang akan membawa ini’ Emira tertatih membawa enam tas milik para member. Tas itu tidak besar, karena hanya berisi barang-barang pribadi para member. Namun, tetap saja tas-tas itu mampu mempersulit tubuh kecil Emira untuk berjalan.
***
‘Apa mereka semua sudah tidur?’ Emira menoleh sekitar, berharap para member masih terjaga.
‘Bagus sekali, mereka sedang berkumpul. Ini kesempatanku untuk minta maaf’ Emira berjalan menuju ruang TV, tempat para member tengah berkumpul.
“Maaf” Ucap Emira, namun keenam member tidak memberikan respon.
“Aku minta maaf. Ayo, kita berbaikan” Mata Emira mengembun hampir menangis, karena tidak juga mendapat respon. Hal itu rupanya membuat Ez tak tega. Pada dasarnya, Ez tidak marah sama sekali, ia hanya mengikuti member lain yang ingin menjahili Emira dengan pura-pura marah.
“Kami sudah memaafkanmu” Ez tersenyum, melihat ekspresi Emira seperti anak kecil yang dilarang makan permen oleh ibunya.
“Benarkah?” Emira menoleh member lain yang masih diam.
“Dia sudah minta maaf, kenapa kalian tega sekali?!” Ez memukul Zhi, Chan, dan Dza yang mempunyai rencana untuk menjahili Emira.
“Baiklah. Kami akan memaafkanmu” Ucap Chan.
“Terima kasih. Apa kalian semarah itu padaku?” Tanya Emira.
“Aku tidak marah. Mereka bertiga yang merencanakan ini semua” Jawab Zal.
“Apa maksudnya?” Emira masih belum paham dengan pernyataan Zal.
“Kak...” Zhi memberi kode pada Zal agar tidak memberitahu Emira. Namun, Khai malah memberitahunya.
“Sebenarnya, ini rencana mereka”. Khai menunjuk pada Zhi, Chan, dan Dza. Lalu kembali bergeming, “Mereka sengaja mengerjaimu dengan pura-pura marah dan memaksa kami untuk ikut” Terang Khai.
Mendengar hal itu, Emira yang sejak tadi menahan agar tidak menangis akhirnya menangis juga.
“Kalian benar-benar jahat, aku bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan ini. Tapi, kalian malah mengerjaiku!”
“Kenapa kau malah menangis?” Zhi mendekati Emira.
“Kau tega sekali” Emira memukul Zhi yang kini duduk di sampingnya.
Chan dan Dza juga ikut mendekati Emira. Mereka merasa bersalah saat melihat Emira menangis sungguhan.
“Ini” Khai memberikan tissue pada Emira.
“Kenapa kau tidak sayang air matamu?. Lain kali, menangislah untuk hal yang berharga, bukan hal konyol seperti ini!” Ucapan Khai ternyata semakin membuat tangisan Emira menjadi.
“Kak...kau membuatnya semakin menangis!!!” Protes Zhi.
“Maaf, kami tidak akan membuat lelucon seperti ini lagi” Chan mencoba menenangkan Emira.
“Ayo, kita berteman lagi” Ajak Zhi.
Mereka kembali akur setelah saling meminta maaf. Bahkan, mereka kini tengah menikmati pizza yang Emira beli sebagai permintaan maaf.
“Apa tadi kau berniat menyuap kami dengan ini?” Dza mengangkat pizza yang ada di tangannya.
“Eum” Emira menganggukkan kepala menyetujui.
“Kau ingin membuat berat badan kami bertambah?” Tanya Zhi sambil memakan potongan pizza untuk yang kesekian kalinya.
“Itu tidak akan terjadi, setiap hari kalian berolahraga” Senyum Emira mengembang karena sudah berbaikan dengan para member. Bahkan, Bu Tari yang sejak tadi memperhatikan, ikut tersenyum melihat tingkah mereka.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih🤗😘🙏🏻