SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 28



Emira menyimpan kembali ponselnya setelah menyudahi percakapan dengan seseorang. Matanya mengembun. Beberapa detik kemudian, butiran bening mengalir begitu saja dari kedua sisi matanya.


“Apa terjadi sesuatu?”


Emira terkejut mendengar suara seseorang, ia segera menghapus air matanya.


“Tidak. Sejak kapan Anda di sini?” Tanya Emira pada Pak Arsel.


“Jangan berbohong. Apa keluargamu yang menelepon?” Pak Arsel menarik kursinya agar lebih dekat dengan Emira.


“Ada masalah apa?” Pak Arsel kembali bertanya, karena Emira belum juga menjawab.


Emira menghembuskan napas berkali-kali, mencoba mengatur emosinya. Setelah tenang, ia mulai menjelaskan pada Pak Arsel.


“Saya kira, semuanya sudah menjadi lebih baik. Tapi, ternyata belum ada yang berubah” Emira menjeda ucapannya, lalu kembali berkata, “Sampai kapan saya harus memikirkan dan bertanggung jawab atas hal yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawab saya?!”


Pak Arsel menepuk bahu Emira pelan, mencoba memberinya semangat. “Apa yang bisa aku bantu?” Tanyanya.


“Saya tidak ingin terus merepotkan Anda”


“Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu” Pak Arsel terdiam sejenak, lalu kembali bertanya, “Berapa uang yang kau butuhkan?”


Emira menggelengkan kepala, “Sebaiknya, Anda jangan membantu saya lagi”


“Kenapa kau masih sungkan begitu?”


Emira hanya diam, tak mengindahkan pertanyaan lelaki paruh baya di sampingnya.


Pak Arsel memeriksa gawainya sejenak, lalu berkata, “Aku masih ingin menemanimu, tapi aku harus pergi karena ada urusan lain. Aku akan membantumu, jadi jangan sungkan!” Ucap Pak Arsel sebelum pergi.


“Anda sudah mau pergi?” Tanya Zhi yang hendak menghampiri Pak Arsel dan Emira.


“Ya, ada urusan yang harus ku selesaikan. Tolong, jangan terlalu menyusahkannya hari ini. Suasana hatinya sedang tidak baik” Bisik Pak Arsel pada Zhi. Sementara Zhi hanya menganggukkan kepala sambil menatap Emira yang melamun.


Zhi menghampiri Emira, lalu duduk di sampingnya. “Setelah pemotretan selesai, apa kau mau menemaniku bermain kembang api?”


“Iya” Jawab Emira singkat.


“Aku mengambil kembang api saat acara kemarin” Bisik Zhi.


Emira mengerutkan kening, “Kau mengambilnya diam-diam?”


“Iya” Zhi tersenyum lebar bak iklan pasta gigi.


Emira berdecak, lalu tersenyum.


Sebenarnya, Zhi sengaja meminta kembang api pada staf karena saat pesta kembang api, ia melihat Emira sangat senang. Tak disangka, hal itu ternyata berguna di saat seperti ini.


“Kami mencarimu, ternyata kau sudah di sini” Seru Chan pada Zhi. Setelah menyadari sesuatu, ia kembali bergeming, “Kenapa wajahmu terlihat sembab?. Apa kau menangis?”


Para member menoleh bersamaan ke arah Emira.


“Ti...tidak. Tadi mataku terkena debu” Jawab Emira asal.


“Ayo, kita harus berganti pakaian” Khai mengalihkan pembicaraan. Ia tahu jika Emira nampak tidak nyaman dengan pertanyaan Chan.


Para member tengah bersiap, Zhi dan Chan sedang berganti pakaian. Zal, Dza, serta Ez sedang berurusan dengan bagian penata rambut. Sementara, Khai tengah merapikan dasi.


“Bisa membantuku?” Tanya Khai pada Emira.


“Iya, kenapa?”


“Pakaikan ini” Khai menunjuk dasi yang sudah melingkar di lehernya.


“Ak...aku yang memakaikan?” Tanya Emira kikuk.


Pasalnya, Khai mempunyai aturan sendiri. Meskipun semua keperluannya biasa disiapkan oleh staf, namun ia tidak suka jika orang lain yang memakaikan dasi untuknya.


“Kau pikir ada orang lain di sini?!”


Khai menatap dengan tajam, membuat Emira menelan salivanya, tak mampu menjawab.


Emira kebingungan karena tidak pernah memakaikan dasi untuk orang lain. Terlebih lagi, saat ini jaraknya dengan Khai terlalu dekat.


“Apa yang kau lakukan?. Kenapa diam saja?!”


“Kau terpesona dengan ketampananku?” Khai kembali bergeming.


Emira mengerutkan kening mendengar penuturan Khai, ‘Kenapa dia sangat percaya diri?. Padahal, aku sungguh tidak mengerti caraya mengikat dasi’ Batin Emira.


“Kau harus mengingat caranya. Lain kali, aku akan marah jika kau masih tidak bisa melakukannya!” Ucap Khai sambil mengenakan dasinya.


‘Dia mempunyai tangan yang sehat dan bisa memakainya sendiri, kenapa masih menyusahkanku?. Menyebalkan sekali!’ Gumam Emira sangat pelan.


“Kau dengar?” Tanya Khai karena tak mendapat jawaban dari Emira.


“Iy...iya, aku dengar”


Khai melenggang, meninggalkan Emira yang masih di tempatnya.


‘Apa-apaan ini?. Dia pergi begitu saja setelah membuat orang kesal. Bahkan, dia begitu santai. Apa dia orang yang tidak perduli dengan perasaan orang lain?’ Gerutu Emira sambil menatap Khai yang semakin menjauh.


“Akh” Emira menoleh saat seseorang menempelkan minuman kaleng yang terlihat menyegarkan.


Emira lantas membuka minuman dalam kemasan kaleng itu, lalu menenggaknya.


“Segar sekali. Terima kasih” Ucap Emira sambil tersenyum. Ez juga ikut tersenyum, lalu berjalan menuju studio foto untuk melakukan pemotretan.


Para member SUN sangat fotogenic. Sehingga tidak perlu waktu lama, mereka telah menyelesaikan pemotretan. Meskipun hanya pemotretan untuk satu buah iklan, namun mereka tiba di SUN house pada malam hari. Hal itu dikarenakan wawancara yang dilakukan secara mendadak oleh pihak iklan. Walaupun bisa saja menolak karena tidak sesuai dengan perjanjian, namun mereka tetap melakukannya. Kepopuleran yang sudah diraih saat ini, tidak membuat mereka menjadi sombong. Sikap rendah hati itulah yang membuat ‘My Spring’ semakin bertambah banyak.


***SUN House***


Dza menganggukkan kepala setelah Zhi membisikkan sesuatu.


“Aku akan menyiapkannya di taman belakang dan mengajak yang lainnya juga” Ucap Dza sebelum pergi.


“Baik. Aku akan segera menyusul” Zhi lantas mencari keberadaan Emira.


‘Apa dia sudah tidur?’ Gumam Zhi karena tidak menemukan Emira. Ia segera menuju kamar Emira untuk memastikannya. Lumayan lama ia mengetuk pintu kamar sampai akhirnya pintu itu terbuka.


“Bukankah kau mau menemaniku bermain kembang api, kenapa malah tidur secepat ini?”


Emira memukul keningnya pelan, “Aku lupa, maaf” Ujarnya.


“Ayo, kita ke taman. Yang lainnya sudah berkumpul sambil memanggang daging dan sosis”


.


.


.


Chan langsung memberikan sepiring sosis panggang ketika Emira sudah duduk dengan nyaman.


“Ini untuk Emira, kau panggang saja sendiri!”


Chan memukul tangan Zhi yang hendak mengambil sosis panggang dari piring berwarna putih dengan ukuran sedang.


“Aku hanya minta satu” Zhi melotot pada Chan.


“Kau berani melotot padaku?!”


“Sudah, jangan bertengkar. Kita makan bersama saja” Emira menengahi mereka.


“Sepertinya kami terlalu sibuk akhir-akhir ini, sampai tidak punya banyak waktu untuk bercerita” Zal menghentikan permainan gitarnya. Ia diam sejenak, lalu kembali berkata, “Kau tahu banyak tentang kami, tapi kami tidak pernah menanyakan apa pun tentangmu. Aku jadi merasa bersalah” Zal menatap Emira yang terlihat bingung.


“Padahal, kita sudah cukup lama tinggal bersama. Tapi, kami malah tidak memperhatikanmu. Selalu kau yang memperhatikan dan menjaga kami” Dza ikut bersuara.


“Apa yang kalian katakan?” Emira masih belum mengerti perkataan kedua member yang kini duduk bersebelahan.


“Kenapa kau tidak bercerita saat sedang ada masalah?. Apa kau tidak menganggap kami keluarga?” Tanya Zhi.


“Aku tidak tahu harus memulainya dari mana”


Emira menarik napas sejenak, lalu menghembuskannya dengan pelan, “Kalian juga sudah banyak menerima rasa sakit, aku tidak ingin menjadi beban”


“Kami tidak pernah menganggapmu sebagai beban. Cobalah, untuk terbuka dengan kami” Ucap Zhi lagi.


“Aku tumbuh dengan banyak trauma, berusaha keras mengubah diriku yang introvert menjadi extrovert. Hingga tak ada yang tahu, luka seperti apa yang ku rasakan. Aku hanya ingin hidup normal. Aku tak mau dianggap aneh. Meskipun sudah berusaha untuk melawan semua ketakutan, pada akhirnya aku tetap tidak berdaya”


Mata Emira mulai mengembun, butiran bening berjatuhan begitu saja dari kedua sudut matanya.


“Meskipun dunia membuatku sulit, aku tetap tidak akan menunjukkan air mataku. Meskipun aku takut menangis sendirian, tapi aku tetap melakukannya. Meskipun hatiku sakit, tapi bibirku tetap akan tersenyum. Aku selalu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan diriku sendiri” Emira menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Saat kecil, aku sering mendapat perlakuan yang tidak adil. Meski bukan dari orang tuaku, tapi hatiku yang lemah tetap terluka. Awalnya, aku tidak pernah perduli dengan perkataan orang lain yang sering membandingkanku dengan kakakku, tapi saat orang tuaku tidak membela dan memilih diam dengan komentar orang-orang, aku merasa terluka. Aku pikir, terlalu berlebihan menanggapi hal itu, makanya aku hanya diam. Dan ku kira seiring berjalannya waktu, aku akan terbiasa, tapi semakin tumbuh... semakin aku merasakan sakit yang sulit dijelaskan pada siapa pun. Ak...aku...” Emira terbata, tak mampu meneruskan kalimatnya.


Zhi mengusap pundak Emira, mencoba menenangkan.


“Aku berusaha menjadi anak yang berprestasi dan baik, agar mendapat perhatian serta menghentikan perkataan orang-orang yang sering membanding-bandingkanku. Namun, sekeras apa pun aku berusaha, tidak ada yang benar-benar melihat usahaku. Saat itu, aku masih mempunyai nenek yang sangat sayang dan selalu membelaku. Tapi ketika beliau meninggal, hatiku sangat hancur dan aku kembali merasa sendirian. Terkadang aku kesal, karena beliau pergi tanpa mengajakku”


Zhi memberikan tissue juga air putih hangat pada Emira. Setelah meminumnya, Emira kembali bercerita. “Ibu selalu memintaku mengalah pada kedua saudaraku, karena beliau tahu aku akan menurut. Aku ingin menjadi egois dengan menentang permintaannya. Namun, hatiku sakit ketika melakukan itu. Akhirnya, yang bisa ku lakukan hanyalah mengalah”


Para member terdiam mendengar cerita Emira. Perempuan yang selalu ceria dan terlihat kuat, ternyata mempunyai kesedihan yang ditutup dengan rapat. Emira yang tidak pernah mengeluh, ternyata bukan karena tidak memiliki tekanan. Tapi, tekanan yang ia rasakan sangat kuat, sehingga membuatnya sulit untuk mengungkapkannya pada orang lain.


“Aku hanya ingin mengatakan, aku ada di sini untukmu” – Zhi –


“Seperti angin yang akan berhembus dengan sendirinya, begitulah masalah. Jadi, jangan khawatir. Aku ada untukmu” – Chan –


“Matahari akan selalu memberikan sinarnya untuk sang bunga, karena tak ingin melihatnya layu. Meskipun aku bukanlah matahari, tapi aku akan melakukan hal yang sama sepertinya” – Dza –


“Selama masih bisa bernapas, selama itu juga masih bisa bahagia. Mari berjuang bersama untuk bahagia!” – Zal–


“Mungkin, aku tidak sepenuhnya mengerti kesedihanmu. Tapi, aku akan tetap di sini menemanimu” – Ez –


“Saat dunia terlihat tidak adil, ingatlah perkataanku ‘Semuanya akan baik-baik saja. Keterpurukan akan membuatmu semakin bersinar'. Aku ada di sampingmu” – Khai –


Tangis Emira semakin menjadi saat mendengar perkataan keenam member. Ia yang sebenarnya sangat takut menangis sendirian, namun selama ini tetap melakukannya karena tak ingin terlihat lemah. Kini, keenam orang yang tak pernah terpikir akan ditemuinya malah menjadi orang pertama yang menemaninya menangis. Begitulah takdir, sulit untuk ditebak.


...***...


I'll be on your side 💛


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻